BAB 26|| SEBUAH KELUARGA

5.4K 376 1
                                        

NARA bangun keesokan paginya. Merasakan ada benda berat yang menindih perut, Nara melirik kebawah. Dia agak kaget dan linglung saat melihat lengan seseorang memeluknya dari belakang.

Ah, dia sedang berada di apartmen Arka. Nara tau jika lengan itu milik Arka. Siapa lagi jika bukan dia? Di depan nya, Aska masih tertidur, terlentang memenuhi sebagian tempat tidur.

Nara menyingkirkan lengan Arka, dia juga dapat merasakan Nafas Arka yang teratur dibelakang telinganya. Arka juga masih tidur.

Turun dari kasur, Nara memandang kedua lelaki yang masih tertidur, menghela nafas lalu mengambil jepit rambunya diatas nakas.

Dia mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi. Saat Arka terbangun, dia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.

Arka tersenyum hangat, dia melirik ke samping nya. Pada Aska yang masih tertidur dengan nyenyak. Arka turun dari kasur, dia menyelimuti tubuh kecil Aska, setelah itu keluar dari kamar menuju kamarnya sendiri.

Selesai mandi, Nara keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Arka di atas tempat tidur. Mungkin pria itu sudah bangun dan kembali ke kamarnya?

Berpikir begitu, Nara menghela nafas lega. Dia mengambil pakaian nya didalam lemari dan mengenakan nya.

Selesai berpakaian dan menata rambut, Nara keluar dari kamar dan disaat yang bersamaan Arka juga keluar dari kamanya dengan wangi yang menguar dari tubuh pria itu.

Nara memandang Arka, lelaki itu memakai celana santai dan kaus berwarna hitam. Rambutnya disisir acak-acakan, berbeda sekali dengan tampilan Arka yang memakai jas mahal dan rambunya disisir rapi dan klimis.

Tapi mau di apakan, pun, pria itu akan tetap sama tampan nya. Tanpa sadar, wajah Nara memerah saat menyadari dia memikirkan Arka 'tampan'.

"Kenapa?" Satu alis Arka terangkat, menatap bingung pada Nara.

Wajah Nara memanas, dia dengan cepat memalingkan muka. "Gak!" Jawab Nara ketus.

Arka merengut mendengar jawaban ketus Nara. "Aska belum bangun?" Tanya Arka lagi, dia mengikuti Nara yang berjalan menuju dapur.

"Belum." Jawab Nara. Dia menyiapkan cangkir, membuatkan kopi untuk Arka. Bahkan meski sudah lima tahun lamanya, Nara masih ingat takaran kopi kesukaan Arka.

Sedangkan Arka duduk diatas kursi meja patry, Nara menyuguhkan secangkir kopi panas. Arka tersenyum, merasa bahwa dia sedang dilayani oleh istrinya dipagi hari.

Menghiraukan Arka dengan senyum konyolnya, dia kembali sibuk dengan peralatan dapur.

"Ah, semalem aku liat undangan di tas kamu." Tiba-tiba Arka teringat akan undangan yang tercetak nama Sebastian disana. Dia tidak bisa untuk tidak bertanya. "Dapet darimana?"

"Undangan?" Nara berbalik menghadap Arka, kening nya berkerut. Lalu saat ingat, dia segera mengangguk. "Oh... Yang itu. Dapet dari temen." Jawab Nara seadanya.

Nara mengambil beberapa sayuran dari kulkas. Memotong nya menjadi bagian yang lebih kecil. Walau tau pasti ayah dan anak tidak akan suka, tapi itu bukan alasan untuk Nara tidak memasukan nya kedalam nasi goreng yang akan dia buat.

"Temen cowok?" Tanya Arka lagi.

Nara ingat, terakhir Arka bertanya 'teman cowok' mereka berdebat setelah nya. "Cewek."

"Siapa?"

"Yang mau nikah."

"Kok kamu kenal?"

Nara meletakan pisaunya dengan kesal. "Emang kenapa sih? Gak boleh kenal sama orang yang mau nikah?! Lagian kepo amat. Terserah saya dong—"

[END]Love me again, please!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang