"Kenyamanan bukan berarti aman"
-etnan-
"Lupa itu untuk laki-laki, kalau untuk perempuan ya lubu namanya"
Gadis berambut sebahu itu menghela napas. Sedangkan lelaki yang ada dihadapannya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Lo nggak khawatir?" Tanya gadis itu.
"Khawatir kenapa?"
"Khawatir sama first impression gue ke lo"
"Kalau itu penting buat lo, berarti yang khawatir lo, bukan gue"
"Ngomong apa sih lo? Kenapa jadi ke gue? Nggak jelas!"
"Ya kalau jelas kita udah jadian sekarang"
Gatha pun langsung beranjak pergi dari sana karena kalau tidak, kepalanya akan meledak karena lelaki itu.
Etnan. Lelaki menyebalkan yang menjadi siswa baru di SMA Radiza. Ia masuk XI IPS 2, sekelas dengan Gatha. Gatha sudah harus siap-siap bahwa hidupnya mulai sekarang akan tidak nyaman.
Siapa sangka, Etnan malah menyusul langkah Gatha perlahan agar gadis itu tidak tahu bahwa ia mengikutinya dari belakang. Tapi, Gatha bukan gadis yang mudah dibodohi.
"Gausah ngikutin gue!" Teriak Gatha. Gatha pun tersentak mendengar teriakannya sendiri, ia tidak sadar telah berteriak hingga mengundang banyak pandangan kepadanya dan pada lelaki yang sudah membuat kesabarannya habis ditambah rasa malu!
Gatha mempercepat langkahnya dan berusaha untuk stay cool dengan rasa malu yang ia bawa. Ini baru hari pertama, loh!
***
Rine, teman sebangku sekaligus sahabat Gatha tertawa kecil melihat wajah Gatha yang seperti ingin memakan orang. Ya. Tidak salah, Gatha memang ingin memakan lelaki menyebalkan itu.
"Tha, udah biarin aja"
"Udah gue biarin! Tuh cowok emang muka tembok!"
"Tapi lucu tau dia, apalagi waktu perkenalan"
Bu Yuna masuk ke dalam kelas dengan seorang lelaki yang mengikutinya dari belakang.
"Anak-anak, kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan diri kamu" Ucapnya ramah dengan senyuman yang tidak kalah ramah.
Lelaki itu tampak bersiap-siap sebelum berkenalan, "Hmm! Hmm! Halooo!!! Nama gue Etnan. Nggak perlu tau nama panjangnya karena belum tentu bakal nikah"
Seluruh murid yang duduk menyaksikan dan mendengarkan ucapan lelaki itu sontak bersorak sedangkan Bu Yuna hanya menggelengkan kepalanya.
Kedua bola mata Etnan fokus pada gadis yang sepertinya tidak tertarik kepadanya. Bukan sepertinya lagi, tapi memang tidak tertarik!
"Yaudah sekarang kamu duduk disana" Ucap Bu Yuna sambil menunjukkan kursi dimana Etnan akan duduk.
Etnan mengangguk sopan dengan pandangan yang tidak lepas dari gadis itu. Gadis itu sedang membaca buku, buku sepertinya lebih menarik daripada dirinya.
Ya. Jelas saja. Buku memiliki segalanya, sedangkan dirinya seadanya.
"Haduh haduh lo nggak salah? Lucu dari mana! Nyebelin yang ada!" Ucap Gatha membuyarkan lamunan Rine.
"Aduh, Tha! Dia nyebelin sama lo doang! Harusnya dari situ lo sadar!"
"Sadar kenapa? Gue nggak pingsan!"
Rine menghela napas kasar, entah mengapa sahabatnya itu mendapat nilai tinggi dalam setiap mata pelajaran sedangkan dalam percintaan nol besar.
"Yaudah mending lo baca buku aja dah, gue mau ke kantin" Jawab Rine yang terdengar lemas dan pasrah.
"Gue nitip cilok!"
***
Satu bungkus cilok tiba-tiba saja berada dihadapan Gatha yang sedang anteng membaca buku. Ia pun tersenyum sambil mengambil bungkus cilok itu.
"Makasih!"
Saat Gatha membuka bungkus cilok itu, kedua matanya bergerak melihat ke depan dan ia pun sontak menjatuhkan cilok tersebut.
"ETNAN?!"
Etnan tampak sedih melihat cilok yang terjatuh memeluk lantai.
"ELO YANG BELIIN CILOK?"
"Stttttt! Santai aja kali, udah kayak dibeliin cilok sama Justin Bieber" Jawab Etnan yang jelas semakin membuat Gatha kesal.
Tenang, Gatha, tenang. Lo pasti bisa ngadepin kadal ini!
Gatha mengatur napasnya agar tidak marah dan tetap calm.
Rine pun datang menghampirinya dengan wajah tanpa dosa. "Kenapa? Kok pada diem? Lagi bicara dalam hati, ya?" Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Rine cantik, gue kan tadi minta tolong beliin ciloknya ke elo, kok yang ngasihnya bukan elo?"
Rine tampak sedang mencari alasan yang masuk akal. "Tha. Tadi gue mau beli batagor, dan itu ngantri! Gue gamau lo kelaperan nungguin cilok lo, untung ada Etnan yang bersedia nganterin ciloknya ke lo. Kalau nggak? Lo udah mati kelaperan dan nanti gue dipenjara!"
Gatha tersenyum, "Alasan yang bagus, boleh sekalian dicatat, apa ya enaknya? Death note?"
Rine terlihat merasa bersalah. Lebih tepatnya berpura-pura merasa bersalah sambil memakan batagornya.
"Udah sih! Nggak gue kasih racun juga. Sayang tau! Ciloknya malah dibuang!" Ucap Etnan sambil mengambil cilok yang sedari tadi tergeletak dilantai. Untung saja cilok tersebut tidak keluar dari bungkusnya.
Etnan pun beranjak pergi, namun sebelum itu, Gatha mencegahnya.
"Itu ciloknya ngapain lo bawa?!"
"Ya, lo gamau kan? Yaudah buat gue" Jawab Etnan sambil memasukkan cilok pertama ke dalam mulutnya dan langsung melangkahkan kakinya menjauhi Gatha dan Rine.
"Tha. Tadi udah lo makan belum ciloknya?" Tanya Rine sambil mengunyah batagornya.
Gatha mematung namun mulutnya masih bisa menjawab pertanyaan Rine, "Belum. Tapi tadi udah gue gigit plastiknya"
Rine melotot dengan mulut penuh batagor dan mengambil tangan Gatha untuk bersalaman. Gatha tidak menolak karena ia masih mematung dengan pandangan yang entah kemana dan pikiran yang entah dimana.
"Selamat! First kiss karena cilok!"
***
HHAALLOO!!
Thank u for coming and reading this story. Please stay here and see u for the next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
etnan
Teen FictionNamanya Etnan. Ia sangat suka coklat. Namun, kemanisan coklat itu tidak bisa mengubah kepahitan hidupnya. Tapi, ada yang lebih ia suka daripada coklat. Gatha. Seorang gadis yang membuat banyak halaman baru dalam hidupnya. Ia rela untuk tidak makan y...
