BAB 25|| PENGEN ADIK

6.1K 407 3
                                        


MALAM nya, Nara sibuk berkutat dengan peralatan dapur. Dia harus memasak makan malam untuk Arka juga Aska, jika tidak Aska yang dari tadi merengek ingin makan, akan mati kelaparan.

Nara membuka kulkas, mengecek bahan makanan yang tersedia. Dan yang mengejutkan adalah kulkas itu penuh dengan segala bahan. Dari sayuran, daging, dan lain nya.

Nara cukup kagum pada lelaki itu. Apa Arka memasak makanan nya sendiri selama ini?... Yeah, yang Nara tidak ketahui adalah, kulkas besar itu biasanya kosong.

Tadi pagi, saat Arka mengemas pakaian Nara dirumah nya, Arka juga memerintahkan seseorang untuk berbelanja dan memenuhi kulkasnya.

Ini baru pencitraan sejati. Ha ha ha.

Di ruang tamu, saat Nara sibuk dengan masakan nya, Arka dan Aska sibuk menonton siaran Marvel.

Arka duduk di atas sofa panjang dan Aska yang tidur diatas pahanya. Kaki Aska yang di gips terjulur dengan nyaman.

"Aska." Arka memanggil, tangan besarnya mengusap pucuk rambut hitam sang anak.

"Iya, pa?" Aska yang sedang berbaring, mendongkak. Menatap sang ayah.

"Aska suka gak kalo mama sama papa tinggal bareng?" Tanya Arka dengan berbisik, takut tiba-tiba Nara datang dan mendengar.

"Kayak sekalang?"

"Iya, kayak sekarang ini. Suka?"

"Suka! Soalnya ada yang nemenin Aska nonton lobot!" Aska berseru semangat. Dia sangat bahagia ketika sang ayah menemaninya menonton.

Bukan nya Aska tidak suka saat Nara menemaninya nonton, tapi bersama sang ayah lebih menyenangkan karena biasanya Arka mengerti 'jalan cerita' dari film robot yang ditonton.

Tidak seperti saat bersama sang ibu yang jika menonton Nara akan sangat membosankan dan lebih sering pindah-pindah saluran ke sinetron saat iklan.

"Makan nya, Aska bilang sama mama supaya nikah sama papa!" Hasut Arka, dia begitu semangat sampai-sampai hampir berteriak. Mengandalkan Aska dalam 'hubungan' dia dan Nara, tidak jadi masalah kan?

Jika Arka tidak bisa membujuk Nara agar mau menikah dengan nya, pasti Aska bisa membujuk Nara.

"Nikah? Nikah itu apa, pa?" Tanya Aska, dia menatap bingung Arka dengan mata abu bulatnya.

"Eh? Eum... Nikah itu- tinggal bareng selamanya." Jawab Arka, dia juga ikut bingung bagaimana menjelaskan nya.

"Tinggal baleng selamanya?"

"Iya! Nanti kalo Aska berhasil bujuk mama supaya mau nikah sama papa, nanti papa kasih hadiah." Fu fu fu.

"Hadiah? Mau pa! Apa hadiahnya?"

"Nanti, papa sama mama kasih adik buat Aska."

Kerutan di dahi Aska tambah dalam. "Adik? Itu apa?"

Arka menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Dia hanya bingung menjawab pertanyaan putranya. "Adik itu, yang bakal nemenin Aska main."

"Kayak lobot-lobotan?"

"Bukan sayangku, cintaku! Adik itu-"

"Makan malam udah siap." Nara datang membuat kalimat Arka terhenti.

Aska dan Arka sama-sama mendongkak. Nara berdiri dengan celemek biru muda yang dipenuhi noda dibelakang sofa.

"Ma." Aska memanggil Nara, membuat wanita itu mengangkat satu alisnya memandang sang putra.

"Kenapa sayang?"

Aska tak langsung menjawab, dia menoleh dulu pada sang ayah. Membuat Arka diam-diam waspada dengan kata apa yang akan Aska keluarkan.

"Pengen Adik, ma."

Nara melotot, sedangkan Arka tertawa garing. "Ha ha ha, Aska tau dari mana sih? Ha ha ha, siapa yang ngajarin si ganteng ini. Ha ha."

🍂

Makan malam berlangsung damai, meski Nara kesal pada Arka yang sudah mengajari Aska dengan hal-hal tidak baik, tapi Nara masih tahu diri untuk tidak mengamuk dan mengusir Arka dari sini.

Karena ini apartmen pria itu. Ya, coba saja jika sekarang mereka sedang berada dirumah nya. Dia pasti sudah melempar Arka ketengah jalan.

Selesai makan, Aska dan Arka kembali duduk di ruang TV. Melanjutkan menonton film marvel yang tertunda.

Kali ini, Nara ikut bergabung. Sebelumnya dia membuat keripik pisang untuk cemilan mereka. Hanya satu toples, tidak banyak karena waktunya tidak akan cukup.

Nara duduk di sofa terpisah dengan Arka dan Aska, dia membuka tutup toples lalu menaruhnya diatas meja.

"Ambilin, ma." Aska yang pertama kali meminta. Tangan kecilnya menggapai-gapai toples. Tapi bukan Nara yang mengambilkan, melainkan Arka yang duduk di sebelah Aska.

Mereka berdua- Aska dan Arka- memakan cemilan nya dengan senang hati. Matanya terus fokus pada siaran TV.

"Enak?" Arka bertanya pada sang putra.

"Enak, pa!" Jawab Aska semangat.

Nara mendengus melihat anak dan ayah ini. Nara mengalihkan fokusnya pada layar TV besar itu, melirik Arka dan Aska yang sedang asik menikmati keripik pisang yang dia buat. Sama sekali tidak memperhatikan.

Diam-diam, Nara mengulurkan tangan nya, mengambil remot TV diatas meja kaca tanpa suara.

Pip! Chennel berpindah.

"Mama!"

"Na!"

Dua lelaki itu memperotes secara bersamaan saat film marvel yang sedang mereka tonton berubah menjadi sinetron yang sedang naik daun diantara ibu-ibu.

Nara mengabaikan mereka berdua, dia menatap fokus pada film. Disana, seorang anak perempuan menangis, berkata ingin bertemu ibunya.

Itu adalah adegan yang mengharukan, mata Nara memerah menonton nya.

🍂

Pukul dua belas malam, Arka sibuk jungkir-balik di atas tempat tidur besarnya. Dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan dua orang yang tidur dikamar sebelah.

Arka turun dari atas kasur, berjalan menuju ruang TV. Disana, dia melihat tas Nara yang tergeletak di sembarang tempat.

Di dalam tas, sesuatu mencuat keluar, membuat Arka dengan penasaran menariknya keluar.

Itu adalah sebuah undangan. Di disain sangat indah, elegan dan mewah.

Sebastian Daryana & Sari mustika

Terukis indah. Arka terhenyak membaca nama yang diukir dari tinta emas itu.

Sebastian Daryana? Sebastian yang itu? Sahabatnya yang hobinya ke club? Wow. Tapi, dari mana Nara mendapatkan undangan nya? Arka bahkan belum mendapatkan undangan ini dari Sebastian sendiri.

Apa sebastian dan Nara saling mengenal? Kenapa dia tidak tahu? Arka meletakan kembali undangan itu diatas meja kaca, dia berjalan mengendap-endap menuju kamar yang di tempati Nara dan Aska.

Dibukanya pelan pintu kamar, itu gelap, tapi Arka masih bisa melihat siluet Nara yang sedang berbaring membelakanginya.

Arka berjalan masuk kedalam, dia menutup pintu dengan pelan. Berdiri di pinggir tempat tidur untuk waktu yang cukup lama.

Sebastian akan menikah... Dan dirinya tidak mungkin sendirian terus, menunggu Nara sampai wanita itu mau menerimanya.

Iya kalau Nara bersedia, kalau tidak? Arka, sih tidak masalah meski harus menunggu Nara lebih lama. Tapi maminya? Papinya? Meski mereka sudah tau bahwa dirinya sudah mempunyai putra- jika sang mami tau bahwa ibu dari putranya tidak mau menikah dengan nya, itu akan jadi alasan untuk wanita parubaya itu memaksanya untuk menikah dengan wanita lain.

Arka menghela nafas, dia naik keatas tempat tidur, ikut berbaring. Memeluk Nara dari belakang tanpa sepengetahuan wanita itu.

Mereka bertiga, Arka, Aska dan Nara tidur bertiga dalam satu selimut.

To be continued.
Follow IG: ajizah_st28
Votenya...

[END]Love me again, please!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang