Time to say goodbye

70 16 12
                                        

"Beneran gak ngabarin Teh Aya, Bang?"

"Gak perlu lah."

Arin menghela napas panjang, sedangkan Yudha menatap langit-langit bandara. Besok ia sudah mulai kembali bekerja. Di hari Minggu siang kali ini agaknya langit sedikit mendung. Semoga saja tidak sampai membuat jadwal penerbangannya delay.

Arin menyurukkan ponselnya, lagi-lagi menghela napas yang kali ini semakin berat. "Teh Aya nanyain, kalau saranku Abang pamit baik-baik. Meskipun kalian pisah bisa dibilang gak estetik sama sekali."

Seketika Yudha tertawa getir, memangnya perpisahan estetik yang bagaimana? Mungkin maksud Arin alasan mereka berpisah yang sangat disayangkan Arin.

"Gak usah," tuturnya lembut. "Entar susah move on kalau dikit-dikit kasih kabar."

"Ya gak papa, siapa tau bisa balikan. Kita gak tau jodoh kan, kalau gak ikhtiar."

"Cerewet banget sih lu." balasnya dengan tangan yang sibuk menarik pipi Arin—gemas, membuat sang empunya mengaduh kesakitan.

Dengan luapan emosi dan wajah memberengut, Arin tak segan melayangkan tinju panas pada dada bidang abangnya hingga lelaki itu harus mundur beberapa langkah sembari menampilkan wajah paling nelangsa.

Kalau jodoh dari ikhtiar, mungkin Yudha memang bukan jodoh yang dimaksud Arin. Dari segala harapan dan persentase peluang, Yudha sudah lebih dulu mengikhlaskan perpisahannya dengan Aya. Sebelum semua lebih menyakitkan untuk keduanya.

"Jaga diri, Dek." Pesan Yudha. Surai lembut Arin dibelai dengan kasih sayang. Abang selalu berlaga begini kalau sudah dihadapkan perpisahan. Kalau dibuat rank manusia mellow, Yudha jelas jadi urutan teratas di keluarga Ren. Meskipun Yudha tampak garang macam abang preman, aslinya lelaki itu punya hati macam hello kitty, dia tak segan meraung-raung ketika menonton serial kartun Tom and Jerry—di mana banyak orang harusnya terbahak-bahak. Yudha tersedu-sedu memikirkan betapa depresi dan malangnya Jerry yang tak pernah bisa hidup tenang dikejar Tom.

Getar terenyuh sampai matanya, perlahan mengembang dengan sendirinya. Rasanya sudah lama ia tak mengamati lekuk manis rupa Arin. Sejak merantau bekerja jauh dari keluarga, Yudha jadi jarang pulang. Jarang membersamai kedua adiknya, memeluk hangat manusia yang selalu menyambutnya. Menyisipkan rasa aman dan nyaman yang tak pernah ia temui di mana pun. Mereka adalah alasan kuat Yudha semangat menyambung hidup.

Adik kesayangannya itu masih saja menggemaskan padahal umurnya sudah kepala dua. Tak ada yang berubah, Arin baginya masih tetap menjadi adik yang lucu sejak ia pertama kali lahir ke dunia.  Semenjengkelkan apa pun Arinata Shofi. Tak ada yang bisa menggeser Arinata sebagai prioritas Yudha. Meskipun Arin sering mencuri kaos metal kesayangannya atau diam-diam membawa mobil tanpa seizinnya. Seakan tak rela, rengkuhan Yudha perlahan mengerat. Cukup lama mengelus punggung gadis itu dan sesekali pengecup puncak kepalanya dengan syahdu. Jangan salah, abang ini jenis lelaki paling romantis meskipun kadang membuat Arin darah tinggi dulu.

"Punya pacar jangan digebukin mulu. Karunya pisan, badan udah kerempeng gitu ah, dia itu harusnya banyak disayang-sayang." selorohnya dengan kikikan mengejek. Menjengkelkan memang. Disaat harusnya keadaan mengharu, dengan gaya andalan tengik Yudha masih sempat menjahili Arin yang siap menendang abangnya jauh-jauh.

Siapa yang sangka ternyata Dimas berakhir menjalin asmara dengan adiknya. Pernah sempat Yudha jahili hingga pemuda itu berakhir mencret tiga hari. Yudha bahkan tidak tahu level toleransi pedas Dimas sepayah itu hanya karena menghabiskan seblak level 2.

Kekanakan memang, tapi begitulah Yudha menjaga Arin. Menjauhkan dari hal-hal yang kiranya tak baik, tidak mengenakkan, bahkan menyakiti adiknya. Yudha akan pasang badan paling depan. Akan selalu ada rasa tak rela setiap Arin dekat dengan lelaki manapun selain dari anggota keluarga. Arin, anak perempuan, adik kesayangannya. Dia manusia berharga bagi Yudha. Meskipun tak jarang hal itu membuat Arin gondok—merasa segala urusannya dicampur tangani Yudha. Bahkan Papa dan Rendika yang notabene punya mulut lemes aja gak segitunya mengulik privasi Arin.

IRIDESCENT [NCT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang