Hampir setahun Rania bekerja di perusahaan bonafit, lumayan membuatnya belajar banyak hal tentang dunia kerja. Teman-temannya juga cukup suportif, cukup menerima karyawan baru sepertinya dengan nol pengalaman kerja. Telaten dan sabar mengajari Rania yang agak tertutup dan hati-hati. Apalagi Mbak Betty, orang yang paling bersedia direpotkan Rania kapan pun.
Tapi namanya kerja dan setiap orang dewasa punya masalah masing-masing. Rania tidak mungkin merepotkan Betty dan teamnya terus menerus. Dengan didasari inisiatif, Rania report tugas yang sebenarnya belum sepenuhnya ia pahami.
Tak ayal, begitu email diterima, Rania harus masuk ruang manajer dan berlanjut ke personalia. Fatal.
File meeting klien salah total. Dia harus kembali merombak detail isinya, ketika para karyawan berbondong-bondong pulang. Dia harus dengan lapang dada kembali berkutat di mejanya, seorang diri.
Lapar, perih, sesak dadanya menjadi satu. Belum lagi betapa ribut isi kepala dan perasaan bersalah yang dari tadi menemani sepanjang laporan itu di susun ulang.
Sepertinya kali ini Rania kembali merasakan maag, sebab dari siang hingga pukul 8 malam tak satu suap pun nasi yang mampir ke lambungnya. Hectic.
Yang ia pikirkan hanya satu; cepat selesai dan pulang.
Pak Jaka, satpam kantor bahkan harus berkali-kali menengoknya—sekedar menanyakan keperluan Rania barang kali ia perlu cemilan atau teman ngobrol.
Ada sedikit perasaan lega, tapi lebih banyak khawatir yang ia rasakan ketika final file itu kembali ia kirim melalui surel. Jam 9 malam lewat 17 menit, gadis itu bangkit menutup hari kerjanya. Mematikan monitor dan memilih pulang dengan berjalan kaki.
Sepanjang jalan obsidiannya tenggelam, meremang bersama sinar bulevar malam itu. Tak peduli dengan orang yang berapa kali menatapnya dengan tanda tanya, Rania memilih menunduk dalam-dalam menyembunyikan air mukanya yang hampir menangis—di tahan sepanjang jalan.
Helaan demi helaan napas berat menggantung, memenuhi katup oksigennya menjadi sesak—dihembuskan perlahan, berharap ada sedikit lega.
Setenang apapun hari ini, jelaga pekat tetap menyusup, menyisir setiap serat nadi membentuk lubang hitam yang menganga. Menyedot semua energi dan emosinya. Lelah.
Kenapa akhir-akhir ini capek banget, kenapa banyak hal yang gak semulus harapannya, apa yang salah sama Rania, dan berbagai pertanyaan lain yang masih belum ketemu jawabnya, membuat Rania seolah berlari ditempat yang sama.
Kadang kala, ada momen di mana rasa putus asanya lebih besar hingga ia merasa ingin menenggelamkan dirinya dalam laut yang dingin dan menahan napas yang sangat lama, atau kadang tiba-tiba jiwanya memekik nyaring hingga ingin menabrakkan diri pada bahu jalan dengan kekuatan penuh hingga tulangnya remuk berkeping-keping. Tapi yang bisa dilakukannya hanya menghela napas berat sambil menahan mata yang memanas. Lagi.
Ada perasaan pedih yang naik ke permukaan. Mengingat harinya yang akhir-akhir ini begitu melelahkan. Tak dapat dipungkiri, masalah membuat tegap bahunya semakin hari kian merosot. Meskipun tegar kadang menjadi pondasi penegak bahu sempitnya, tapi itu tak berlangsung lama. Karena setiap dirinya rebah di rumah, begitu juga mentalnya. Rania sekarat.
5km, cukup bagi loafer barunya menganga lebar. Tak tanggung-tanggung, bahkan sepasang sepatu itu memilih menyerah menemani tungkai Rania yang lecet-lecet—ditumbuk aspal.
Setidaknya malam tidak membuat kakinya tersengat terik matahari karena kali ini, alas kakinya sudah terlepas dan dijinjing begitu saja.
Tak jauh berjalan tanpa alas, Rania mendudukkan dirinya pada bangku panjang tepi jalan. Menatap malam yang semakin temaram, bersama sinar matanya yang terkatup, ditutup kabut kelam.
Di bawah pendar lampu kota, Rania mencoba mengatur napasnya yang mulai tercekat dengan mata yang memanas. Rasanya pusing, hingga berakhir dengan tatap pada ujung sepatunya yang koyak.
Ketika matanya sibuk menjadi bendungan yang airnya hampir meluap, sepasang sepatu vans muncul tiba-tiba tepat di depan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT [NCT]
Teen FictionPerasaan itu ibarat warna, kadang biru kadang abu-abu. Tapi karena warnawarni itu hidup jadi lebih layak disyukuri. Kenapa? Ya karena cinta aja gak cukup. Ada banyak hal kompleks yang bertumbuh bareng perasaan lain. #7-gfriend 19/10/22 #5-gfriend 21...
![IRIDESCENT [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/306840329-64-k228187.jpg)