Setelah aksi Kay tadi subuh, kini hampir semua Santri wati membicarakannya, bahkan sampai terdengar di telinga santri wan. Membuat Kay malu setengah mati.
"Kamu sih pake acara ketiduran segala, jadi trending topik kan," ucap Ayu.
"Namanya juga gak sengaja," sahut Kay.
"Lain kali jangan kayak gitu lagi," nasehat Lili.
"Iya," sahut Kay patuh.
Dengan langkah lesu Kay terus berjalan mengikuti dua temannya, mereka baru pulang dari masjid. Baru beberapa hari saja nama Kay sudah tersebar luas seantero Pesantren, bagaimana jika sudah lama? mungkin Kay bakal jadi artis dadakan.
"Gue gak akan semudah itu untuk nyerah, gue harus cari cara buat bisa kabur lagi,"batin Kay dan tersenyum licik.
"Kalian duluan aja, gue mau ke Ndalem dulu," ucap Kay dan menghentikan langkahnya.
Ayu dan Lili pun ikut berhenti dan menatap Kay.
"Ngapain?" Tanya Ayu.
"Gak usah kepo, nih gue nitip sajadah sama mukena!" ucap Kay dan menyerahkan perlengkapan sholat pada Ayu.
"thank you," ucap Kay dan berlari dari sana.
Saat ini Kay tengah berada di semak-semak, yang dekat dengan pagar keluar pesantren, sambil mengamati sekitar.
"Gimana caranya supaya santri yang lagi jaga itu pergi ya?" gumam Kay bertanya-tanya.
"Gue harus ngalihin perhatian mereka, tapi gimana caranya?" sambung Kay bingung.
Tanpa sengaja pandangan Kay tertuju pada seonggok batu didekatnya, sebuah ide pun muncul.
Buk
Kay melempar batu itu ke arah semak-semak yang lumayan agak jauh dari 3 santri wan itu.
"Eh apa tuh?" kaget salah satu santri wan.
"Iya gue juga denger!" sahut temannya.
"Cek yuk! takutnya ada maling," ajak santri ketiga.
"Ayo!"sahut keduanya.
Saat melihat ketiga santri wan itu mulai menjauh, Kay pun mulai merangkak pelan menuju pagar.
Dirasa sudah aman, Kay langsung berlari ke arah pagar dengan sekuat tenaga.
Hap
Padahal tinggal beberapa langkah lagi dia bisa keluar tapi tiba-tiba ada yang menarik jilbapnya.
"EH!"
Hijabnya terlepas dan jatuh ketanah, Adam yang melihat itu sontak langsung membalikkan badannya.
"Astaga jilbap gue kotor," ucap Kay nanar sambil memegang hijabnya.
"Ini! Pakai Surban saya!" Ucap Adam cepat.
Ia menyerahkan selendangnya yang tersampir di bahu kepada Kay, tanpa menoleh ke belakang.
"Cepat ambil dan pakai, sebelum santri wan lain melihatnya!" Titah Adam memaksa.
Dengan cepat Kay pun memasangnya.
"Dikit... lagi berhasil kabur!" Batin Kay kesal.
"Gue pergi!" ucap Kay lalu melangkah pergi.
"Tunggu, kamu mau kemana?" Tanya Adam menghentikan langkah Kay.
"Ya ke asrama," jawab Kay kesal.
"Ayok ikut saya!" Pinta Adam dan berjalan lebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Novela JuvenilMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
