DUA anak manusia berbeda jenis itu duduk di atas kursi kayu sebuah cafe yang sedang booming di internet.
Si laki-laki dengan kemeja serta rambut klimis terlihat seperti lelaki baik-baik. Sedangkan si wanita mengenakan dress pendek dengan sepatu hak tinggi melapisi kaki nya. Tampak sangat berlawanan.
"Udah aku bilang kalo semua ini sia-sia kan? Gak berhasil, orang tua kamu gak mungkin ngerestuin kita. Mereka gak suka sama aku!"
"Wan, kamu gak perlu khawatir soal orang tua aku. Aku beneran cinta sama kamu, terlepas dari apa yang kamu lakukan dimasalalu- cepat atau lambat orang tuaku pasti setuju." Adimas, lelaki berkemeja biru itu meyakinkan Wanda.
Wanda menghela nafas berat, pertama sejak dia menerima perasaan Adimas padanya, pertama sejak Wanda memutuskan untuk bersama Adimas, Wanda tau ini tidak akan mudah.
Banyak yang menentang, apalagi keluarga Adimas sendiri. Dengan apa yang Wanda kerjakan dimasalalu, itu sudah cukup untuk menjadi alasan mereka tidak menerima kehadiran dirinya.
Tapi dasar dosen satu itu bodoh atau polos, dia tidak perduli. Adimas menyakinkan kedua orang tuanya jika itu semua hanya masalalu dan dirinya siap menerima Wanda apa adanya.
Bahkan jika Wanda sudah tidak 'perawan' lagi, Adimas tidak perduli. Dia sudah lama mencintai wanita yang satu tahun lebih tua darinya itu.
Sudah sejak lama sampai-sampai saat Wanda menerimanya, hatinya membuncah oleh kesenangan.
"Kamu percaya aku kan?" Adimas bertanya dengan hati-hati.
Wanda memandang lelaki tampan di depan nya. Hatinya dipenuhi dengan ketidak berdayaan, akhirnya yang bisa Wanda lakukan hanyalah mengangguk setuju. "Oke, kita yakinin orang tua kamu sama-sama."
Senyum Adimas mengembang mendengar apa yang Wanda katakan. "Makasih."
🍂
"Mbak Nara!"
Suara seruan seorang wanita itu terdengar sangat jelas diantara banyak nya orang yang berlalu-lalang.
Nara celingak-celinguk mencari sumber suara, lalu tatapan nya jatuh pada seorang wanita muda yang duduk di area salah satu pedangang bakso.
"Sar." Nara bergegas menghampiri, satu tangan nya menuntun Aska yang hanya menurut kala sang ibu mengajak nya kesana-kemari. "Kamu udah lama nunggunya?" Nara bertanya.
"Gak lama kok, Mba." Tatapan Mata Sari jatuh pada anak lelaki yang sedang Nara tuntun untuk duduk. "Wah, ganteng banget, Siapa namanya, Mba?" Dia bertanya.
"Aska. Aska salim sama Onty nya."
"Hallo Onty." Aska menurut. Dia meraih telapak tangan Sari lalu mencium nya.
"Hallo Aska, aduh ganteng banget sih." Dengan gemas, Sari meraih pipi merah Aska, mencubitnya dengan lembut.
Matahari bersinar terik di atas sana, beberap kendaraan yang berlalu-lalang membuat suasana ramai. Beberapa Ibu-ibu yang membawa anak nya juga berlalu-lalang, suami yang hendak menemani sang isteri atau para remaja yang memang sengaja berjalan-jalan.
"Ma, pen bakso." Aska menunjuk pada gerobak tukang bakso di hadapan nya. Nara mengangguk, memesan bakso untuk nya dan juga Aska, Sari juga melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.
Tak lama, bakso pesanan mereka diantar. "Kamu sama siapa kesininya, Sar?" Nara bertanya, dia sibuk membantu Aska menyingkirkan daun bawang dalam mangkuk nya.
"Sendiri, Mbak. Pake ojek." Sari menajwab, sesekali memasukan potongan bakso ke mulut.
"Lho, calon suami kamu gak nganter?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END]Love me again, please!
RomanceTamat di Dreame:) Penulis: zii_alpheratz Arka Juna Sadewa. Lima tahun lalu, Arka tak mengerti mengapa Nara memilih mempertahankan bayi nya alih-alih menggugurkan nya. Saat Arka memberi nya dua pilihan, tetap bersama Arka dan gugurkan kehamilan nya a...
![[END]Love me again, please!](https://img.wattpad.com/cover/304617372-64-k119886.jpg)