BAB 12

13 1 0
                                        

Sebelumnya, Bianca tak pernah merasa seterancam ini, bahkan oleh kehadiran Safir sekalipun. Karena yang Bianca tahu akhir-akhir ini, Safir tak seburuk pikirannya. Meskitak sebaik yang kalian duga. Namun, gadis di depannya ini berbeda. Dari senyum manisnya saja Bianca sudah merasa tidak enak. Bukan takut kalah saing, ia tidak peduli jikalau ada yang lebih cantik. Gadis incaran Krisna misalnya. Tapi memang begitu yang Bianca rasakan, seperti ada yang membisikan kata jauhi, sebelum lo hancur. Maka, ketika hatinya saja merasa tidak aman, bagaimana bisa fisiknya terasa nyaman saat duduk berdampingan?

Semua ini bermula pada Adam yang dengan santai duduk di depannya. Tadi, saat bel istirahat baru berbunyi, Adam menarik dirinya ke kelas XI MIPA 7 tanpa mau memberi tahu alasannya. Gadis itu pikir, Adam hanya akan meminjam buku bahasa indonesia karena buku milik pemuda itu ketinggalan--kebetulan hari ini XI MIPA 7 ada pelajaran bahasa indonesia di jam pertama. Sayangnya, saat tujuan Adam keluar bersama senyum manisnya, Bianca justru menciut.

"Namanya Nila," bisik Adam pada Bianca yang tampak kebingungan. Bianca mengangguk patah-patah dan memaksakan seulas senyum di bibir. Padahal perasaannya tidak nyaman, sungguh.

"Gue pernah ketemu sama lo kayaknya," ujar Nila tiba-tiba sambil menghadap Bianca yang sedang makan. Dari wajahnya, Nila seperti tidak sedang bertanya atau memastikan, gadis itu seolah ingin memberi tahu pada dunia. Dan hampir saja Bianca tersedak karenanya, lalu Adam buru-buru membuka tutup botol, menyerahkannya pada Bianca yang terbatuk keras.

"Pelan-pelan, Bi. Keselek terus mati entar gue yang repot gali kuburnya," canda Adam yang mendapat pelotan mata dari Bianca.

"Kampret! Lo nyumpahin gue mati keselek!"

"Ya kagaklah! Entar kalo lo mati, siapa yang bantuin gue ngabisin uang jajan?"

Bibir Bianca mencebik kemudian, Adam sedang menyindirnya secara halus. Dan Bianca akui, ia memamng pecinta gratisan.

"Yang di kamar mandi gak sih?" Nila kembali bertanya. Bianca yang tadi sempat berdebat dengan Adam kontan menoleh pada Nila.

"Hah? Kapan? Kayaknya gak pernah deh." Jangan diingat, gue mohon, batin Bianca memelas. Kejadian itu sungguh memalukan. Saat dirinya dipergoki--juga dikira berbuat yang iya-iya--di toilet bersama Safir. Sebagai informasi, Nila inilah satu-satunya saksi mata kejadian itu.

"Lo yang--" Nila memincingkan mata. Tampak seperti mematri Bianca lekat-lekat, nyatanya pandangan itu begitu mengahkimi, seolah menyuruh Bianca mengaku atau mati.

Bianca menggeleng pelan sambil menggerak-gerakkan bola mata, jangan bilang apapun. Lantas Nila kembali tenang dalam duduknya. "Iya kayaknya, kita gak pernah ketemu."

Helaan napas lega Bianca terdengar samar di kantin yang ramai. Sedikitnya memang hanya makan, banyaknya adalah acar gibah berjama'ah.

Sebenarnya, sejak tadi Bianca sudah menyuarakan protesan tentang kehadiran Nila diantara dirinya dan Adam. Sekali lagi, bukan karena merasa tersaingi, Bianca hanya tidak nyaman. Pelototan mata tajam ia arahkan pada Adam sejak tadi, sedang senyum kecil keterpaksaan ia hadiahkan pada Nila yang beberapa kali menoleh padanya.

Jaga image dulu, kalau mau baku hantam entar aja, batin Bianca menengahi.

"Gue pergi aja deh." Nila bangkit, membawa mangkok bakso dari Adam dengan wajah murungnya. Sementara di sampingnya, Bianca bersorak senang dalam hati, Akhirnya pergi juga. "Bianca kayaknya gak nyaman kalau ada gue," katanya yang minta sekali dipukul oleh Bianca.

Dasar cari muka! sentak Bianca dalam batin.

"Bi." Adam bersuara. Alisnya terangkat satu, lalu menarik Nila agar duduk lagi di tempatnya semula. "Lo keberatan kalau Nila gabung sama kita? Kasihan dia, baru seminggu pindah, pasti temennya dikit." Lantas menodong Bianca dengan hipotesis dadakan dari respon Nila.

Elegi Rasa : PergiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang