Komen apa aja disini.
SEMINGGU belakangan ini, Brian dibuat bingung dengan sikap bosnya. Sikap Arka yang tak seperti biasanya membuat Brian penasaran apa yang terjadi dengan lelaki itu.
Perubahan sikap Arka di rasakan Brian sejak seminggu lalu, tepat saat dua hari setelah Arka memerintahkan Brian menyuruh orang untuk mencari tahu tentang perempuan bernama Nara Olivia.
Dimulai dari Arka yang tiba-tiba saja meminta jadwal kerjanya agar di longgarkan, tertawa di tengah-tengah rapat sambil memperhatikan ponsel pintar, sampai pulang lebih awal dan berkata bahwa 'Arka akan menjemput anak nya di sekolah?'
Apa bos Brian itu sudah gila karena terus-terusan ditekan untuk segera menikah dan mempunyai anak oleh bu Lidya? Semoga saja tidak.
Jika Arka benar gila, dan perusahaan bangkrut. Brian akan kerja dimana?
Lengan Brian terangkat, nampak ragu saat hendak mengetuk pintu kaca di depannya. Apalagi mendengar suara gelak tawa bosnya dari dalam.
Brian berdehem pelan, menyiapkan diri menghadapi perubahan bos nya. Lalu mengetuk pintu.
"Masuk!"
Sayup-sayup, terdengar suara Arka yang menyuruh nya masuk dari dalam. Brian melangkah masuk kedalam ruangan Arka yang didominasi dengan warna abu-putih-hitam tersebut.
"Pak."
Arka terkikik, lalu menyahut. "Kenapa?." Kepalanya bersandar pada sandaran kursi kerjanya, satu tangannya terangkat memegang sebuah benda pipih.
Dahi Brian berkerut. "Bapak, sehat kan?" Brian bertanya dengan hati-hati.
Arka menurunkan lengan nya yang memegang ponsel, memandang Brian tak mengerti. "Saya sehat, sehat banget malah." Jawab Arka mantap. Lalu kembali fokus pada kegiatannya.
"O-oh, ini pak ada berkas yang harus anda tanda-tangani." Brian menyodorkan sebuah map ditangannya kemeja Arka.
"Taruh saja di situ." Titah Arka.
"Anda juga memiliki jadwal makan siang ber-"
"Shit! Jam berapa sekarang?" Brian kaget, Arka tiba-tiba saja berdiri dari duduknya, menanyakan jam padahal dia memegang ponsel.
"I-ini jam du-"
"Jawab jam berapa aja lelet banget! udah gak usah, saya udah tau." Setelah itu, lelaki berstatus bos Brian itu melenggang pergi dengan tebruru-buru.
Brian yang masih belum pulih dari keterkejutan nya, masih melongok. Apa yang dialami bosnya itu salah satu contoh Overdosis kesehatan?
🍂
"ONTY!" Aska yang baru saja memasuki halaman rumah berteriak nyaring saat melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Aska, jangan lari-lari gitu." Nara memperingatkan. Tapi Aska dengan kekeras kepalaannya tak mau mendengarkan Nara. Dia berlari merentangkan tangannya, membuat seorang wanita cantik yang sudah lama menunggu Nara dan Aska itu menyambut Aska dengan pelukan.
"Acka! Onti kangen banget sama Acka." Wanita cantik dengan pakaian sedikit terbuka itu menciumi pipi gembul Aska dengan gemas.
"Mbak Lia udah lama nunggu?" Tanya Nara.
Perempuan yang Nara panggil mbak Lia itu tersenyum, menuntun Aska masuk kedalam saat Nara membuka pintu rumah dengan kunci. "Lumayan, Na."
"Onty nungguin Aska, ya?" Tanya anak lelaki itu.
Lia tertawa, lalu mengangguk membuat Aska tersenyum puas. "Aska main di kamar dulu, ya. Mama sama Ontynya mau ngobrol berdua." Pinta Nara pada Aska.
Aska cemberut, tapi tak membantah. Dia berlari melenggang pergi meninggalkan Onty dan mamanya berdua di ruang tengah.

KAMU SEDANG MEMBACA
[END]Love me again, please!
RomanceTamat di Dreame:) Penulis: zii_alpheratz Arka Juna Sadewa. Lima tahun lalu, Arka tak mengerti mengapa Nara memilih mempertahankan bayi nya alih-alih menggugurkan nya. Saat Arka memberi nya dua pilihan, tetap bersama Arka dan gugurkan kehamilan nya a...