'Satu-satunya yang ku anggap berharga terlepas dari semua luka.'
🍂LIMA tahun bukanlah waktu yang singkat untuk seseorang mencoba keluar dari masa tersulit dalam hidupnya.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk seseorang berusaha menutup rapat luka yang menganga.
Lima tahun, Nara Olivia mencoba merangkak keluar dari kubangan rasa sakit di hatinya. Mencoba bangkit dari keterpurukannya.
Lima tahun, Bukan waktu yang singkat untuk Nara menyembuhkan hatinya dari segala luka. Bahkan setelah lima tahun lamanya, Nara masih sering berandai-andai.
Andai saja dulu Nara tak menyerahkan tubuhnya, andai saja dulu 'dia' mau menerimanya beserta putra mereka, akan bagaimana jadinya?
Andai, andai dan andai. Berhenti berandai-andai Nara, itu tak akan mengubah apapun. Tak akan.
Semua terjadi terlalu cepat, terlalu mendadak. Hingga saat Nara tersadar, ternyata dirinya sudah di buang bersama dengan bayi dalam rahimnya.
Sudah terlambat untuk menyesal.
Manik mata hitam Nara beralih memandang seorang anak lelaki berusia 4 tahun yang masih asik bergelung dibahwa selimut.
Putra kecil nya terlihat begitu nyaman, membuat Nara tak tega membangunkan nya. Padahal waktu sudah menujukan pukul delapan.
Nara berjalan mendekat, duduk di pinggir tempat tidur. Memperhatikannya dengan lekat.
Dari jarak sedekat ini, Nara sadar jika putra kecillnya amat mempesona. Dari jarak sedekat ini, Nara sadar jika Aska putra sadewa memiliki semua yang 'dia' miliki di tubuh nya.
Rambut hitam legamnya, bulu mata lentik, hidung bak perosotan anak TK, serta bibir penuh yang sesuai dengan porsinya.
Dibalik kelopak mata yang terpejam, tersembunyi manik mata abu. Sama persis dengan manik mata abu yang lima tahun lalu Nara gemari.
Yang kadang kala membuat Nara sesak bukan main. Kadang, hanya dengan melihat wajah Aska kala tidur, hati Nara berdenyut perih.
Bukan, bukan nya Nara menyesal akan kehadiran Aska. Bagi Nara, satu-satu nya yang tidak Nara sesali dari kejadian lima tahun lalu adalah hadirnya Aska di hidupnya.
"Mama?" Suara serak khas bangun tidur Aska terdengar, putra kecil Nara itu mengucek matanya dengan punggung tangan. Melihat sudut mata Nara yang berair.
"Mama nangis?" Aska melemparkan dirinya memeluk Nara, membenamkan wajah kecil itu pada dada Nara. "Mama jangan nangis, Aska janji gak bakal nakal, lagi."
Nara tersenyum, mengusap pucuk kepala Aska dengan sayang. "Mama gak nangis, tadi mata mama kemasukan debu." Bohong Nara.
Aska melepaskan pelukannya, menjauhkan kepala dan mendongkak. Melihat wajah sang ibu. "Benelan?"
"Beneran sayang." Nara mengangguk, mengiyakan. "Ayo bangun, Aska bangunnya telat, lho. Katanya mau bantuin mama masak."
Aska nampak mengerutkan kening, lalu menepuknya dengan pelan. "Oiya, Aska lupa ma." Aska nyengir, memamerkan deretan gigi susunya pada sang ibu.
"Yaudah, sekarang, Aska nya mandi dulu. Yuk sayang." Nara membawa Aska kedalam gendongannya.
Aska menurut, membiarkan sang ibu membawa nya kedalam kamar mandi.
🍂
Di lantai teratas sebuah gedung perkantoran, salah satu ruangan mewah disana.

KAMU SEDANG MEMBACA
[END]Love me again, please!
Roman d'amourTamat di Dreame:) Penulis: zii_alpheratz Arka Juna Sadewa. Lima tahun lalu, Arka tak mengerti mengapa Nara memilih mempertahankan bayi nya alih-alih menggugurkan nya. Saat Arka memberi nya dua pilihan, tetap bersama Arka dan gugurkan kehamilan nya a...