9

3.7K 252 2
                                        

"Ngapain lo duduk di kasur gue?!" teriak gue begitu menghempaskan diri di atas ranjang kemudian melihat Mario melakukan hal yang sama.

Cowok itu mengabaikan ucapan gue dan malah mengangkat kakinya serta menarik selimut kemudian menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal.

"Woy?!" Gue kembali berteriak, tidak terima dengan apa yang dilakukannya.

Kenapa, ya, sikap menyebalkan Mario begitu mendarah daging?

"Jangan teriak-teriak!" ujar cowok itu pada akhirnya yang lantas membuat gue menggulir kedua bola mata.

"Emang kenapa?!" tanya gue. "Ini kan kamar gue, rumah gue, kalau enggak suka ya jangan deket-deket, noh lo di sofa aja atau enggak keluar aja, ke mana kek!!"

"Astaga!!" balas Mario dan cowok itu malah terkekeh.

Emangnya ada yang lucu apa?

"Gue larang lo teriak-teriak itu karena ini udah malem, emangnya gak takut gangguin yang lain?"

Oke, gue diem sekarang, mengakui kesalahan. Mario bener kali ini, teriakan gue kayaknya bakal ganggu orang-orang rumah.

"Gue juga kan mau jelasin kenapa gue tinggal di sini," lanjutnya membuat gue langsung menatap Mario.

"Udah, gak usah, gak penting!!" balas gue buru-buru. Paling dia disuruh Tante Ajeng atau Om Akbar buat tinggal di sini, secara setelah kita nikah dia kan gak mau banget nginep di sini, malah beberapa hari setelah kita nikah gue tahu dia langsung keluar negeri, mungkin itu juga yang bikin dia sudi tinggal, cari muka ke mama.

Apalagi coba alasannya?

Indra pendengaran gue menangkap suara erangan Mario. Cowok itu mungkin gak terima karena gak dikasih kesempatan buat bicara, tapi itu bagus kan? Dia kan yang paling anting ngomong sama gue, jadi enggak usah ngomong panjang lebar lagi.

"Mending lo sekarang keluar deh, gue mau tidur!" lanjut gue mengusir dia.

"Gue juga mau tidur!"

Maksudnya gimana nih?

Dia mau tidur sama gue gitu di kamar ini?

Enggak! Rasa-rasanya gak sudi banget kalau harus berbagi ruangan sama dia.

"Ya udah tidur, tapi jangan di sini!"

Cowok itu membulatkan matanya saat gue tatap. "Emang kenapa?!" tanyanya. "Ini kamar gue!!"

Enak aja!

"Kamar gue!" Gue balas pelototan matanya. "Mending sekarang lo keluar, cari kamar lain!"

"Gak!" ujar cowok itu. "Ini kan rumah lo, kenapa enggak lo aja yang cari kamar lain?"

Gue menarik napas panjang, kemudian menahannya beberapa detik sebelum kembali mengembuskan secara kasar. Mata ini gak kuasa kalau gak berputar setelah mendengar pernyataan Mario.

Dia bener. Mungkin dia enggak tahu kalau di rumah ini ada banyak kamar kosong karena ini rumah gue. Baiklah gue mengalah lagi, gue bakal tidur di ruangan lain.

"Oke!" ujar gue seraya bangkit dari duduk kemudian menyambar ponsel yang tergeletak di antara kita. Setelahnya melangkah, hendak meninggalkan Mario di kamar yang suasananya udah gak gue kenal lagi karena diubah sembarangan.

"Kamar lo gede, ranjang lo juga luas." Lagi-lagi suara cowok itu kembali tertangkap indra pendengaran gue, membuat gue berhenti melangkah seraya menautkan kedua alis, mencerta serta menanti apa yang akan diucapkan selanjutnya. "Kita bisa berbagi kamar, tapi sebegitunya lo pengen hindarin gue."

Love Scenario [REPOST]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang