ARKA meregangkan otot-ototnya yang kaku. Duduk berjam-jam memeriksa berkas-berkas membuat kepala Arka pening bukan main.
Lantas, Arka berdiri. Berjalan meraih jasnya yang tersimpan di atas sofa panjang, memasangnya lalu melenggang keluar dari ruangan.
Waktu pulang kerja masih ada beberapa puluh menit lagi. Tapi, Arka yang mempunyai 'hal penting' sudah tidak sabar jika harus menunggu lebih lama lagi.
"Pak!" Brian berdiri dari kursinya, membungkuk sopan kala Arka melenggang lewat. Lalu, dengan segera dia mengikuti bosnya dari belakang.
"Apa jadwal setelah ini?" Tanya Arka. Dia amat tau jika dirinya keluar dari ruangan, diminta atau tidak, Brian akan mengikutinya dari belakang.
"Jadwal anda sore ini adalah bertemu dengan calo-"
Arka menghentikan langkah nya, membuat Brian dibelakangnya juga ikut berhenti.
"Apa?" Arka bertanya tak mengerti.
"Ibu Lidya menjadwalkan anda untuk bertemu deng-"
"Oke, batalkan."
"Hah? tapi pak ibu anda-"
Arka berdecak malas, sekali lagi memotong ucapan Brian. "Kamu itu sekertaris saya atau sekertaris mami sih?" Kesal Arka.
"Sekertaris Bapak." Jawab Brian.
"Yaudah, turutin kata-kata saya kalo gitu." Arka berbalik, kembali melangkah meninggalkan Brian yang masih terdiam di tempatnya.
Iya sih, tapi nanti gue yang kena sama bu Lidya. Sekali lagi, Brian mendumel kesal dalam hati.
🍂
Mobil mewah Arka berhenti didepan kawasan sebuah Taman kanak-kanak. Arka keluar dari dalam mobil, berjalan dengan angkuh menuju kawasan dalam TK.
Taman kanak-kanak itu sudah mulai sepi, mungkin karena waktu pulang sekolah sudah sendari tadi. Tapi masih ada beberapa anak yang baru dijemput orang tuanya, satu-dua anak juga masih menunggu jemputan.
Manik abu Arka berkeliling mencari seseorang. Lalu, berhenti pada seorang anak lelaki berusia 4 tahun yang sedang berdiri tak jauh dari pedagang gulali di belakangnya.
Arka berjalan menghampiri. Beberapa guru dan orang tua murid yang melihat nya terpesona. Arka begitu mencolok dengan jas dan manik abunya.
"Om siapa?" Dahi Aska mengerut melihat seorang lelaki dewasa yang tiba-tiba saja berdiri menjulang di hadapannya.
Om? Arka tidak suka panggilan itu.
"Kamu Aska?" Bukannya menjawab, Arka malah balik bertanya. Meneliti setiap inci fisik Aska yang amat mirip dengan dirinya saat diusianya dulu.
Aska mengangguk pelan.
"Aska kok belum pulang?" Arka bertanya lagi, dia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Aska.
"Mamanya belum jemput." Jawab Aska.
Arka pura-pura mengangguk mengerti. Padahal tanpa bertanya pun, Arka sudah tau itu.
"Aska mau ikut, Om?" Sialan! kenapa terdengar seperti penculik anak sih?!
Kerutan dikening Aska bertambah jelas. "Kemana?"
"Beli ice cream. Aska suka ice cream kan?"
Mendengar kata 'ice cream' kerutan didahi Aska menghilang. Digantikan binar dimata abu-abunya.
"Suka om! Aska suka banget sama Ice cleam." Arka tertawa mendengar suara cadel Aska yang menyebut kata 'Ice cream'.
Mata Aska memincing. "Kenapa om ketawa?!" Sentak Aska galak.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END]Love me again, please!
RomanceTamat di Dreame:) Penulis: zii_alpheratz Arka Juna Sadewa. Lima tahun lalu, Arka tak mengerti mengapa Nara memilih mempertahankan bayi nya alih-alih menggugurkan nya. Saat Arka memberi nya dua pilihan, tetap bersama Arka dan gugurkan kehamilan nya a...
![[END]Love me again, please!](https://img.wattpad.com/cover/304617372-64-k119886.jpg)