33 / Mangga muda

4.2K 154 4
                                        

Naira menghela napasnya, dia melirik Farzan sebentar. Hatinya merasa resah, ini untuk pertama kalinya dia menggunakan hijab ke kampus. Apa yang akan di pikirkan oleh mereka, saat mengetahui dirinya yang menggunakan hijab.

Farzan mengerutkan keningnya saat melihat Naira yang tampak gelisah. Dia menggenggam tangan mungil istrinya. Wanita tersebut tersentak kecil, dia menatap suaminya.

"Kenapa, hem?" tanya Farzan dengan suara lembutnya. Naira menundukkan kepalanya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya.

Farzan yang mengerti, melepas genggaman tersebut. Setelah itu dia keluar dari mobil. Farzan melangkahkan kakinya membuka pintu mobil untuk Naira.

Dia mengulurkan tangannya, namun Naira menggeleng pelan. "Tenang lah, Faizah. Ada Aa disini, Aa bakal antar kamu ke kelas." Naira tampak ragu, setelah itu dia menerima uluran tangan tersebut. Dia keluar dari mobil mewah itu dengan Farzan yang menggenggam tangannya.

Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas Naira. Tentu saja mereka mengundang banyak perhatian bagi mahasiswa/siswi yang berlalu lalang. Naira mengeratkan genggaman tersebut, dia menundukkan kepalanya. Dia tahu apa yang di lihat oleh mereka, tentu saja dirinya.

Farzan menatap tajam para cowok yang menatap kagum istrinya. Dia tidak suka jika istrinya di tatap seperti itu. Sesampainya di kelas, Farzan melepas genggaman tersebut. Dia memperbaiki hijab istrinya yang sedikit miring, setelah itu dia mencium kening Naira lembut.

Naira terdiam dengan semua yang Farzan lakukan. "Aa pergi dulu, nanti Aa jemput. Jangan nakal, assalamu'alaikum," ucap Farzan.

Naira mencium punggung tangan Farzan. "Wa'alaikumsalam, Aa hati-hati ya," ucap Naira malu-malu, karena sekarang dia menjadi pusat perhatian. Farzan menahan senyumannya, kenapa istrinya imut sekali? Ingin sekali dia mencubit pipi gembul itu.

Pria tersebut menatap jam tangannya, setelah itu dia membalikkan badannya pergi meninggalkan istrinya yang terdiam menatap kepergiannya.

"Hekhem, hati-hati yaa, A..."

"Jangan nakal ya..."

Naira tersentak, dia menatap sahabatnya dengan pipi merah akibat kejadian tadi. Gea dan Alifa seketika tertawa lepas melihat wajah blushing sahabatnya.

"Omg, ada yang blushing," goda Gea.

Naira memukul pelan tangan Gea. "Udah ih, ayo masuk," ucap Naira mengalihkan pembicaraan.

"Ciee, yang udah nikah emang beda ya..." Naira masuk ke dalam tanpa mendengarkan ocehan sahabatnya. Jika dia tetap disitu, bisa-bisa pipinya tambah memerah.

"Hey, tungguin gue." Gea berlari kecil masuk ke kelas.

Alifa tertawa pelan, saat melihat wajah malu Naira. Kapan dia bisa seperti itu, emm mungkin suatu hari nanti dia akan merasakan apa yang Naira rasakan.

Saat hendak masuk ke dalam, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. "Kak Alifa." Gadis berhijab hitam tersebut membalikkan badannya. Keningnya mengerut saat melihat teman seangkatannya.

"Iya?" Gadis berambut panjang tersebut menyodorkan sebuah kotak dengan hiasan yang sangat indah. "Tadi ada yang nitipin ini untuk Kak Alifa."

"Siapa?" tanya Alifa.

"Emm, aku gak tau namanya, Kak."

Dengan ragu Alifa mengambil kotak tersebut, dia berterima kasih kepada gadis itu. Setelah itu gadis tersebut pergi meninggalkan Alifa yang masih menatap bingung kotak tersebut.

Karena penasaran, Alifa membuka kotak tersebut dengan perlahan. Takut jika itu dari orang yang iseng, dan berniat buruk kepadanya. Namun, mata berbinar saat melihat isinya. Bagaimana tidak? Jika isi kotak tersebut adalah pakaian lengkap seperti yang sering Alifa pakai. Hanya saja itu adalah gamis yang memang dia inginkan, dan sekarang pakaian itu ada di tangannya.

02:00 (Aku menikah?!)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang