Suami yang Kuhina Miskin Ternyata Konglomerat

163 4 0
                                        

Nitip karya aku yang lain ya, sebab lapak ini masih rame. Barangkali tertarik baca lanjutannya.

Sudah tamat di Karyakarsa dan KBM App.

1. Identitas Asli

"Sejak kapan kantor tempat kita kerja ini jadi punya dia, Mbak?”

Setengah berbisik pada seseorang yang berdiri persis di sebelahku, aku menunjuk sosok yang batang hidungnya bahkan tidak pernah kulihat lagi sejak kuusir tiga bulan lalu.

Dia mendadak muncul di kantor tempatku bekerja dan diperkenalkan sebagai pemilik perusahaan.

Tidak pernah sedikit pun terlintas di kepala, bahkan dalam khayalan terliar sekali pun.

Mas Rakha, suami ... tidak, orang yang sebentar lagi mungkin akan menjadi mantan suamiku .…

Selama bertahun-tahun menikah, yang aku tahu dia miskin, pengangguran, dan tidak berguna. Latar belakang keluarganya saja bahkan tidak jelas.

Bagaimana bisa kini ia menjadi pemilik perusahaan?

Di antara hiruk-pikuk para pegawai, aku hampir tidak bisa bernapas sebab udara di sekitar rasanya mendadak menipis. Sesaat jantungku berhenti berdetak, kemudian berdegub brutal seperti mau rontok, sampai aku khawatir akan terdengar oleh Mbak Maya.

Aku terguncang hebat mendapat informasi yang mendadak ini. Seperti tersambar petir di cuaca yang terik. Seperti mimpi di siang bolong .…

Atau mungkin memang sedang bermimpi?

Mbak Maya memukul tanganku yang memang tidak sopan menunjuk-nunjuk seseorang. Untungnya aku dan dia berdiri di pojok paling belakang, membuat gerakan kami tidak terlalu mencolok.

"Aneh pertanyaan kamu itu!" Mbak Maya menjawab, menatapku dengan ekspresi wajah super aneh seolah melihat makhluk asing yang baru turun ke bumi. “Ya sejak Maha Logistik berdiri lah, orang dia yang bangun. Gimana sih? Masa iya udah tiga tahun kerja di sini nggak tahu siapa bosnya!!”

Aku semakin ketar-ketir mendengar informasi yang Mbak Maya sampaikan.

Itu artinya sejak kami menikah, Mas Rakha sudah menjadi pemilik perusahaan? Bahkan sudah sangat lama sejak perusahaan tempatku bekerja berdiri? Jauh sebelum aku bekerja di sini?

Kenapa selama ini ia tidak pernah jujur?

Seluruh sendi-sendi tubuhku rasanya lemas seperti agar-agar. Saat aku mengalihkan tatapan ke depan, tidak sengaja mataku dengan mata Mas Rakha saling bertemu.

Dari wajahnya yang datar dan tidak menampilkan raut sedikit pun, dia seperti tidak terkejut melihatku. Pasti sangat berbanding terbalik dengan raut wajah saat aku menatapnya.

Mual dan mulas hampir dirasakan secara bersamaan. Ingin buang air kecil sekaligus buang air besar.

Satu-satunya makanan yang dapat diterima mulut dan perut rasanya mau keluar, padahal biasanya setelah matahari berada tepat di atas kepala, rasa tidak nyaman tersebut tidak akan pernah muncul kembali hingga pagi kembali datang.

Aku lebih dari yakin, wajah yang biasanya ku dempul tebal dengan berbagai riasan warna itu kini pucat menyerupai mayat.

Aku tidak bisa membayangkan sekacau apa wajahku saat ini.

Apa maksud Mas Rakha muncul di hadapanku dengan identitasnya yang baru aku ketahui ini?

Apa dia ingin pamer, ingin menunjukan kepadaku siapa dia sebenarnya? Apa dia ingin melampiaskan rasa dendam atas sikap buruk yang selama ini kulakukan padanya?

Tatapan kami terputus begitu Mas Rakha melangkah mengikuti Mas Farhan ke ruangan kepala cabang.

Pegawai lain kontan ikut membubarkan diri, tidak terkecuali aku.

Aku menghempaskan diri di kursi, buru-buru membuka ponsel dan mengetik di mesin pencarian google mengenai Maha Logistik. Begitu masuk, berbagai artikel mengenai perusahaan tempatku bekerja ini langsung muncul berikut kueri pencarian siapa pemiliknya.

“Melihat pesatnya perkembangan industri e-commerce di Indonesia, Rakha Mahadiputra mendirikan Maha Logistik sebagai solusi layanan logistik terpadu.”

Dari satu artikel ke artikel lain yang aku baca secara kilat demi menemukan satu nama, semuanya menyebutkan bahwa Rakha Mahadiputralah pemilik Maha logistik ini.

Aku meletakan ponsel begitu saja di meja seraya menyandarkan punggung dengan sebelah tangan memeluk dada serta tangan lainnya mengurut kening yang rasanya berdenyut-denyut.

Semua perasaan tidak nyaman bergumul di hati, rasa tidak menyangka, tidak percaya, malu, marah, gelisah. Aku bahkan tidak sadar kapan telapak tanganku terasa sedingin es batu.

Sentuhan di lengan membuatku tersentak dan kembali tertarik ke dunia nyata. Saat aku menoleh, Mbak Maya menatapku dengan raut yang tidak biasa. Mungkin heran melihatku terlihat linglung seperti anak kehilangan ibunya di tengah keramaian pasar.

"Kenapa?" tanyanya. “Mual lagi?”

Dengan jujur aku mengangguk sebab rasa ingin menguras isi perut semakin menjadi-jadi juga.

“Sebentar lagi jam pulang. Mau duluan aja?”

“Nggak, Mbak. Kuat kok. Lagian ada beberapa data lagi yang belum keinput.”

"Yakin?" Nada bicara Mbak Maya terdengar ragu, mungkin teringat terakhir kali ia bertanya mengenai kondisiku, aku berakhir muntah-muntah dan hampir pingsan di kamar mandi. “Lagian kamu nih kenapa mual-mual mulu, mana hobinya makan yang pedes-pedes sama asem pula, kayak orang hamil aja!!”

Hamil?

Aku tertawa sumbang meski tak urung pernyataan terakhir Mbak Maya membuat jantungku hampir rontok untuk kesekian kalinya.

Di kantor, memang tidak ada yang tahu bahwa aku telah bersuami. Aku merahasiakan statusku karena merasa bukan sesuatu yang penting untuk diumumkan kepada orang-orang. Terlebih, mulai sekarang sepertinya aku harus mulai mempersiapkan berkas perceraian. Biarlah orang lain tahunya aku adalah perempuan single yang belum pernah menikah sebelumnya.

"Aku masih gadis loh, Mbak!" kataku berusaha menyelipkan canda dalam nada bicara, tidak ingin mengundang kecurigaan Mbak Maya soal dugaannya meski mungkin justru sikapku tampak seperti orang yang sedang menahan hajat.

"Halah, nggak yakin aku!" jawab wanita itu, dengan nada guyon yang aku tangkap juga, mungkin tidak mau membuatku tersinggung. “Ya udah, sana lanjut kerja. Kalau nggak kuat langsung pulang, kerjaanmu biar aku yang kerjain!”

"Tapi cobain deh beli testpack. Aku curiga kamu hamil, soalnya kita kan biasanya barengan datang bulan, tapi beberapa bulan ini kamu salat terus." Mbak Maya menatapku serius. “Tenang aja, aku nggak bakal ember bocor kalau kamu beneran hamil. Kalau pacarmu nggak mau tanggung jawab, kasih tahu aku aja, biar aku hajar!!”

Setiap kata yang meluncur dari mulut Mbak Maya membuat jantungku, yang belum juga beristirahat, kembali berdegup liar. Pikiranku semakin kalut, terutama saat mengingat malam terakhir aku dan Mas Rakha bersama .…

Gimana kalau aku beneran hamil?

—tbc—

Author note:
Mohon maaf kalau ada yang ngerasa kalau novel Love Scenario ini aneh dan cacat logika ya, sebab karya ini aku tulis sekitar tahun 2019-an (pernah diunpunpublis beberapa kali jadi tanggal asli penguploadan udah ilang), udah dulu banget yang mana ditulis pas aku masih remaja. Jadi ya, nulis dulu baru mikir makanya aneh. Perlu aku rewrite kah?🤭😆

Love Scenario [REPOST]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang