BAB 24|| APARTMEN

5.8K 400 4
                                        

ASKA dirawat di rumah sakit selama seminggu penuh. Tadinya, Arka berencana untuk tetap tinggal sebelum kaki Aska sembuh, tapi bocah kecil itu terus merengek meminta pulang.

Akhirnya, Arka membawa Aska pulang dengan mobil mewah nya. Sebelum pulang, Nara tak lupa membereskan baju-baju serta mainan Aska.

Memasukan mereka kedalam bagasi mobil. Meski begitu, gips di kaki Aska belum dilepas, Arka meletakan Aska diatas kursi roda kecil.

Arka tidak membawa Nara dan Aska kembali ke rumah mereka, melainkan apartmen nya. Disepanjang perjalanan, Aska terlihat sangat nyaman duduk di pangkuan sang ibu dengan kepala yang menyandar di dada Nara.

Apartmen Arka berada di kawasan elit ibu kota. Sesampainya di sana, Arka membawa mereka berdua masuk kedalam, mengambil Aska di gendongan Nara dan meletakan nya di atas tempat tidur besar yang sengaja Arka siapkan untuk Nara.

Nara duduk di atas sofa panjang di ruang TV. Matanya mengedar ke sekeliling, apartmen Arka ini memiliki dua kamar yang sama besarnya. Dinding apartmen berwarna hitam-putih dan beberapa furniture juga berwarna senada.

Sebenarnya, ini tak jauh berbeda dengan gaya apartmen yang lima tahun lalu Arka tempati. Yang membedakan mungkin hanya yang ini lebih besar.

Tak lama, Arka keluar dari salah kamar, dia menghampiri Nara yang masih duduk diatas sofa.

Nara bangkit berdiri saat melihat Arka. "Eum- saya pulang dulu kalo gitu." Nara cukup ragu saat dia mengatakan nya. Tapi tidak ada alasan untuk Nara agar tetap disini.

Membiarkan Aska tinggal bersama dengan papanya mungkin tidak buruk. Nara takut dia tidak bisa menjaga Aska, dan kejadian seperti seminggu lalu terulang lagi.

Kening Arka berkerut tak suka. "Pulang? Kamu mau ninggalin Aska sendiri disini?"

Nara bingung, bukankah ada pria itu yang nantinya akan menjaga Aska? Arka menghela nafas melihat raut muka Nara yang kebingungan.

"Untuk sementara, mendingan kamu tinggal disini dulu. Aska bakal nangis kalo tau mamanya gak ada." Arka pura-pura mendesah berat karena nya. "Kamu bisa tidur sama Aska, tempat tidurnya besar, muat buat tiga orang... Maksudnya disini ada dua kamar aku bisa-"

"Oke." Nara setuju dengan cepat.

"Ah ya ok- eh? Oke?" Arka kaget karena Nara terkena jebakan modus nya.

"Kenapa? Gak boleh?"

"Boleh boleh boleh. Mweheh."

🍂

Tadinya, Nara berencana untuk pulang terlebih dahulu ke rumah. Untuk membawa baju-baju nya dan Aska.

Tapi tidak jadi karena ternyata Arka sudah memerintahkan beberapa orang untuk memindahkan baju-baju Aska dan Nara ke apartemen.

Saat Nara cek, ternyata benar. Baju-bajunya dan Aska sudah tersusun rapih di lemari salah satu kamar.

Wow, ternyata lelaki itu sudah mempersiapkan nya jauh-jauh hari. Nara tidak tau harus tertawa atau menangis.

Sore hari, Nara membangunkan Aska yang masih tertidur. Saat Aska bangun, Nara hendak menggendong nya kekamar mandi tak kala Arka datang dan menggantikan Nara menggendong Aska.

"Mandinya di lap aja pake air hangat. Hati-hati kena kakinya." Nasihat Nara. Arka mengangguk mengerti, lalu membawa Aska masuk kedalam kamar mandi.

Saat mereka keluar, Arka mendudukan Aska ditempat tidur, tubuh kecil Aska di bungkus dengan handuk.

Nara menyuruh Arka untuk mandi sedangkan dia memakaikan baju untuk Aska.

"Sakit, ma." Aska mengeluh saat Nara memasukan pakaian ke kepalanya. Mengingat kepala Aska yang terbentur dengan keras, Nara menjadi lebih hati-hati saat memakaikan pakaian.

"Aska lain kali jangan pergi-pergi sendiri. Kalo mau kemana-mana, bilang sama mama. Jangan keseringan buat orang khawatir bla bla bla dan bla. Aska dengerin mama gak?" Nara mengomel dengan semangat, akhirnya mempunyai kesempatan untuk mengomeli putranya ini.

"Iya, ma." Balas Aska cemberut.

"Aska mau makan apa?" Itu bukan Nara, melainkan Arka yang sudah mandi dan kembali ke kamar yang ditempati Nara dan putranya itu.

Kening Nara berkerut karena kecepatan Mandi Arka. Dia memandang lelaki yang berdiri diambang pintu itu cukup lama. "Kenapa? Ganteng ya?" Cengir Arka saat menyadari tatapan Nara padanya.

Mata Nara berputar dengan malas.

"Ayam goleng! Aska pen ayam goleng." Seru Aska semangat saat menjawab pertanyaan sang ayah.

Namun, bukan Aska sekarang yang jadi perhatian Nara. Melainkan Arka, rambut hitam Arka yang masih basah, beberapa air menetes dari rambut ke pipi turun ke dagu dan mengalir pada jakun pria itu. Membuat Nara cukup kesal melihatnya.

Selesai memakaikan Aska pakaian, Nara mengambil handuk kecil dan melemparkan nya pada Arka. "Keringin rambutnya."

Arka merengut saat handuk itu tepat mengenai wajah nya yang tampan. Namun kemudian, rengutan nya berubah menjadi serigai. "Bantuin dong, Na." Katanya sambil menyodorkan handuk berwarna biru itu.

"Ish!" Nara berdecak kesal, lalu menarik handuk yang dipegang Arka. Membuat cengiran Arka bertambah lebar. "Duduk sini!"

Arka menurut, dia duduk di lantai yang dilapisi karpet. Sedangkan Nara duduk diatas tempat tidur. Arka memejamkan mata saat Nara mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Sesekali, jemari Nara memijat kulit kepala Arka. Itu terasa sangat nyaman.

Aska yang duduk di samping Nara hanya memperhatikan. Dia sebenarnya ingin turun menghampiri ayah nya. Namun, kakinya masih di gips. Jadi tidak mungkin.

"Aska nya mah, gantian." Lelaki kecil itu memperotes sambil mengguncang-guncangkan lengan Nara.

"Askakan gak keramas, jadi gak perlu." Balas Nara. Dia selesai dengan rambut Arka lalu mengambil sisir di meja tak jauh dari tempat tidur.

Menyisir rambut pria itu dengan cekatan. Adegan ini sama persis dengan adegan beberapa tahun silam saat keduanya masih bersama sebagai sepasang kekasih.

Dulu saat Nara dan Arka selesai melakukan aktivitas ranjang mereka, Arka yang baru selesai mandi akan duduk di depan nya dan Nara dengan patuh mengeringkan lalu menyisir rambut Arka.

Yeah, bagaimanapun masalalu adalah masalalu. Tak ada gunanya juga jika dibanding-bandingkan dengan masa sekarang.

"Udah." Ujar Nara, dia bangkit berdiri meletakan kembali handuk dan sisir ketempat mereka masing-masing.

Arka tersenyum, naik keatas tempat tidur besar itu. Dia menciumi pipi gembul Aska. "Aska wangi banget sih." Katanya menggoda Aska dengan nada suara yang dibuat-buat.

"Papa!" Aska memperotes keras, bedak di pipinya jadi luntur karena ciuman sang ayah "Mama, papa, tu!" Bocah itu mengadu pada sang ibu.

"Mama mau mandi dulu. Arka! Bawa Aska keluar." Titah nya lalu masuk kedalam kamar mandi.

Arka sedikit merenggut, saat dia hendak menggendong Aska, tiba-tiba ponsel Nara yang tergeletak diatas tempat tidur bergetar.

Kening Arka berkerut, lalu mengambilnya. Melihat nama yang tertera disana, Arka mau-tak-mau mendengus tak suka.

'Mas Dion.' Cih! Nara memanggil lelaki lain dengan pangggilan 'Mas' sedangkan saat memanggil dirinya Nara hanya memanggilnya dengan nama.

Arka dengan sengaja menekan tombol tolak, lalu mematikan ponsel Nara. Melemparkan nya kembali keatas tempat tidur. "Ayo kita nonton TV!"

Dia kembali meraih Aska dengan hati-hati, membawanya keluar dari kamar menuju ruang TV.

"Nonton lobot, pah!"

"Aska pengen nonton robot apa?"

"Supelman!"

To be continued.
Follow IG: ajizah_st28
Votenya..

[END]Love me again, please!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang