"Jadi ke rumah gak Nut?" Sesaat setelah panggilan telepon tersambung dengan nama Peanut--panggilan Daniela untuk Aileen. tertera di layarnya.
Tak ada jawaban di seberang sana hingga Daniela harus memastikan lagi panggilannya masih tersambung. "Nut? ini nyambung ko gada suaranya?"
Hanya terdengar helaan napas panjang yang berat di ujung sana sebagai jawaban, sebelum akhirnya Alin bersuara. Baritonnya serak dan bergetar.
"Dan, lu kemaren jalan sama Mahen?"
Ada sesak yang mengeras dalam dadanya, badannya menggigil hanya untuk mendengar jawaban Daniela.
Ia merapal dengan gencar, semoga matanya salah, semoga kemarin hanya kesalah pahaman. Semoga semuanya tidak benar. Ia tak henti-hentinya berkilah, tak henti-hentinya meyakinkan diri bahwa semua kekacauan di kepalanya salah.
Sebab kalau dugaannya benar terjadi, Alin tak tahu harus bagaimana menghadapi hatinya--lagi. Ia terkoyak berkali-kali. Ia takut setengah mati.
Jeda panjang membuat Aileen semakin mengerang frustasi. Hampir 2 hari dirinya tak terpejam, karena setiap kali matanya mengatup kilas balik adegan romantis di depan rumah Daniela membuat gadis itu harus kembali menangis, lelah, merehatkan dirinya, denial, lalu menangis lagi.
"Jadi bener? Lu jadian?"
Daniela masih membisu, pun Aileen yang semakin terpuruk. Bingung dengan respon temannya yang membuatnya semakin tertutup tanah. Dikubur hidup-hidup. Sekuat apapun ia menggali dari dalam, tanah-tanah luka semakin menguburnya tak memberi waktu untuk berpikir, selain pasrah.
Baginya, diamnya Daniela adalah sebuah jawaban mutlak. Serta kebetulan-kebetulan lain beberapa waktu lalu yang dibumbui baik sangkanya Aileen--yang menganggap semua sebagai ketidak sengajaan. Semua semu.
Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Ketika pada detik sekian dalam sambungan telepon itu membuat insting Aileen berteriak kencang memberitahunya bahwa itu benar Mahen.
Mahendra Tama Son. Yang selama ini ia ceritakan dengan gamblang dan rinci pada Daniela, cerita yang terus berubah dengan tema yang sama. Bahwa ia sangat menyukai Mahen. Lelaki yang mengecup Daniela sebelum berpisah kemarin sore. Ironi.
"Lu kan tau gue suka Mahen, Dan. Ko bisa bisanya lu--"
"Kalo gue bilang, gue juga suka Mahen gimana?"
Deg!
Tak terdegar suara selain deru napas Alin yang tersengal, ada asteroid besar yang menghantam dadanya, meninggalkan lubang besar yang menganga dibiarkan begitu saja. Ia nyeri sampai lupa bagaimana cara bernapas dengan benar. Ia luluh lantak.
Dari sekian banyak manusia, kenapa mereka harus menyukai orang yang sama, kenapa bukan orang lain saja.
Kalau itu orang lain, mungkin ia tak sesakit ini. Tapi kenapa harus Daniela, orang yang ia percaya mampu mengerti perasaannya. Rasanya kedua kakinya dicengkeram, ditarik hingga ke dasar laut tanpa bisa melawan selain terbawa arus. Tak ada jalan pulang bagi Alin, selain bercengkrama dalam sembilu.
Daniela yakin temannya itu sedang membekap mulutnya rapat-rapat, menahan tangis. Entah setelah ini apakah ia masih pantas disebut teman. Daniela tak yakin itu.
Ia sudah terlalu dalam menorehkan kecewa juga mengoyak kepercayaan seorang Alin.
Pikirannya kosong. Bohong jika ia tak merasa bersalah melontarkan kalimat itu.
Lama hening bersarang semakin menyesakkan keduanya.
"Lu gimana?" Tanyanya sekali lagi. Suaranya melirih.
Entah keberanian darimana Daniela akhirnya mengungkapkan isi hatinya. Ia sama sesaknya seperti Alin, ia juga menyukai Mahen sama seperti Alin, bedanya selama ini ia hanya bisa memendam perasaan itu. Dan Mahen dengan tegas datang kepadanya, bukan pada Alin.
Seperti Alin yang minta dimengerti, Daniela juga berharap hal yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT [NCT]
Teen FictionPerasaan itu ibarat warna, kadang biru kadang abu-abu. Tapi karena warnawarni itu hidup jadi lebih layak disyukuri. Kenapa? Ya karena cinta aja gak cukup. Ada banyak hal kompleks yang bertumbuh bareng perasaan lain. #7-gfriend 19/10/22 #5-gfriend 21...
![IRIDESCENT [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/306840329-64-k228187.jpg)