"Kalau kalian enggak niat nikahin Mario sama Jessi, harusnya bilang dari awal!!" maki mama beberapa saat setelah sadar dari pingsan, wanita yang sering ngeremehin gue itu enggak sepenuhnya tenang. Tubuhnya masih bergetar dengan embusan napas yang memburu, saking emosi sepertinya.
"Bukan sekali dua kali keluarga kalian bikin saya kecewa!" Mama kembali memaki, sementara keluarga Mario tidak berkilah sama sekali. Mungkin mengakui apa yang selama ini mereka lakukan terhadap keluarga gue itu semuanya salah, dan gue mau pun Kak Renita, serta Bang Alvin membiarkan apa yang akan mama lakukan dan katakan, sedangkan Bastian mengamankan para bocil entah di mana.
Kakak dan ipar gue mungkin enggak tahu apa yang harus dilakukan, begitu pun gue. Jadi, biarkan mama melakukan apa yang ingin dilakukannya. Kasian juga, kayaknya beliau bener-bener sedang merasakan kecewa.
"Kamu!!" Mama menudingkan telunjuknya kepada Mario dan cowok itu terlihat sedikit menundukan kepalanya. "Kenapa enam tahun yang lalu kamu pergi gitu aja, pergi ke luar negeri tanpa pamit sama saya?!"'
"Kenapa kalian enggak kasih tahu saya?!" tanya mama menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. "Kalau aja Jessi enggak kasih tahu saya, sampai saat ini mungkin saya enggak tahu kalau Mario itu pergi kuliah ke sana!!"
Gue masih inget itu. Gue bukan kasih tahu mama kalau Mario kuliah ke luar negeri karena saat itu gue enggak tahu kalau ternyata cowok itu mau kuliah, tapi hanya bertanya karena sangat penasaran ke mana dan mau apa cowok itu sembari menunjukkan foto yang dikirim Leo. Mama jelas kaget, kemudian kita sama-sama pergi ke rumah Om Akbar untuk menanyakan perihal foto itu, dan mereka menjelaskan kalau Mario di sana untuk kuliah.
Kala itu mama enggak semarah sekarang, malah terlihat mendukung. Namun sekarang gue tahu, di balik keramahan dan tabiat mendukungnya, beliau menyimpan kekecewaan dan kemarahan yang mendalam, kemudian sekarang sepertinya sedang diledakan.
"Apa susahnya, sih, waktu itu kalian kasih tahu saya kalau Mario mau kuliah di luar negeri, kalian pikir kalau kalian memberitahu saya sejak awal, saya enggak bakal kasih izin, begitu?!"
"Dan sekarang malah Mario udah punya anak aja!" ucap mama. "Jangan karena mendiang suami saya yang meminta Mario untuk menikahi Jessi, jadi kalian bisa berbuat seenaknya!!"
"Saya menyesal sudah menuruti kemauan mendiang suami saya. Padahal saya tahu, dituruti atau tidak keinginan mendiang suami saya itu, dia enggak bakal tahu karena sudah meninggal kan?!"
"Tujuan mendiang suami saya ingin menikahkan Jessi dengan Mario, agar Mario bisa menjaga Jessi, agar Jessi ada yang menjaga!"
Mendengar apa yang dibicarakan mama sedari tadi dengan keadaan yang seperti sadar dan tidak sadar membuat mau tak mau gue enggak tega juga. Apalagi kenyataan saat ini mama sedang ngebela gue. Gue menarik napas panjang sebelum mendaratkan tangan di bahu mama, mengusapnya lembut dengan tujuan agar setidaknya beliau sedikit tenang.
"Tapi kenyataannya sekarang apa, Jessi bisa jaga dirinya sendiri kan?" tanya mama. "Malah yang seharusnya jagain Jessi itu, sekarang nyakitin dia!!"
"Ayo kita pulang!!" Mama bangkit dari duduknya walau sedikit limbung, diikuti gue seraya memeganginya agar tidak jatuh.
"Tunggu dulu!" ucap Om Akbar yang akhirnya bersuara. "Kita bisa jelaskan!"
Namun, mama sepertinya sudah tidak ingin mendengarkan ataupun mengucapkan apa pun lagi, terbuki dengan beliau yang terus melangkah.
"Sepertinya lain waktu saja kita bicarakan lagi, sekarang suasananya sudah tidak mendukung," balas Bang Alvin yang masih bisa gue denger sementara kita udah di ambang pintu keluar rumah ini.
Lagipula menurut gue udah enggak ada yang perlu dijelasin lagi. Semuanya udah jelas karena cuma dua hal yang bikin dua keluarga ini kini bersitegang, pertama karena Mario pergi begitu aja tanpa pemberitahuan enam tahun yang lalu, kedua karena pulang-pulang Mario udah punya anak yang membuat mama semakin dan semakin kecewa. Udah, itu aja.
"Udah, jangan nangis," ucap gue begitu terdengar isakan dari wanita yang duduk di sebelah gue. Kendaraan yang kita tumpangi mulai melaju, meninggalkan kediaman orang tua Mario.
"Mama sedih mikirin nasib kamu," balasnya dengan suara parau yang lantas membuat gue sedikit terkekeh.
"Kenapa ketawa?" tanya mama. "Kamu ini kayak enggak ada sedih-sedihnya sama sekali!!"
Sedih, ya? Enggak sedih, sih, cuma agak syok aja ternyata anak Mario udah sebesar itu. Beberapa tahun setelah kepergiannya, Leo kembali mengirimi gue potret Mario serta Raline yang di posting di Instagram, bedanya ada sosok bayi di antara mereka dan caption yang gue lupa isinya apa mendukung kalau makhluk kecil itu buah hati mereka. Gue ingat, foto yang diposting Raline di Instagram itu hanya bertahan beberapa saat saja setelah gue lihat, selebihnya lenyap dan baru terungkap sekarang.
Saat ini bukan masa-masanya lagi gue patah hati. Gue bukan gak marah, sedih, ataupun sakit, tapi emang masa-masanya udah lewat aja. Cukup emat tahun yang lalu dan dua tahu sebelumnya gue nangis-nangis karena merasa tersakiti oleh Mario, sekarang gue udah jauh lebih kuat.
Kayak ... gue udah terbiasa aja gitu disakitin. Jadi, ya, udah. Mau gimana lagi, toh semuanya udah terjadi. Mau ngamuk juga enggak bakal balikin keadaan seperti semula.
"Kenapa harus sedih?" tanya gue ngajak ngomong mama. Biar beliau gak nangis lagi, gimanapun gue enggak tega kalau lihat beliau nangis. Apalagi nangisin gue.
"Itu loh suami kamu punya anak sama perempuan lain!" jawabnya.
Gue kembali terkekeh. Gimana, ya, kalau mama tahu kalau gue udah tahu masalah ini beberapa tahun yang lalu? Mungkin beliau juga bakal marah sama gue karena gak langsung ngadu waktu itu.
"Biarin aja Ma, kita kan nikah juga karena terpaksa," balas gue. "Jadi ya kenapa harus sedih kan?"
"Terus sekarang kamu mau apa?"
Gue mengangkat kedua bahu seraya menggeleng. Gue enggak tahu mau apa. Mungkin cerai pilihan yang tepat karena dari awal gue sama Mario enggak menginginkan pernikahan ini.
"Menurut Mama apa?" Gue balik bertanya. Kali aja kita berdua beda pendapat dan pendapat mama jauh lebih oke dibanding gue yang masih kebingungan.
"Mama bakal dukung kalau kamu mau pisah sama Mario, Mario punya anak sama perempuan lain, itu artinya Mario juga cintanya sama orang lain." jawab mama. "Lebih baik tinggal bersama orang yang mencintai kita, dibanding tinggal dengan orang yang kita cintai, tapi tidak mencintai kita."
Gue sedikit terpana oleh kalimat terakhir yang diucapkan mama.
Itu tahu!
Andai mama berpikir seperti itu sebelum gue sama cowok itu nikah, pasti nasib gue gak bakal gini-gini amat. Karena inti dari semuanya, sesuatu yang dihasilkan dari keterpaksaan adalah sebuah bencana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Scenario [REPOST]
RomanceBagi sebagian orang, menikah di usia yang masih muda bukanlah sebuah impian, termasuk bagi Mario dan Jesika. Apalagi keduanya menikah karena perjodohan. Pada dasarnya, mereka masih ingin menikmati masa remaja dan meraih cita-cita. Maka dari itu, Mar...
![Love Scenario [REPOST]](https://img.wattpad.com/cover/293241196-64-k244805.jpg)