15. Menit

17 1 4
                                        

"Dan perasaan itu terus mengalir walau tanpa aliran"-E

-etnan-

"PAK, TUNGGU!"

Gatha berlari secepat mungkin dengan napas yang tidak beraturan. Rambut yang diikat kuda itu menjadi sedikit berantakan dan resleting tasnya sedikit terbuka juga tali sepatu yang terlepas dari ikatannya. Tapi, Gatha tidak peduli dengan itu semua, yang terpenting sekarang adalah..

Senyuman Pak satpam terukir indah dengan tatapan mata yang tajam seolah menertawakan para murid yang terlambat.

Gatha menghembuskan napas pasrah. Peraturan disekolah ini jika ada murid yang terlambat, ia harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali dengan tas atau apapun yang mereka bawa tidak boleh disimpan.

Kini Gatha sudah mengelilingi lapangan tujuh kali. Ayo, sebentar lagi! Ucapnya menyemangati diri dalam hati.

Tas yang berada dipunggungnya berpindah ke tangan kanannya. Karena punggungnya sudah tidak kuat menahan tasnya. Entah tasnya yang cukup berat atau dirinya yang termasuk ke dalam remaja jompo. Pilihan yang pertama adalah ketepatan, dan pilihan yang kedua adalah kejujuran.

Tiba-tiba seorang lelaki menarik tasnya dengan cepat. Gatha pun tersentak dan langsung mengejar lelaki itu. Namun, sepertinya hukuman lelaki itu sudah selesai sehingga bisa masuk ke dalam kelas sedangkan dirinya masih tiga putaran lagi.

***

"Tumben lo telat, Tha"

Gatha menghembuskan napas, "Kesiangan"

Rine mengangkat kedua alisnya seolah tidak percaya, "Seorang Gatha yang rajin dan disiplin bisa terlambat? Keajaiban dunia" Ucapnya sambil tepuk tangan.

"Gue juga manusia kali, wajarlah"

Rine pun merangkul pundak sahabatnya itu, "Okey, terus sekarang lo mau makan apa? Biar gue beliin, lo pasti nggak sarapan, kan?"

Mendengar itu, Gatha memicingkan matanya pada Rine, "Lo kena angin apa? Tumben mau traktir gue"

Rine tersenyum manis, "Lho, gue ini sahabat lo yang super baik, nggak salah dong gue mau bayarin lo makan?"

Gatha memutar kedua matanya malas, "Iya nggak salah, cuma aneh"

"Udah sekarang lo duduk manis disini, gue beliin dulu makanan sama minuman buat lo"

Tanpa menunggu jawaban Gatha, Rine langsung pergi. Gatha mengedikkan bahunya sambil duduk. Entah mengapa sahabatnya itu tiba-tiba berubah hanya dalam satu malam. Ia bahkan belum bilang mau apa, tapi Rine sudah tidak ada.

Kini, Gatha larut dalam pikirannya perihal tadi pagi. Etnan. Ya. Lelaki itu yang membawakan tasnya, entah dari mana lelaki itu muncul. Mungkin ia memang terlambat, tapi Gatha tidak melihatnya saat para murid yang terlambat berkumpul, tapi Gatha juga tidak memperhatikan siapa saja yang terlambat karena itu sangat tidak penting menurutnya.

Dan sekarang, ia sangat malu. Bagaimana caranya berterima kasih pada lelaki itu sedangkan kemarin ia sudah bersikap kasar padanya? Apa langsung bilang makasih saja? Atau basa-basi dulu? Atau membelikannya sesuatu sebagai permintaan maaf?

etnanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang