"mbak Kay, ya?" tanya santri wati menghampiri Kay yang baru saja masuk kearea asrama putri.
"Iya, kok tau?" jawab Kay dengan muka penuh selidik.
"Saya dikasih tau Bu Nyai mbak," jawab sang santri wati.
"Bu Nyai siapa? Gue gak kenal tuh," sahut Kay mengangkat sebelah alisnya.
"Maaf, masa mbak gak tau, itu loh ibunya Gus Adam," sahut Bulan sopan.
"Owh..., ada apa lo nyamperin gue?" tanya Kay.
"Saya cuma di suruh nganterin mbak ke kamar, mari mbak saya antar," jelas Bulan.
"Gak perlu gue bisa sendiri, dimana kamarnya?" Ucap Kay.
Sepertinya Kay trauma diPHPin seperti tadi saat bersama gus Adam.
"Tapi mbak__."
"Ribet banget sih, lo gak mau kan kalau telat sholat Zuhurnya?" Serobot Kay kesal.
"Kamar mbak di atas paling ujung di sebelah kanan, kalau gitu aku duluan mbak assalamu'alaikum," lontar Bulan cepat dan pergi.
Terlihat asrama putri mulai kosong, karena para santri wati sedang ke mesjid untuk menunaikan sholat zuhur. Tapi masih ada beberapa santri yang masih diasrama, entah halangan, telat atau apa. Mau sekeras atau selembut apapun menasehati, pasti tetap ada yang melanggar, salah satunya ya Kay nanti.
Kay menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Ck,Mana sih kamarnya," decak Kay kesal sambil melihat sekitar.
"Paling ujung sebelah kanan," gumam Kay.
Ia terus berjalan tanpa memperdulikan santri lain yang melihat kearahnya. Selain karna santri baru ya pasti karna pakaiannya.
"Nah ini dia!" seru Kay dan langsung masuk tanpa permisi.
"Astagfirullah," pekik seorang gadis yang tampak sedang membersihkan kamar.
"Lo ngapai dikamar gue," tanya Kay dengan nada sedikit tinggi.
"Eh tunggu dulu, kok? satu dua tiga, kok kasurnya ada tiga? jangan bilang kalau gue harus tidur bertiga satu kamar," kata Kay sambil menghitung jumlah kasur yang ada.
"OMG!"teriak Kay, membuat gadis yang ada dikamar itu menutup telinga.
"Jangan berisik," kata gadis itu.
Sontak Kay langsung menatapnya.
"Btw kasur gue yang mana?" Tanya Kay.
"Owh itu yang paling pojok," jawab gadis itu sambil menunjukkan jarinya pada kasur didekat dinding.
Tanpa mengucapkan terima kasih Kay langsung berjalan ke arah kasur dan membaringkan tubuhnya. soal koper, dia meninggalkannya di depan pintu.
"Nama kamu siapa?" Tanya gadis itu sambil menaruh koper Kay didekat lemari baju yang telah disiapkan.
"Kay," jawab Kay dengan mata terpejam karena kelelahan.
"Aku Ayu, salam kenal!" seru gadis yang bernama Ayu tersebut seraya duduk di kasurnya yang bersebelahan dengan Kay.
"Hm," jawab Kay dan memalingkan tubuhnya menghadap dinding.
"Kamu gak sholat?" Tanya Ayu.
"Gak," jawab Kay datar.
"Kok gitu?" Tanya Ayu lagi.
"Serah gue dong," sahut Kay sedikit ngegas.
"Gak boleh gitu, sholat itu wajib tau, gak takut dosa apa," nasehat Ayu.
Baru kenal saja sudah membuat Kay Kesal apa lagi nanti kalau sudah jadi teman.
"Bacot banget sih nih cewek,"batin Kay geram.
"Bisa gak sih diam, gue lagi cape banget ini!" Marah Kay seraya berbalik menghadap Ayu dengan tajam.
"Y-ya udah deh kamu tidur aja lagi," jawab Ayu kikuk karena di tatap seperti itu.
Meraka pun melanjutkan aktifitas masing-masing tanpa ada yang bersuara. Hingga suara ketukkan pintu terdengar.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum," salam seseorang dan membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ayu, sedangkan Kay masih asyik berbaring sambil menutup mata.
"Eh, udah pulang Li dari mesjidnya?" Ayu bertanya kepada gadis yang baru saja datang.
"Hm," jawabnya.
"Kapan sih kamu angetnya?, perasaan dingin mulu kek es batu," ungkap Ayu.
Gadis itu hanya mengangkat bahu acuh.
"Owh iya Li, itu teman baru kita namanya Kay," kata Ayu memperkenalkan Kay.
Mendengar namanya disebut membuat Kay membuka matanya dan menatap Ayu.
"Nah Kay, ini Lili," kata Ayu memperkenalkan Lili pada Kay.
"Hm," dehem keduanya bersamaan tanpa sengaja.
Membuat Ayu menatap mereka bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Ficção AdolescenteMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
