"Kay bangun!" seru Ayu mencoba membangunkan Kay.
"Kay ayo bangun siap-siap sholat tahajud berjama'ah!" seru Ayu lagi, namun masih tidak ada sahutan dari Kay.
"KAY BANGUN!"teriak Ayu didekat telinga Kay.
"Ihhh dasar kebo!"kesal Ayu sambil mengguncang tubuh Kay kasar.
"Kay bangun!" kini Lili yang berusaha membangunkan Kay.
"Jam berapa?" tanya Lili.
"Udah jam dua lewat lima puluh tujuh," sahut Ayu cemas.
"Kay cepet bangun, keburu pengurus keamanan kesini!" coba Ayu lagi.
Namun Kay masih saja asyik dialam mimpi, Kay terbiasa bangun sekitar jam tujuh, sedangkan ini masih jam dua.
"Kay bangun," kata Lili dan Ayu bersamaan.
Ayu pun melihat kearah jam dinding.
"Tiga.....dua....sa_,"
Tok tok tok
"Tamat sudah riwayat mu Kay,"batin Ayu dengan raut wajah cemas.
Ceklek
"Siap itu yang belum bangun," kata pengurus keamanan garang, yang baru saja membuka pintu.
"Kay Ka, santri wati baru," sahut Ayu pelan dengan kepala menunduk, berbeda dengan Lili yang menatap Pengurus keamanan itu dengan ekspresi wajah tak bersahabat.
"Pantes gak disiplin," cerca pengurus keamanan yang bernama Linda, sambil berjalan kearah Kay yang masih tertidur nyenyak.
"BANGUN!" Teriak Linda seraya menepuk pundak Kay kasar.
"Heh cepet bangun!" titah Linda lagi.
"Ambil air segayung!" titah Linda pada pengurus yang datang bersamanya.
Lala pun menurutinya.
Byurr
"AAAAA BANJIR!"teriak Kay langsung bangkit dari kasur.
"Bukannya siap-siap sholat tahajud malah enak-enakan tidur!" omel Linda sambil menatap Kay.
"Heh lo siapa berani-beraninya nyiram muka gue!" marah Kay sambil menunjuk mukanya yang basah.
"Saya pengurus keamanan disini dan tugas saya memang mengurus dan memberi pelajaran untuk santri kayak kamu!" sahut Linda tak mau kalah.
"Tapi gak usah kayak gini juga bangunin orang, untung gue gak punya penyakit jantung!" jawab Kay menggebu-gebu.
"Santri kayak kamu itu kalau tidak dikasari pasti akan ngelunjak!" kata Linda.
"Heh_," ucapan Kay terpotong.
"UDAH STOP, lebih baik kita siap-siap sholat tahajud. Dan Kak Linda mending keluar!" Ucap Lili menengahi dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu berani ya ngusir saya?" sahut Linda.
"Iya, emang kenapa?" tantang Lili muak dengan kelakuan Linda.
"Dasar anak pungut gak tau diri!" Maki Linda lalu keluar dan menyenggol bahu Lili.
Sontak Lili langsung diam dengan pandangan kosong kedepan.
"Udah gak usah didengerin," kata Ayu dan mengusap bahu Lili pelan.
Lili langsung menepis tangan Ayu pelan dan keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Lili kenapa?" Tanya Kay.
"Gak apa-apa, gih sana bersih-bersih. Aku tungguin," kata Ayu sambil tersenyum kecil.
"Hm," sahut Kay dan ke kamar mandi.
_♡_
"Ih... gue masih ngantuk!" ucap Kay dengan nyawa setengah sadar.
Kay berjalan sempoyongan menuju mesjid, yang kiranya tinggal beberapa langkah lagi.
"Tahan sebentar Kay, kita sholat tahajud dulu baru kamu boleh tidur lagi," jelas Ayu sambil memegangi tangan Kay.
"Tapi gue gak tahan!"seru Kay sudah seperti orang hendak pingsan.
"Ayok masuk," kata Ayu.
Mereka masuk dan menggelar sajadah disamping Lili.
Allaahu akbar
Terdengar suara imam mengangkat takbir, mereka semuapun sholat tahajud berjama'ah.
Setelah beberapa saat sholat tahajud telah usai, sedangkan Kay masih saja sujud. Saat Ayu ingin menepuk pundak Kay tiba-tiba Lili berkata.
"Mungkin Kay lagi merapalkan do'a," ucap Lili husnuzon.
Setelah selesai berdo'a, para santri melanjutkan tadarus sambil mengunggu waktu sholat subuh tiba.
"Kok Kay gak bangun-bangun ya?" Gumam Ayu.
"Jangan-jangan Kay tidur lagi," sambung Ayu curiga.
Tak banyak juga santri wati yang sesekali melirik ke arah Kay. Kalian bayangkan saja, di saat orang-orang telah selesai sholat dan lanjut tadarus, kay masih saja sujud. Ayu yang bersebelahan dengan Kay pun merasa deg-degan, bagaimana jika Kay ketahuan anggota keamanan lagi, bisa tamat riwayatnya.
"Dia kenapa?" Tanya garang salah satu petugas keamanan yang berjaga.
"O-oh dia... lagi do'a kayaknya ka," sahut Ayu takut-takut.
"Bangunkan!" titah petugasnya.
"Ayu itu siapa?" Terdengar suara lembut dari arah samping kanan.
Membuat sebagian santri yang mendengar menatap kearah sumber suara sebentar.
"E-eh Nyai, ini temen aku, Kay," sahut Ayu sopan.
"Oh nak Kay," ucap Nyai Roro.
"Nak Kay!" Panggil Nyai Roro lembut sambil menepuk pundaknya pelan.
BUG
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Novela JuvenilMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
