Rintik hujan
Seorang lelaki semampai berjalan santai, menikmati sore yang cerah dengan matahari yang masih enggan untuk sembunyi. Padahal sekarang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore waktu Indonesia bagian barat.
Kulitnya yang pasi seolah hidup disirami cahaya kemuning jingga, membuatnya terlihat lebih elok.
Sesekali ia bersiul menyenandungkan lagu dari earphone-nya menuju ke rumah.
Ia berhenti sejenak di depan toserba melepaskan earphone-nya, cukup lama ia berdiri dengan ragu di depan toko. Berpikir keras seolah batinnya sedang beradu apakah ia harus singgah atau menuntaskan perjalanannya ke rumah.
Drrtt Drrtt
Ia mengecek ponselnya, sebuah pesan singkat sukses membuatnya tersenyum sangat lebar menampilkan jejeran giginya yang rapi dan membuat ceruk indah pada kedua pipinya dengan sempurna. Membuat siapa saja yang melihat agaknya merasa sedikit ngeri dan bertanya-tanya.
Juno Baswara, namanya. Lelaki itu menaruh kembali ponselnya kedalam saku dengan hati berbunga. Kabar baiknya, Tamara Solyn—pujaan hatinya yang didamba selama ini, akhirnya telah kembali dari Swiss setelah dua tahun lamanya. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam rasa suka. Dan Juno masih di perasaan itu; hampir layu.
Bagi Juno, kabar kembalinya Tamara tak ubahnya seperti air hujan yang merembes dari celah genteng. Hatinya sudah terlalu gersang bercumbu dengan rindu. Apalagi obat rindu selain bertemu?
Lalu ia melangkahkan kaki memasuki toserba di depannya. Menyusuri rak-rak yang berjejer rapi.
Pikirannya melayang, hatinya kepalang senang membayangkan seperti apa pertemuannya nanti sambil memilih makan malam. Pilihannya jatuh pada sekaleng kopi instan dan nasi bento rendang, untuk makan malam ini. Lalu ia beranjak menuju kasir, fokusnya dibuyarkan oleh sosok perempuan di depannya.
"Totalnya sekian ya kak." kata kasir yang tengah melayani pembeli di depannya.
Wanita itu merogoh saku baju dan mengeluarkan isi dompetnya, ia kembali sibuk mencari sesuatu disakunya yang lain. Tak enak dengan pembeli yang lain, ia mempersilahkan pembeli lain untuk maju duluan sambil sibuk menelepon seseorang.
"Pake Card gue aja mba, sekalian ini." Juno mengeluarkan kartu gesek warna gold di kasir sambil menaruh belanjaannya "sekalian masukkin ke point ya mba"
"Eh, Gak us—"
"—Gak papa, biar cepet." ucapnya sambil melirik pelanggan lain yang tengah mengantri.
"Baik mas. Atas nama Juno Baswara ya, Mas?" tanya kasir memastikan data yang ia input sudah benar.
Dia hanya mengangguk kecil dan membereskan belanjaannya. Melangkah cepat meninggalkan kasir.
"Eh tunggu.." Arin tergopoh. "Kurangannya gue gantiin ya.."
Juno menatap wanita itu seksama, memakai sweater biru ceraka oversize dan kacamata bulat dengan rambut pendeknya.
"Nama?"
"Eh? Arin.." Arin tergagu.
"Teh!" Teriak Rendika dari kejauhan, menghampiri Arin yang ada di depannya. "Udah bayar belum Teh?"
Anak SMA? - batin Juno
"Kurangannya gue gantiin." ucap Arin meraih uang yang dibawa adiknya.
"Sini HP lu." Juno merebut ponsel Arin yang digenggamnya dan memencet tombol-tombol, berdering. Lalu ia mengembalikan benda itu ke Arin yang berdiri menatap Juno keheranan. Agak kurang sopan memang.
"Kapan kapan aja bayarnya." Juno beranjak dan meninggalkan Arin yang masih mencerna kejadian tadi.
"Saha?"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT [NCT]
Fiksi RemajaPerasaan itu ibarat warna, kadang biru kadang abu-abu. Tapi karena warnawarni itu hidup jadi lebih layak disyukuri. Kenapa? Ya karena cinta aja gak cukup. Ada banyak hal kompleks yang bertumbuh bareng perasaan lain. #7-gfriend 19/10/22 #5-gfriend 21...
![IRIDESCENT [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/306840329-64-k228187.jpg)