Rumah Bianca riuh dengan santunan supaya ikhlas dan sabar. Sejak pagi tadi, kursi-kursi kembali dikeluarkan seperti tujuh bulan lalu. Menyisakan ruang tamu serta ruang keluarga yang lenggang beralaskan karpet.
Di dapur, ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan bagi para pelayat. Kacang hingga buah disediakan, juga teh jika ada yang merasa kehausan.
Mama, wanita itu baru tiba tadi subuh, pukul setengah lima dengan riasan yang sudah tak karuan bentuknya. Kaget, bukankah itu sudah jelas? Rasa sakit dan takut yang paling mendominasi raut wajah mama saat datang.
Wanita itu jelas tak perlu repot mampir ke rumah sakit. Jenazah Bianca sudah dibawa pulang sejak dinyatakan meninggal. Kata Krisna, supaya bisa diurus secepatnya. Pemuda itu, sebagai seorang kakak yang begitu menyanyangi adiknya tak kuat jika terlalu lama memandang sosok Bianca yang tak lagi hangat.
Tak kuat melihat bibir cherry yang biasa menyunggingkan senyum justru kini menbiru kaku.
Krisna tak sanggup bahkan jika itu hanya sebuah bayangan.
Mama, wanita itu tak luput dari rasa penyesalan yang menghantui. Sejak datang hingga pakaiannya berganti hitam-hitam, wanita itu tak kunjung meredakan tangis. Dengan kedua tangan memeluk tubuh Bianca yang mendingin, mama menangis tersedu.
Mama menyesal teramat dalam. Mengapa dirinya tidak menuruti keinginan Bianca untuk pulang dua bulan lalu? Mengapa ketika ia menyempatkan waktu, Bianca justru sudah pergi dijemput waktu.
"Ma, udah. Bianca mau dibawa." Krisna berusaha menarik mama yang semakin erat memeluk Bianca. Seperti deja vu, ia kembali teringat kala melepaskan peluk Bianca dari ayah tujuh bulan lalu.
"Enggak, Kris. Mama masih kangen Bianca. Mama belum sempet coum Bianca kayak biasanya. Mama belum sempert ajak Bianca ngobrol. Mama masih pengen meluk Bianca." Tangis mama menjadi. Para tetangga hanya menatap iba. Pagi ini, hingga mama menangis tanpa henti, wanita itu sudah pingsan hampir tiga kali. Lebih parah ketimbang ayah pergi.
Padahal, baru tujuh bulan lalu tubuh kaku ayah membujur kaku di tempat ini. Dengan orang yang duduk melingkar hesandar dinding sambil membaca tahlil dan yasin. Kini, mama justru mendapati Bianca di sana, seperti ayah yang terbujur kaku.
"Ma, kasihan Bianca kalau mama ngelepasinnya kayak gini. Aku juga sedih, Ma. Aku juga gak pengen Bianca pergi kayak gini, tapi--" Krisna berhenti berbicara. Matanya kembali berair dan membentuk sungai kecil. "Ikhlasin Bianca, Ma, kayak nge-ikhlasin ayah. Lepas Bianca, Ma."
Mama terhenyak begitu lama. Dengan air mata yang masih deras, hati yang sudah tak karuan bentuk, wanita itu luruh dalam peluk pilu Krisna. Mdnangis sejadinya di dada Krisna.
"Bianca," lirih mama disela isak tangis yang menyayat.
Di bslakang Krisna, Aileen melayat dengan setelan hitam-hitam. Kerudung panjang yang gadis itu kenakan sudah turun sampai pundak saking sibuknya mengurus para pelayat lain.
Tak ada yang bisa Aileen lakukan, menguatkan dengan kata sabar dan ikhlaskan sudah menjadi hal tabu. Krisna dan mama sudah menerimanya sejak tadi. Jadi, gadis itu hanya duduk diam sambil mengelus bahu Krisna, menguatkan lewat perlakuan. Sesekali menyeka air matanya sendiri, juga air mata Krisna yang kian deras.
Rasa kehilangannya itu terasa behitu nyata dalam relung Aileen yang ikut berduka. Meski belum menhenal lama, Aileen bahkan menganggap Bianca lebih dari sekedae adik pacarnya. Bianca sudah seperti adik kandungnya.
Sementara Safir, entah bagaimana ceritanya, pemuda itu sekarang berada di kamar Bianca. Pemuda itu duduk bersandar pada ranjang gadisnya yang terasa dingin meski suda tertata rapi.
Pikirannya kacau. Sempurna kehilangan pegangan ketika napas hangat Bianca yang terakhir menyentuh lehernya. Safir tak mnegerti, suguhan bingung tentang bagaimana takdir bekerja. Dalam hitungan jam, tawa bahagia Bianca digantikan isak tangis sarat kesakitan. Dalah hitungan jam, pesta pora dalam hati diganti kukungan kesedihan yang tiada arti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elegi Rasa : Pergi
Teen FictionKadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti di...
