"Udah landing kan? Harusnya udah keluar, ko sampe sejam gini belum nongol sih Ra?"
Ara hanya mendengus, ia sama sebalnya menunggu lama di sini bersama Juno, menunggu temannya yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Dari tadi yang ditelepon tidak mengangkat, spam chat-nya juga tidak dibaca--semakin membuatnya sebal. Apa jangan-jangan dirinya sedang di prank? Atau anak manusia ini ketiduran di pesawat? Mana mungkin.
"Bentar, tunggu 10 menit lagi. Kalo gak ada kita pulang."
Hampir 5 menit berlalu. Dengan tatapan yang sudah kesal menunggu, Ara memicingkan mata pada sosok yang tengah tersenyum lebar tanpa rasa bersalah, berjalan mendekatinya dengan backpack besarnya dan satu koper kecil.
"Tamayaaaa!" Serunya sambil melebarkan tangan. Sontak langsung dihadiahi gebukan panas dari Ara yang bersungut.
"Lama banget sih Jek! Gila apa, untung aja gak aku tinggal."
Yang di panggil Jek hanya terkekeh keras sambil menangkup pipi Ara gemas. "Ada problem tadi di bagasi, tapi aman ko."
Juno sedari tadi berdiri mengamati, tangannya sudah gatal hendak memisahkan mereka berdua. Interaksi mereka membuatnya sedikit gemas, juga ingin menengahi. Iri.
"Ehem," ia berdeham sedikit keras agar Ara sadar, dia melupakan Juno yang dari tadi berdiri seperti patung pancoran. Di acuhkan.
"E-eh, kenalin, Ini Juno. Dan ini--"
"Jake."
Pungkasnya diiringi cengiran lebar, menyodorkan tangannya terlebih dulu untuk disalami. Untuk pertama kalinya juga Juno tertegun lama sebelum menjabat tangan kekar dengan urat mencuat yang kentara, tangan yang hampir penuh ditutup oleh tato, tindiknya bahkan sampai di alis dan bibirnya persis anak punk.
Juno menatapnya sangsi, roman-romannya dia bukan lelaki yang punya background bagus. Dilihat dari tatonya saja sudah terlihat seperti bocah rebel yang suka mabuk keluar masuk diskotik. Bisa-bisanya gadis seperti Ara bergaul dengan lelaki di depannya. Ia tak suka dengan Ara yang terlihat tak menyaring lingkup pergaulannya.
Well, manusia tidak boleh melihat sampul saja, kan. Jadi sebelum persepsinya semakin liar, Juno dengan getol menghalau itu dan mensugesti bahwa ada sesuatu yang baik dari diri Jake sehingga Ara bisa dekat dengan lelaki itu.
"Kita mau ke mana nih Ra?" Tanyanya sambil membukakan pintu mobil untuk Ara.
"Langsung hotel aja kali ya, Jake?"
"Makan dulu deh, gue kangen makan nasi." Sahut Jake di kursi belakang, langsung merebahkan diri dan menutup rupanya dengan beanie hat hitam.
"What kind? Soto gimana?"
"Soto babat kalau ketemu deh Ra. Bangunin gue ya ntar."
Ara mengangguk, yang pastinya tak dilihat begitu saja oleh Jake.
"Kalian satu prodi Ra?" Begitu tanya Juno ketika mobil baru saja melesat, membelah jalanan meninggalkan area bandara yang sangat lenggang. Kembali pada jalan utama Bandung yang padat sesak seperti hari biasanya.
"Iya, sekelas. Apartemen deketan juga. Sampe aku muak ketemu dia terus."
"Oh iya?" Ini satu fakta baru yang cukup mengejutkan bagi Juno, yang membuatnya semakin tak enak hati, bisa dibilang--khawatir atau mungkin iri?
Dari spion mobil Juno sesekali mencuri pandang pada lelaki yang tengah terantuk-antuk kaca mobil.
"Kita lebih sering house party kalau lagi homesickness bareng anak lain Jun, lumayan ngobatin kangen lah sama makanan Indo. Nah, si Jake ini selalu kebagian jadi seksi konsumsi, masakannya not bad lah."
KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT [NCT]
Ficção AdolescentePerasaan itu ibarat warna, kadang biru kadang abu-abu. Tapi karena warnawarni itu hidup jadi lebih layak disyukuri. Kenapa? Ya karena cinta aja gak cukup. Ada banyak hal kompleks yang bertumbuh bareng perasaan lain. #7-gfriend 19/10/22 #5-gfriend 21...
![IRIDESCENT [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/306840329-64-k228187.jpg)