Sebelumnya, jiwa bar-bar yang memang sudah melekat sejak lahir dalam diri Bianca tak membiarkan gadis itu untuk bersikap manis. Pada keluarganya sekalipun--pengecualian dalam beberapa hal. Namun, mungkin malam ini Bianca harus sedikit merubah sifatnya itu. Malam ini, ia harus berakting sebagai perempuan seutuhnya.
Kemarin malam, saat dirinya dan Safir terjebak dalam sesi telepon-menelpon tengah malam, pemuda itu berkata bahwa bunda ingin bertemu dengan dengannya. Kaget? Bianca hampir melempar ponsel saking terkejutnya.
"Bisa, kan, Bi?" Hati-hati, Safir bertanya.
"Hah? Eh, bi-bisa kok," sahut Bianca cepat. "Besok ya?" gumamnya pada diri sendiri. Jujur, Bianca belum siap, kendati ini adalah bentuk keseriusan Safir. Hei, memang apa yang kamu pikir ketika si kekasih mengajak makan malam di rumah. Ralat, orang tua si kekasih yang mengajak. Bagaimana bisa Bianca mencegah pikirannya melayang jauh? Mustahil.
"Kenapa, Bi?"
"Enggak apa-apa, kamu tutup deh. Aku ngantuk." Bianca bentulan menguap, rasa kantuk sudah menyerang sejak lima belas menit tadi. Tapi ia tahan hanya karena Safir yang katanya masih belum bisa tidur.
"Kamu aja deh yang nutup. Selamat malam. Tidur yang nyenyak ya cintanya Safir."
Bianca merona. Sungguh, tidak bohong. Bahkan Ketika rayuan itu terkesan murahan dan kacangan, gadis itu bisa jadi sangat tersipu.
"Kok belum ditutup?" Menguap lagi, sudut mata Bianca mengeluarkan air tanda matanya lelah.
"Kan, aku bilang kamu aja yang nutup." Safir tidak mau kalah.
"Kamu deh yang nutup. Kan, kamu yang menelpon tadi."
"Enggak mau, Bi. Kamu aja. Ya masa cowok nutup telpon duluan, gak gentle." Masih kukuh pada pendiriannya, Safir kembali melempar argumen.
"Safir," panggil Bianca malas. Lebih pada rasa, udah kamu aja yang nutup, jangan dibuat ribet! Tapi tak kuasa mengatakan karena matanya mulai memberat dan kantuknya yang menyergap.
"Kamu yang tutup, Bi." Tetap dengan pendiriannya, Safir memang keras kepala itu.
Diam. Keheningan menyergap beberapa lama. Hingga Safir di ujung sana mulai bertanya-tanya. Panggilan belum terputus, tapi suara Bianca sepenuhnya hilang dari pendengaran.
"Bi?" Pemuda ktu memastikan. Beberapa kali memanggil dengan nada bertanya yang kental. Lantas, setelah tak kunjung mendapat jawaban, Safir tersenyum simpul dan berkata, "Udah tidur ternyata, mimpi indah ya. Entar kita ketemuan lagi di mimpi."
Mengingat kejadian semalam, Bianca dibuat bergidik geli. Sungguh, ia tidak mengerti mengapa dirinya menjadi begitu alay dan lebay hanya karena masalah tutup menutup telepon.
Dua jam sebelum acara dimulai, Bianca seperti kerasukan setan pohon mangga depan rumah. Berjalan mencak-mencak dari lantai bawah ke lantai atas. Lalu masuk ke kamar mama guna menyadap beberapa kosmetik. Dan berakhir di kamarnya dengan satu-satunya setelah dress yang ia punya.
Berbekal video tutorial youtube tentang cara make up natural dan mengikat rambut, Bianca keluar dengan penampilan yang sedikit banyak berubah. Krisna dan Aileen yang sedang berduaan di ruang tengah dibuat menggeleng tak percaya.
"Lo beneran Bianca?" Krisna menepuk pipinya sendiri. Mau dikata bagaimanapun, Bianca memang cantik. Dan semakin cantik saat make up serta dress selutut melekat di tubuh kecil gadis itu.
Safir menjemput setengah jam sebelum acara dimulai. Dan lagi, Bianca mendapati Safir berdecak tak percaya seperti Krisna tadi.
"Berapa lapis?"
Alis Bianca refleks tertaut dengan tatapan bingung menyertainya. "Apanya?" Lalu mengambil helm yang disodorkan Safir.
"Make up-nya. Beda banget gila! Kamu cantik pake banget, Bi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Elegi Rasa : Pergi
Roman pour AdolescentsKadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti di...
