3. debatnya orang pacaran

4.9K 506 56
                                        

Katanya, cinta datang karena terbiasa. Mari kita buktikan survei tersebut, apakah dengan terbiasa bisa menimbulkan cinta?

.

.

.

Setelah berhasil mengantarkan Giana pulang, lalu Jevan melajukan mobilnya ke salah satu mall di Jakarta. Sepanjang perjalanan, Milly hanya diam tidak berminat untuk mengajak Jevan berbicara seperti biasa yang sering Milly lakukan jika bersama Jevan. Banyak bicara dan tentunya ceria.

"Marah ya?" tanya Jevan, menggenggam tangan Milly yang ada diatas paha kekasihnya. "Maaf deh, aku beneran nggak tau kalau papa ngajak main golf bareng Giana."

"Bukan itu." sergah Milly, menoleh pada Jevan dengan tatapan sinis. "Kenapa kamu bela kak Giana didepan aku? Seharusnya memang kak Giana yang pindah posisi duduk, bukan aku."

"Astaga!" keluh Jevan, tidak terpikirkan oleh Jevan bahwa alasan Milly marah itu hanya karena posisi duduk. "Kamu marah cuman gara-gara itu?"

"Cuman kamu bilang?" kesal Milly, merasa Jevan telah menyepelekan alasan dibalik marahnya Milly. "Kamu nggak dengar apa yang dibilang kak Giana tadi? Sombong, padahal belum jadi siapa-siapa kamu tapi bertingkah udah kayak istri kamu beneran. Lagian kenapa kamu nggak cerita kalau yang mau nikah sama kamu itu kak Giana." jelas Milly menggebu-gebu.

Jevan melepaskan genggaman tangan mereka sembari melirik bergantian pada jalanan dan Milly. Sejujurnya sangat tidak baik berdebat saat dalam perjalanan seperti ini. "Aku udah cerita sama kamu, aku dijodohin sama papa."

"Iya tapi kamu nggak cerita siapa orangnya."

Jevan menepikan mobilnya. Perdebatan ini tidak akan selesai dengan cepat, terlihat dari atmosfer keduanya yang tidak ingin kalah.

"Kamu cuman bilang, kamu dijodohin dan kamu bakalan ceraikan istri kamu enam bulan setelah pernikahan." sambung Milly, menaruh penuh atensinya ke Jevan.

Jevan menarik nafas panjang. "Kamu beneran mau berdebat tentang ini?" tanya Jevan, yang kelihatan males untuk mempermasalahkan hal yang sudah mereka bahas sebelumnya.

"Aku nggak ngajak berdebat, cuman nggak suka aja sama kamu yang nggak terbuka sama aku."

"Astaga!" keluh Jevan, kehabisan kata untuk membalas penuturan Milly. "Aku udah cerita semuanya, Milly. Dari awal papa merencanakan perjodohan aku sama Giana." ucap Jevan, mencoba membuat Milly mengerti.

"Udahlah! Kamu buat mood aku buruk. Padahal besok aku ada flight ke Bali untuk shooting selama seminggu."

"Kenapa jadi aku? Kamu yang tiba-tiba nggak jelas." omel Jevan.

"Seriously Jevan Adhiaksa? Aku mau shooting seminggu dan kita nggak akan ketemu tapi kamu malah kayak begini?"

"Kayak begini gimana sih Milly?" Jevan benar-benar lelah sekarang. "Kalau masih mau debat terus, kamu belanja sendiri aja deh. Besok lagi kita ketemu kalau udah pada dingin kepalanya, sekalian aku antar kamu ke bandara." sambung Jevan, kembali melajukan mobilnya.

Milly menarik nafas panjang. Tidak akan gagal rencana kencan hari ini hanya karena seorang Giana Adaline. Apa hebatnya sosok Giana sampai kehadirannya di kehidupan Jevan dalam beberapa hari ini sudah berhasil membuat hubungan Milly dan Jevan memanas. "Nggak! Tetap temani aku belanja sekarang." ucap Milly, mulai meredam emosinya.

"Makanya jangan marah-marah terus, cantiknya hilang nanti." balas Jevan, mengelus surai lembut Milly.

Milly hanya bergumam tidak jelas sebagai respon dari penuturan kekasihnya.

MARRIEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang