Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh saat Arka masuk kedalam apartmen nya. Dia menarik dasinya hingga longgar lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa panjang ruang TV dengan jas yang masih melekat di tubuh atletisnya.
Arka menghela nafas lelah, bersandar sambil memejamkan mata. Lalu, dia teringat kembali apa yang dikatakan Wanda.
Bagaimana bisa Arka mengatakan hal ini pada Nara? Mengatakan bahwa kakaknya adalah mantan 'kekasih' Arka? Atau pelacur Arka? Well, dua-duanya membuktikan bahwa Arka masih berengsek walau sudah lima tahun lamanya dan berpotensi membuat Nara semakin membencinya. Mungkin.
Drtttt
Ponsel di saku jas Arka bergetar, Arka merogohnya melihat serentet pesan dari 'Mamanya Aska' terpampang di layar kaca ponselnya.
- Mamanya Aska.
Ppapppa
Kening Arka berkerut saat melihat kalimat tak karuan itu. Apa maksud nya, 'Papa' kah maksudnya? Ah, jelas ini bukan Nara melainkan jagoan kecil nya. Aska.
Bocah empat tahun itu pasti diam-diam memainkan ponsel sang ibu. Arka tertawa membayangkan wajah Nara jika tau hal ini.
Dan, bagaimana bisa Aska belum tertidur padahal ini sudah amat larut? Arka menekan gambar telfon untuk mastikan bahwa itu benar Aska.
Di sebrang sana, Aska yang tengah asik memainkan ponsel Nara memekik saat layar telfon genggam menampilkan foto sang ayah.
"Mama! Mama! Mama! Papa, ma!" Aska mengguncangkan tubuh sang ibu yang sedang tertidur di sebelahnya.
"Mama! Papa."
Dalam tidurnya, Nara mengerang saat mendengar suara Aska begitu dekat dengan telinganya.
Kelopak mata Nara terbuka, lalu kaget saat melihat Aska yang masih terjaga dengan ponsel genggamnya di tangan kecil Aska.
"Aska, kok gak tidur?" Nara bertanya setengah mengantuk. Sesekali dia menguap.
"Papa." Aska menyerahkan Ponsel Nara pada si empunya.
Kening Nara berkerut saat melihat nama Arka disana. Mau apa lelaki itu malam-malam menelfon? Jemari Nara menggeser ikon hijau.
Telfon tersambung.
[Hallo?] Suara Nara terdengar di seberang telfon, di ikuti suara Aska yang merengek meminta berbicara dengan sang ayah. [Ma, sini sini, ma sini!]
Arka terkekeh saat mendengar suara Aska. "Hallo, Na." Arka menyahut.
[Diem dulu, Ska] Terdengar oleh Arka saat Nara menyuruh Aska diam.
"Tapi Aska pen ngomong, ma." Aska tetap merengek, mencoba merebut ponsel dari genggaman Nara.
Nara menghela nafas, lalu memberikan ponselnya pada Aska. Aska langung memekik kesenangan. "PAPA!" Bocah itu berteriak pada layar, membuat Arka di seberang telfon tertawa sambil menjauhkan ponselnya dari telinga.
[Aska] Suara Arka terdengar. [Aska lagi ngapain, hm? Kok belum tidur] Sang ayah bertanya dengan nada lembut.
Aska yang duduk di atas tempat tidur menoleh pada Nara yang sedang berbaring, masih terjaga sambil mengawasi sang putra.
"Mama lagi tidul-tidulan, Aska lagi duduk. Gak bisa tidul, pa." Bocah itu menjawab-mengadu dengan suara manja.
Ayah dan anak itu berbincang sepanjang malam, meski bukan berbicara hal-hal.penting, tapi itu sudah cukup untuk bisa membuat rasa lelah Arka berkurang drastis.
Hingga saat jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, tak lagi terdengar suara Aska di seberang sana. Arka beberapa kali memanggil hingga akhirnya mengetahui jika sang putra jatuh tertidur di sebelah mamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END]Love me again, please!
RomanceTamat di Dreame:) Penulis: zii_alpheratz Arka Juna Sadewa. Lima tahun lalu, Arka tak mengerti mengapa Nara memilih mempertahankan bayi nya alih-alih menggugurkan nya. Saat Arka memberi nya dua pilihan, tetap bersama Arka dan gugurkan kehamilan nya a...
![[END]Love me again, please!](https://img.wattpad.com/cover/304617372-64-k119886.jpg)