BAB 18|| KEBENARAN

6.1K 488 2
                                        

TIK! Jarum jam tepat bergeser menunjukan pukul 1 malam. Tapi kelopak mata Nara tak kunjung bisa menutup.

Hatinya gelisah saat memikirkan apa yang Wanda katakan padanya. 'Mbak ngasih tau ini bukan karena mau bikin kamu sama Arka kembali jauh atau buat kamu benci sama dia, bukan.

-Mbak hanya merasa... Kamu memang berhak tau kalau milsalkan kamu dan Arka mau kembali bersama'

'Aku gak pernah berniat kembali sama dia-' Nara menggelengkan kepalanya, memandang Wanda.

'Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan nya.'

'Apa yang sebenernya mau Mbak bilang?'

Wanda memandang Nara lama. 'Kamu inget soal lelaki yang mempekerjakan Mbak untuk jadi 'kekasih' nya?'

'Iya, aku inget. Kenapa? Bukan nya Mbak udah mutusin buat nerima Mas Adimas?'

'Kamu tau, dia itu- Arka, papanya Aska.' Ucapan Wanda membuat Nara terdiam sebentar.

Kaget dan ada sedikit rasa kecewa yang terselip di hatinya saat mendengar itu. Itu berarti, bahkan setelah lima tahun lamanya, Arka tetap Arka. Si brengsek.

'Na? Mbak bukan-'

'Aku tau. Tapi jelas itu bukan urusan aku. Lagian akukan udah bilang, aku sama sekali gak punya niat buat kembali sama dia. Dia kesini cuma buat Aska dan karena itu juga aku ngijinin dia kembali masuk dalam hidup kami berdua. Mbak tau, aku--aku benci dia.' Jelas Nara yang diakhiri senyuman. Tapi jelas itu semua berlawanan dari hatinya yang tiba-tiba saja sesak.

Ya, Arka hanya datang untuk Aska. Bukan dirinya. Adapum ciuman tadi-itu semua bukan apa-apa. Bukan apa-apa.

'Kamu gak benci Arka, Nara.'

Nara menghela nafasnya berat, rasanya terlalu kekanak-kanakan jika dia menangis saat ini. Tapi, itulah yang ingin Nara lakuakn sekarang. Menangis.

Tidak Nara, tidak. Tidak seharusnya kamu merasa dikecewakan seperti ini, karena nyatanya, kamu dan dia memang tidak akan pernah bisa bersama.

Adapaun rasa gelisah yang kamu rasakan, itu hanya karena Wanda, bukan Arka. Nara memijit keningnya. Sepertinya dia memang perlu menumpuk rasa benci pada Arka lebih banyak lagi.

🍂

Keesokan harinya, Nara menyiapkan Aska yang akan dijemput oleh Arka. Kemarin, sebelum Wanda mengatakan hal yang membuat Nara lagi dan lagi melapisi dinding di hatinya- Arka meminta ijin pada Nara untuk membawa Aska ke pertemuan keluarga Sadewa di Amerika.

Ya, amerika. Lelaki itu bilang dia akan memperkenalkan secara resmi Aska pada keluarga besarnya. Secara naluri, Nara awalnya ragu, dia takut Aska akan diperlakukan buruk oleh mereka dan dianggap sebelah mata.

Tapi Arka berjanji itu tak akan terjadi. Karena bagaimanapun Aska juga anaknya dan tentu saja Arka tidak akan membiarkan sang putra di intimidasi oleh seseorang.

Dan Nara akhirnya setuju. Tapi dia hanya membiarkan Arka membawa Aska selama tiga hari dan setelah itu Arka harus membawa pulang Aska. Arka mengangguk dengan puas kala itu.

"Nara kemarin-"

"Kalo kamu mau 'menjelaskan' sesuatu yang terjadi antara kamu dan Mbak Lia, mending gak usah. Saya sudah tau semuanya." Nara memotong ucapan Arka tanpa menoleh sedikitpun. Dia sibuk memasuk-masukan barang-barang yang akan dibawa Aska.

Sedangkan bocah kecil itu memilih sibuk di depan layar TV memperlihatkan kartun kesukaan nya dengan pakaian yang sudah rapih.

Arka memejamkan mata menahan emosinya. "Nara itu sudah selesai, aku sama sekali enggak-"

[END]Love me again, please!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang