Sampai kapan?

81 14 12
                                        

"Banyak banget Junooo.. kamu mah ih semuanya dimasukin troli." sungut Ara setelah meletakkan kembali sekotak stroberi dan anggur ke tempatnya.

Hampir sepenuhnya troli diisi dengan list belanja Juno, yang sebenarnya ia hanya meletakkannya dengan asal. Padahal Ara hanya memerlukan beberapa bungkus permen dan alat mandi.

"Buat Teh Aya juga."

"Teh Aya gak suka stroberi," Ara menghela napas pendek, menarik troli menjauh dari blok buah-buah segar. Berbelok pada blok sayur dan mengambil beberapa pakcoy dan sawi. Sebungkus mie pedas bercampur telur dengan irisan sawi putih dan tahu sepertinya sangat nikmat untuk disantap malam ini. 

Ara segera merogoh tasnya mencari ponsel dan mengetikkan beberapa pesan singkat. 

"Dia tuh sukanya duit." kelakarnya sembari meringis, lalu kembali meletakkan benda pipih itu ke saku jaketnya.

"Ya elah, masih kurang banyak gimana lagi sih Ra," protes Juno menatapnya jengah, kedua tangannya dengan bebas bersembunyi di balik saku hoodie yang sudah tiga hari belum dicucinya. "Pundi-pundi duit kalian tuh bisa beli mal Cihampelas cash. Masih aja haus duit."

Ara tergelak. "Ya gak gitu juga Jun, lebay amat ih. Kalau beli satu stand Dubai mall sih masih kuat."

"Gak usah bragging, ngeselin lo Ra."

"Diiih, off baperan." Tangannya dengan leluasa mengacak poni Juno sewaktu ia menunduk, memilih butter. Sontak membuat lelaki itu semakin memberengut diperlakukan seperti anak kecil.

"Mau gue gigit?"

"Wow.. galak banget." godanya sembari terkekeh lepas. Berjongkok di dekat Juno yang tengah sibuk melihati komposisi, Ara menangkup pipinya dengan raut serius menatap Juno seksama.

"Orang-orang tuh kenapa sih harus putus? Apa mereka gak sayang gitu sama momen yang selama ini dilewatin bareng-bareng?" ucapnya, seolah bermonolog pada dirinya sendiri. 

Ara kembali mendengus pelan ketika balasan Tetehnya tadi begitu membuatnya runyam. Sudah beberapa bulan sejak tetehnya putus dari Yudha, Ara bahkan hampir tak pernah mendapati kakaknya itu di rumah. Aya selalu pulang larut dan berangkat kerja sepagi mungkin.

"Lu?"

"Bukan, Teh Aya."

Juno mengangguk lamat kemudian bangkit, mendorong pelan troli menuju kasir. 

"Dari Teh Aya aku belajar banyak hal, Jun. Kalau kekuatan cinta itu mirip kaya Sailor moon. Tiriring, dengan kekuatan bulan gitu deh pokoknya."

"Apa sih Ra.. pakai kekuatan bulan segala." Terkekeh tentu saja, sedangkan Ara mulai memanyunkan bibirnya tanda kesal.

"Ih! Aku serius. Coba bayangin deh, habit Teh Aya tuh udah mendarah daging soal perjendelaan. Dia itu paling gak suka kalau pagi gorden kamar dibuka, ngomelnya bisa sampai siang. Pas hari itu aku liat sendiri dengan mata kepalaku, Teteh jam 5 subuh yang mana hari masih gelap banget, dia buka gorden sambil full senyum. Aku yang liatnya jadi horor tau."

Ceritanya hanya diangguki lamat oleh Juno, sedangkan Ara kembali melanjutkan kata. Keresahannya tentang tetehnya belum selesai di sana.

IRIDESCENT [NCT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang