Kay tidak menyangka, sekarang harus terpisah dengan orang tua. Masuk Pesantren pun tidak pernah masuk dalam list kehidupannya, biasanya sang papa yang mengajarkan tentang ilmu keagamaan, itu pun hanya jika ada waktu senggang. Sekarang dia harus mengenyam ilmu-ilmu itu sendiri, bahkan ditempat asing yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Dadanya berkecamuk, antara sedih dan senang. Ia sedih karna harus lepas dari dunianya dan juga orang tua, tapi dia senang, akhirnya bisa menjalani hidup seperti yang ayahnya katakan dulu.
"Pokonya mama sama papa harus sering ke sini buat jengukin Aku ya!" Pinta Kay dan melepaskan pelukkannya.
"Iya mama janji," kata Ranti dan mengelus kepala anaknya pelan.
"Ya udah mama sama papa pulang dulu," sambung Ranti.
"Iya ma," sahut Kay lalu mencium tangan Ranti dan Abraham.
"Kalau gitu Kami pamit pulang, Assalamu'alaikum," salam Abraham dan berjalan ke arah mobil diikuti sang istri.
Selang beberapa menit Abraham kembali menghampiri Kay.
"Kok balik lagi pa? pasti berubah pikirankan karna gak tega ninggalin anak satu-satunya ini yang cantik jelita paripurna tiada tara," ucap Kay tidak tahu malu.
"PD banget kamu," kesal Abraham.
Tingkat KePDan Kay itu melebihi batas maximum. Siapa pun yang dekat dengannya, pasti tau sePD apa dia. Tak jarang mereka kesal dengan tinggah PDnya itu yang terkesan tidak tahu malu.
"Nih papa cuma mau nganterin koper kamu yang ketinggalan," sambung Abraham dan menaruh koper itu dekat anaknya.
"Yah! kirain berubah pikiran," tutur Kay putus asa.
"Oh ya, ponsel kamu mana? sini kasih ke papa!" Pinta Abraham.
"Buat apa pa?" Tanya Kay bingung.
"Gak usah banyak nanya, cepetan mana?" Gasak Abraham dan mengulurkan tangannya.
"Sabar-sabar," ucap Kay sambil meraih ponsel di tas selempangnya.
"Nih pa," kata Kay dan menaruh ponselnya ditangan sang papa.
"Ponselnya papah bawa!" seru Abraham tiba-tiba.
"Loh kok gitu sih pah," protes Kay.
"Disini gak boleh pakai ponsel Kay," jelas Abraham.
"Beneran kiai?" Tanya Kay pada kiai Jaya.
"Iya Kay, jika nanti kamu mau telpon orang tuamu, bisa pinjam telpon pesantren," sahut kiai lembut.
Membuat Kay cemberut.
"Tuh kan udah kerasa gak enaknya mondok, nyesel ngeiyain kemaren, kalau tau gini mah mending kemaren kabur aja," batin kay kesal.
"Ya udah kalau gitu papa pulang dulu, mari kiai Jaya, Nyai Roro, Gus," kata Abraham dan pergi menuju mobil.
Terlihat mobil orang tua Kay mulai menjauh, membuat Kay menghela nafas pelan.
"Kita liat aja, besok gue pasti udah bisa kabur dari sini," batin kay dengan tersenyum licik.
"Ya sudah, Adam tolong antarkan Kay ke asramanya," pinta Nyai Roro kepada sang putra.
"Kenapa gak sebaiknya meminta petugas santriwati saja Umi, rasanya kurang pantas Adam mengantarnya, secara kami bukan mahrom," tutur Adam sopan kepada orang tuanya.
"Mau Umi juga gitu Dam, tapi mereka lagi sibuk, apa lagi ini sudah hampir waktu zuhur," jawab Nyai Roro lembut.
"Kalau Umi saja yang antarkan bagaimana?" Saran Kiai Jaya.
Kay merasa tidak enak, baru saja masuk sudah merepotkan orang lain. Jadi mending dia kabur kan? Supaya kedepannya tidak menambah beban pesantren ini?.
"Umi ada urusan Abi, Abi lupa?" Sahut Nyai Roro.
"Ya sudah, Adam kamu antar Kay ya, yang pentik tetap menjaga batasan!" Pinta Kiai Jaya.
"Kaya binatang buas aja gue, pake segala jaga batasan, nasib emang,"batin Kay merutuki nasibnya.
"Iya Abi, assalamu'alaikum," ucap Adam mulai berjalan.
"Pamit juga kiai, Nyai," ucap Kay sopan lalu ngacir mengejar Adam.
"Eh pelan-pelan dong jalannya,jadi cowok kok gak pengertian banget, dibawain kek koper gue," Omel Kay pada Adam yang berjalan didepan.
Adam pun berhenti dan langsung mengambil alih koper Kay lalu berjalan lagi.
"Dari tadi kek," omel Kay dan berjalan lebih dulu.
Lalu Gus Adam berjalan lebih cepat dan mendahului Kay lagi.
"Wanita tidak boleh berjalan didepan laki-laki," Jelas Adam.
"Situ siapa?, kok ngatur-ngatur!" kesal Kay ngegas sambil berjalan mendahului Adam.
BUKKK
"ADUHH JIDAT MULUS GUEEE!!" Pekik Kay setelah menabrak pohon mangga besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
