BAB 14|| RASANYA SEPERTI..

6K 416 4
                                        


"Jangan biarin dia tau ini dari orang lain, aku pikir kamu ngerti apa yang aku maksud."

Setelah mengatakan itu, Wanda bangkit berdiri dengan anggun. Melenggang pergi keluar dari ruangan Arka.

Tiba diambang pintu, wanita itu berhenti dan berbalik. "Aku rasa walau menjadi kekasih kamu adalah sebuah pekerjaan, tapi aku tetep harus bilang ini. Kita putus." Lalu melanjutkan langkah nya meninggalkan Arka yang memutar manik abunya tak perduli.

Ruangan mewah itu sunyi sesaat, hanya ada suara deting dari jarum jam dinding yang bersuara.

🍂

"Huaaaa, mama! Papa, ma, papa."

Nara menghela nafas, memandang Aska tak berdaya. Dari tadi malam, bocah itu sudah rewel berkata ingin bertemu dengan ayah nya.

Bertanya mengapa sang ayah tidak datang dan mengajak nya bermain seperti hari-hari kemarin. Nara hanya bisa membujuk, tak berani menjawab karena dia juga tidak tau.

Saat Aska meminta Nara untuk membawanya bertemu Arka, Nara hanya berkata jika mungkin papanya sedang sibuk dan untuk sementara tak bisa bertemu. Tapi Aska yang keras kepala tak perduli.

Jadi, dari dua jam lalu bocah kecil itu mulai menangis, meraung. Bahkan berguling-guling di halaman rumah sambil menangis dengan keras.

Beberapa tetangga yang lewat mendengar dan melihat Aska menangis bertanya, yang hanya Nara jawab seadanya.

Nara menghela nafas, menghampiri Aska yang duduk di tanah dengan dua kaki terjulur.

Rambut hitam Aska acak-acakan, matanya sembab, hidung serta pipinya memerah.

"Aska, hei. Nanti kita telfon papa, nya, ya?" Nara membujuk. Bagaimanapun Nara tak berani mengganggu lelaki itu di jam-jam kerja, dia takut Arka merasa terganggu nantinya.

"Gamau! Antelin ke papa, ma. Antelin." Aska memandang Nara yang berjongkok di depan nya dengan berkaca-kaca. Manik abunya berlinang air mata.

"Besok, ya, Ska? Besok kita ketemu papa."

Aska menggeleng dengan cepat. "Gamau, ma, gamau! Pen sekalang~hu hu hu."

Nara geram, dia kesal sendiri dengan kekeras kepalaan Aska. "Aska." Suara Nara menajam. Aska menatap sang ibu dengan manik mata abu besarnya.

"Hu hu hu."

"Aska pengen mama pukul, ya? Aska gak mau nurut sama mama, iya?"

Nyali Aska menciut saat suara Nara menajam, tatapan mata Nara juga berubah galak.

Suara tangis Aska agak mereda meski isakan nya kian menyedihkan. Tangan kecil nya mengusap air mata. "Gamau... Hiks, hu hu, Gamau dipukul." Bocah itu menggeleng dengan suara parau.

Nara memandang Aska yang penuh air mata, membantu mengusap ingusnya dengan kaus yang Nara pakai.
"Makan nya diem, kalo gak mau mama pukul." Dia membawa Aska dalam gendongan nya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Wanita itu membawa Aska kedalam kamar mandi, memandikan Aska untuk yang kedua kalinya, padahal waktu masih menunjukan pukul dua beberapa menit.

Aska hanya menurut, walau sesekali terdengar isakan dari bibir merah nya. "Pa-hik-papa nya sibuk-hik, ya mah?" Dengan isakan yang sesekali keluar, Aska bertanya saat Nara mulai membasuh tubuh kecil nya dengan sabun.

"Iya, papanya sibuk. Jadi Aska jangan ganggu, nanti kalo papanya gak sibuk lagi pasti dateng ngajak Aska main. Oke?" Nara menjawab, Nada suaranya melembut. Dia tak tega juga melihat Aska dengan isakan nya.

[END]Love me again, please!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang