Pagi hari pun tiba, dimana semua orang akan memulai aktivitasnya. Sama seperti Naira, dia sedang sibuk menyiapkan keperluan Farzan.
Sekarang Farzan sedang berada di kamar mandi, dia tidak mengetahui kalau Naira sudah berada di kamarnya.
Saat selesai dengan ritual mandinya, Farzan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Jangan lupakan rambut yang basah karena selesai mandi.
Naira menatap Farzan dengan mulut sedikit terbuka, dia melihat pahatan yang sempurna disana dengan sixpack yang sungguh menggoda iman.
"Hekhem," deham Farzan. Naira segera menundukkan kepalanya, dia merasa malu saat tertangkap basah melihat suaminya dengan tatapan... emm menggoda.
"Emm a-aku sudah siapkan semua keperluannya kamu," ucap Naira lalu segera keluar dari kamar tersebut. Tidak lupa dia sedikit membanting pintunya.
Farzan hanya terkekeh pelan, setelah itu dia bergegas memakai bajunya.
Berbeda dengan Naira dia mengelus dadanya sambil mengatur nafasnya yang sempat terhenti. "Astaghfirullah, Naira... mimpi apa lo semalem, punya suami sempurna banget," gumam Naira saat dia tidak sengaja melihat sixpack milik Farzan.
Gadis tersebut menghembuskan napasnya. "Huft, kapan ini berakhir, gue pengen menghirup udara segar," gerutunya.
Padahal dia baru satu hari tidak keluar rumah, tapi Naira sudah sangat bosan.
Naira segera mulai memasak, dia akan membuat nasi goreng untuk sarapan kali ini. Sedangkan Bi Inah, dia sedang membersihkan rumah.
Tepat saat Naira selesai masak, Farzan turun kebawah dengan jas dokternya. Naira yang melihat hal itu dengan cepat mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng.
"Sini Mas, sarapan dulu," ucapnya lalu memberikan sepiring nasi goreng kepada Farzan.
Farzan hanya mengangguk dan mulai memakan sarapannya dengan tenang. Naira juga memberikan air minum untuk Farzan sesekali tersenyum manis.
"Emm, Mas, aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Naira hati-hati.
Gerakan Farzan terhenti saat ingin menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Dia mendongakkan kepalanya, dengan sebelah alis terangkat. "Apa?"
Naira terdiam sejenak, lalu dia mulai berkata "Aku ingin keluar rumah, aku juga ingin kuliah lagi," kata Naira dengan wajah sedihnya.
Farzan dibuat diam dengan ucapan Naira, sebenarnya dia juga kasihan melihat istrinya di dalam rumah dan tidak menghirup udara segar di luar. Tapi ini hanya sebagai peringatan agar dia bisa mematuhi perintahnya.
Dia tidak mau istrinya berdosa hanya karena tidak menuruti perintahnya. Oleh sebab itu, ketika dia ingin menyuruh istrinya, dia sudah memikirkannya berkali-kali. Agar semua perintahnya dapat di turuti oleh istrinya. Tapi meskipun begitu, istrinya tetap saja membantah.
Mungkin dengan cara seperti ini Naira akan sedikit berubah.
"Aku...." Farzan terdiam sejenak.
"Tidak mengizinkanmu untuk keluar rumah," lanjut Farzan membuat bahu Naira merosot. Dan sekarang Farzan sudah tahu kenapa istrinya berubah.
Naira berdecak kesal, tapi dia masih belum menyerah. Dia harus mendapatkan apa yang dia mau.
"Ayolah, Mas Farzanku yang sangat tampan. Izinkan istrimu yang cantik dan baik hati ini keluar rumah, ya ya ya," mohon Naira.
Farzan hanya meliriknya sebentar, dia menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa istrinya ini terlalu keras kepala, padahal dia sendiri yang setuju dengan hukuman ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
02:00 (Aku menikah?!)
Teen FictionPART MASIH LENGKAP! FOLLOW SEBELUM MEMBACA!! BACA DARI AWAL JANGAN LANGSUNG BACA ENDINGNYA! Saat aku terbangun dari komaku. Aku mendapatkan dua kenyataan dalam hidupku. Pertama ayahku meninggal dan kedua aku sudah menikah. Terkejut? Sudah jelas! Aku...
