Gue membekap mulut sendiri saat melihat dada bidang seseorang menjadi pemandangan pertama yang gue lihat setelah bangun tidur. Membekap mulut bukan karena terpesona, tetapi karena terkejut saat benda yang tampak liat itu mengingatkan gue akan kejadian semalam.
Gue pengin menjerit sekuat tenaga, tetapi mama pasti bakal berpikir macam-macan kalau dia denger gue melakukan hal itu. Akhirnya, gue hanya menyingap sedikit selimut yang membungkus tubuh gue. Memeriksa apakah gue masih berpakaian atau nggak.
Gara-gara Mario tidur nggak pake baju, jantung gue jadi hampir copot kan mikir kalau dia habis ngapa-ngapain gue semalam, tetapi sekarang aman.
Gue mengembuskan napas lega secara perlahan saat melihat tubuh gue masih berpakaian secara utuh.
"Nggak usah khawatir, omongan gue bisa dipegang kok." Suara seseorang masuk ke telinga gue secara tiba-tiba, isinya seakan mengetahui apa yang gue pikirkan.
Dari dada telanjangnya, gue menatap wajah si pemilik suara yang nggak gue tahu sejak kapan dia bangunnya.
Entahlah, yang penting apa yang dia ucapkan benar. Mario memegang ucapannya semalam yang menyatakan bahwa dia tidak akan menyentuh gue sebelum gue bisa lagi membuka hatinya untuk dia.
Ya, semalam nggak terjadi apa-apa. Dia hanya membanting gue ke atas ranjang kemudian mengatakan janjinya itu, tetapi sebagai gantinya gue harus mau tidur seranjang sama dia.
Bukan cuma itu, sih, dia bahkan ancam gue buat janji juga kalau gue bakal buka hati. Nggak ada pilihan lagi selain mengiyakan ucapan Mario, karena gue nggak mau memproduksi bayi bersamanya malam itu juga.
Gue nggak suka sama Mario, gue nggak mau, nggak siap buat ngelakuin hal itu. Mungkin ngelakuin itu saat hati gue sudah terbuka akan lebih baik, gue nggak akan nolak-nolak lagi. Lagipula gue udah janji sama Mario dan juga, mama serta keluarga cowok itu kayaknya mengharapkan banget hubungan ini. Jangan lupakan amanah papa juga.
Gue nggak mau egois dengan menutup hati. Lagipula kalau nggak sama Mario, sama siapa lagi gue menjalin hubungan? Gue males memasukan orang baru ke kehidupan gue. Semoga gue nggak salah walau gue ngerasa apa yang gue ambil ini adalah keputusan paling labil.
Mario tersenyum lebar setelah mengatakan kalimatnya membuat gue langsung meloncat turun dari ranjang. Senyum Mario Kayak Joker, gue kan takut.
"Kenapa?" tanya cowok itu, mungkin heran ngeliat kelakuan gue yang tiba-tiba.
Gue hanya menggeleng. Sementara Mario mengangguk seraya menggeliat, merentangkan tangannya dan menguap.
"Nyenyak banger tidur gue," ucap Mario setelah menyelesaikan acara pemalasannya, kemudian menatap gue. "Kalau tidur lo gimana, nyenyak juga nggak?"
Gue mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan mendadaknya. "Kayak malam sebelum-sebelumnya."
“Wah, lo curang!” seru Mario secara tiba-tiba. “Gue bahkan gak pernah tidur nyenyak sebelumnya kayak semalam!”
“Mungkin karena lo tidurnya nggak pake baju, jadi nggak nyenyak!” balas gue dengan sindiran di dalamnya, berharap dia peka dan malam nanti tidur pakai baju biar gue nggak berpikiran negatif mulu. Dia hanya mengangkat kedua bahu, sebelum merebahkan tubuhnya dan menarik selimut kembali.
“Mario, lo nggak kerja?” tanya gue heran, saking herannya gue mengerutkan kening sedalam-dalamnya. Gue lihat saat ini sudah pukul tujuh, emangnya dia nggak siap-siap?
Sebelumnya gue nggak tahu, sih, dia kerja apa, tetapi kan standarnya jam tujuh itu udah berangkat.
Kini Mario mengubah posisinya kembali menjadi terduduk dan melempar kain yang menyelimutinya hingga terlempar sebagian ke lantai, cowok itu menatap gue serius. “Jessi, sebenarnya semenjak gue pulang, gue itu pengangguran!”
“Apa?” pekik gue, bukan karena nggak denger, tetapi karena terkejut mengetahui fakta itu. Bagaimana bisa, Mario yang seorang lulusan luar negeri tidak memiliki pekerjaan?
“Gue pengangguran,” ulangnya. “Nggak pengangguran juga, gue cuma mau menikmati dulu masa-masa ada di rumah, baru nanti gue cari pekerjaan.”
Mau nggak mau gue mengangguk, paham sama apa yang Mario maksud, tapi dari semenjak pulang? Bukannya itu malah udah terlalu lama.
“Begitu?” tanya gue.
Mario mengangguk. “Tapi udah ada beberapa perusahaan yang mau wawancara kerja sama gue, sih.”
“Bagus dong, semoga secepatnya lo bisa kerja, ya!”
“Iya, kalau gue nggak kerja, siapa yang nafkahin lo kan?”
Gue langsung menatap Mario sinis serya tertawa yang dipaksakan setelah mendengarkan ucapannya. “Ha ... ha iyain aja deh!”
“Lo nggak mau tidur lagi?” tanya Mario. “Ini kan baru jam tujuh, lo kan bangunnya jam 12.”
“Ya, ya, ya ....” Gue memutar kedua bola mata menatapnya, kemudian pergi begitu aja ke kamar mandi. Gue perlu menyegarkan tubuh dan pikiran.
***
“Lo nggak kangen sama Jason?” Gue bertanya saat kita berdua sedang duduk menonton salah satu channel televisi yang tengah menayangkan acara kompetisi memasak.
Gue penasaran karena dari hari kemarin dan hari ini Mario terus ngintilin gue kayak anak kucing, tidak membahas Jason sama sekali, terus ngintilin gue bahkan saat gue mau ke kamar mandi dia nyaris ikut juga. Seakan mendedikasikan hidupnya untuk menjadi buntut gue, jujur aja agak risi, tapi ya mau gimana lagi. Gue nggak tahu gimana cara menghadapi orang aneh kayak Mario.
Makanya gue penasaran, gimana perasaannya saat ngikutin gue ke mana pun, apakah dia inget sama Jason atau enggak? Kalau pun dia nggak kangen sama Jason, paling nggak dia mikir kalau Jason yang kangen sama dia. Gue pikir pasti Jason nyari-nyari Mario.
“Ya kangen.”
Gue menatap Mario ketika Mario juga tengah menatap gue. Gue menatapnya dengan kening berkerut. “Kalau kangen kenapa nggak temuin?”
“Gue udah telepon dia, lagipula dia lagi sama mommynya.”
Gue mengucapkan oh yang panjang sebagai respons atas jawaban yang Mario berikan, gue ngerti.
Gue penasaran, sebelum kemarin gue pulang ke sini kan Mario nginep juga di rumah, berarti dia ninggalin Jason juga di rumahnya dong?
"Jason lo tinggal juga waktu kemarin tinggal di sini?"
"Iya," jawab Mario seraya mengangguk.
"Kasian Jason lo tinggal-tinggal kayak gitu," ucap gue mengutarakan apa yang ada di kepala. Serius deh, pasti Jason nyariin.
"Ada mommynya, mommynya sering nginep juga di rumah gue."
Lagi, gue hanya beroh panjang. Mengerti mengapa Mario bersedia tinggal di rumah gue kemarin-kemarin, selain mau caper sama mama, mungkin dia gak enak tinggal serumah sama mommynya Jason.
"Kenapa nanyain Jason terus?"
"Emangnya nggak boleh?"
"Boleh, sih, cuma gue heran aja."
"Kenapa?" Gue menautkan kedua alis setelah mendengar pernyataan Mario. "Jason kan lucu, gue suka, makanya gue tanya."
"Mau main sama Jason?"
"Mau!!" seru gue. Siapa sih yang gak pengin main sama bocah pintar itu, pasti sangat menyenangkan.
Mario tersenyum lebar. Dia mengangguk dengan sebelah tangan terangkat kemudian mendarat di kepala gue. "Besok kita jalan-jalan bertiga, ya."
"Oke!!" Gue tersenyum lebar membayangkan betapa serunya besok kita bakal pergi sama Jason, tetapi gue baru inget. Apa mommynya Jason bakal ngizinin Jason pergi bertiga sama kita?
Terlebih sama gue. Gue sama Mario. Gue yakin banget kalau Raline nggak bakal ngizinin. Malah mungkin dia bakal ngamuk karena gue nggak memberikan permintaan dia buat ngasih Mario.
Gimana ya, kan dari awal gue nggak pernah bilang iya atau nggak. Lagipula Mario itu bukan barang, dia cuma manusia yang punya perasaan dan memiliki hak untuk memilih apa yang dia mau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Scenario [REPOST]
RomansaBagi sebagian orang, menikah di usia yang masih muda bukanlah sebuah impian, termasuk bagi Mario dan Jesika. Apalagi keduanya menikah karena perjodohan. Pada dasarnya, mereka masih ingin menikmati masa remaja dan meraih cita-cita. Maka dari itu, Mar...
![Love Scenario [REPOST]](https://img.wattpad.com/cover/293241196-64-k244805.jpg)