6.Gus Adam

1K 33 0
                                        

"Bantuin!" pinta Kay dengan mengulurkan tangannya kepada Adam.

"Berdiri sendiri, kita bukan mahrom," jawab Adam dingin.

Sontak Kay langsung menarik uluran tangannya, lalu berdiri sambil memegangi jidat.

"BAY!" Ucap Kay lalu merampas koper dari tangan Adam dan pergi begitu saja.

_♡_

"Siapa ya yang tadi sama Gus Adam?" Kepo santri wati duduk tak jauh dari pohon mangga besar yang ditabrak Kay.

"Yang mana?"Tanya teman satunya yang dari tadi sibuk membaca Kitab.

"Astagfirullah, itu loh Jeng yang lagi nyeret koper,"jelas santri wati yang pertama.

"Owh itu, mungkin saudaranya Gus Adam,"sahut Ajeng dan membaca kitab lagi.

"Setau aku Gus Adam Gak punya saudara perempuan deh," ucap Mei.

"Itu kan setau kamu, udah ah gak usah dibahas lagi, lebih baik kita siap-siap ke mesjid" kata Ajeng dan berdiri diikuti Mei.

_♡_

"Lah, ini kok pada cowok semua?" kaget Kay heboh.

Bukannya mendapati santri wati dengan hijab lebar, ia malah melihat para akang-akang santri berpeci yang berlalu lalang. Inilah akibatnya, sekarang dia tersesat. Tapi ada untungnya juga, lumayan bisa cuci mata liat yang seger-seger.

"Berarti gue salah jalan dong, atau asramanya emang nyampur?" Bingung Kay menerka-nerka.

"Bodo amat lah mending gue masuk dulu," putus Kay dan membuka pagar lalu masuk. Kebetulan sekali tidak ada yang berjaga di depan pagar asrama putra.

Asrama putra dan putri itu sebenarnya berseberangan, namun dihalat dengan bangunan tempat belajar dan di beri pagar pembatas.

"Eh mbak mbak! mbak ngapain masuk keasrama Putra, kalau ketahuan pengurus mbak bisa dihukum loh," ucap salah satu santri wan yang kebetulan ingin keluar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Eh mbak mbak! mbak ngapain masuk keasrama Putra, kalau ketahuan pengurus mbak bisa dihukum loh," ucap salah satu santri wan yang kebetulan ingin keluar.

Kay pun mengurungkan niatnya untuk masuk.

"Mbak? lo pikir gue mbak lo apa!" ketus Kay nyaring, membuat beberapa santri wan yang lewat menatapnya.

"Mbak pasti santri wati baru ya? mbak nyasar?" tanya santri wan yang tadi.

"Bisa gak sih gak usah panggil gue mbak, nama gue Kay!" kesal Kay masih ngegas.

"Iya maaf Mbak Kay," ucap santri wan itu.

"Ihh ngeselin banget sih lo! udah gue bilang gak usah panggil gue mbak! lagian gue juga bukan mbak lo," marah Kay dengan menghentakkan kakinya.

"Udah Rey gak udah diladenin, mending kita ke mesjid udah mau Zuhur ini," ucap teman santri wan itu yang baru keluar dari asrama.

"Kalian ngapai disini, cepet ke mesjid!" Titah seorang laki-laki mengalihkan atensi mereka bertiga.

"Iya Gus,"sahut keduanya sopan.

"Duluan mbak, Gus," ucap Rey lalu pergi.

"Mbak mata mu," kata Kay sinis sambil melihat kearah Rey dan temannya yang berjalan menjauh.

"Kamu ngapain di asrama putra?" Tanya Gus Adam tegas.

"Berenang!" sahut Kay kesal dengan Adam.

"Disini tidak ada kolam renang, jadi mending kamu ke asrama putri saja!" pinta Adam dingin.

"Emang dasar cowok gak peka, gue itu nyasar," jelas Kay ngegas.

"Ya sudah biar saya antar ke asrama kamu," ucap Adam dan berjalan lebih dulu.

"Awas aja nganterinnya gak sampe asrama,"batin Kay curiga.

Saat dipertengahan jalan Adam berhenti, membuat Kay juga berhenti.

"Kenapa berenti?" Tanya Kay.

"Udah ketebak sih pasti mau ninggalin gue," batin Kay.

"Udah waktunya sholat, jadi saya nganterinnya sampai sini aja. Kamu tinggal lurus trus belok kanan," kata Adam dan pergi.

Memang terdengar suara Azan samar-samar ditelinga Kay.

"TUH KAN..., LO COWOK TERNGESELIN YANG PERNAH GUE TEMUIN, GUE DOAIN SUPAYA LO PUNYA ISTRI YANG NGESELIN JUGA, GUE BENCI LO..." teriak Kay dengan sumpah serapahnya lalu berjalan dengan menghentakan kaki.

Tidak mungkin Adam tak mendengar teriakan Kay barusan, dia tidak menyahut, hanya tersenyum tipis dan terus berjalan.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang