Naira terkesiap saat Farzan berada di depannya. Dan jarak mereka hanya beberapa centi saja, Naira juga dapat mencium wangi maskulin milik Farzan.
Naira menahan nafasnya, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dia mengingat tentang rencananya, dan sekarang waktu yang tepat untuk menjalankan rencana tersebut. "Emm, ka-mu udah pulang?" ucap Naira sedikit gugup saat mengucapkan 'aku-kamu', karena memang dia belum terbiasa mengucapkan kata itu.
Kening Farzan berkerut saat mendengar ucapan Naira. Tidak biasanya Naira menggunakan kata 'aku -kamu'.
"Mas?" panggil Naira membuat Farzan menatapnya dengan tatapan tanda tanya.
Apa dia tidak salah dengar? Istrinya memanggil dirinya dengan sebutan 'Mas'. Oh tidak, Farzan mungkin sedang bermimpi. Tolong siapa pun tolong Farzan untuk bangkit dari mimpi indah ini.
Ets.
Dia merasa aneh dengan sikap istrinya, apalagi dia tahu Naira bukanlah orang yang cepat berubah.
"Coba ulang," titah Farzan.
Naira meremas bajunya, sekarang dia benar benar malu. Mulut lucnutnya mengucapkan kata keramat itu, dan sekarang dia bingung harus apa. Tapi, dia masih ingat dengan rencananya. Jadi baiklah tidak masalah untuk saat ini. Nanti kalau sudah diizinkan keluar rumah, dia akan kembali seperti semula.
Naira tersenyum manis, "Kamu sudah pulang?" ulang Naira.
Farzan semakin merinding dengan senyuman itu, dalam benaknya dia mengira kalau Naira sedang kerasukan jin dirumah ini, atau mungkin di rumah sakit.
"Astaghfirullah, Naira sadarlah," ucap Farzan dengan memegang kedua bahu Naira. Naira di buat bingung dengan sikap Farzan, "Lah, napa nih anak? Plis gue lagi berusaha untuk menjaga sikap ke lo," batin Naira kesal.
Farzan berpikir Naira sedang kerasukan jin, karena dari cara bicaranya sudah berbeda tidak seperti dulu.
Naira semakin bingung dengan sikap suaminya.
"Maksudnya?"
"Kamu siapa?" pertanyaan itu terlontar dari bibir tebal Farzan.
Entah apa yang suaminya pikirkan, sehingga dia menanyakan pertanyaan itu.
"Apaan sih Mas, ini aku Naira. Is-istrinya Mas Farzan," Naira menundukkan kepalanya, entah kenapa saat berhadapan dengan Farzan, dia seakan mempunyai urat malu. Padahal dulu dia tidak pernah merasa semalu ini. Ck, gue kenapa sih. Ayo Naira, jangan terjebak dengan rencana lo sendiri. Batinnya.
Farzan melepas tangannya yang memegang bahu Naira. Dia sebenarnya masih bingung dengan perubahan istrinya. Farzan mengangkat dagu Naira dengan jari telunjuknya.
Dia dapat melihat pipi Naira yang sudah semerah tomat.
"Katakan kepadaku, apa yang terjadi, hem?" tanya Farzan dengan lembut.
Seperkian detik, mereka saling bertatapan. Naira menyelami netra milik Farzan dengan intens. Dia dapat melihat sejuta kasih sayang disana.
Elusan lembut di pipinya membuat dirinya tersentak kaget.
"Emm, sebaiknya Mas mandi dulu, setelah itu kita makan bersama," ucap Naira mengalihkan pembicaraan.
Farzan semakin dibuat penasaran dengan sikap istrinya. Tapi, dia sangat senang dengan sikap istrinya yang baru ini.
"Aku akan mandi dulu," ucap Farzan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Naira yang sedang bernafas lega.
"Fiuhh, hampir saja. Ih, gue kok manggil dia Mas sih, jadi malu kan," gerutunya saat Farzan sudah benar-benar pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
02:00 (Aku menikah?!)
JugendliteraturPART MASIH LENGKAP! FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! BACA DARI AWAL JANGAN LANGSUNG BACA ENDINGNYA! Saat aku terbangun dari komaku. Aku mendapatkan dua kenyataan dalam hidupku. Pertama ayahku meninggal dan kedua aku sudah menikah. Terkejut? Sudah jelas! Aku...
