4.Pesantren

1.1K 37 0
                                        

Hari yang cerah dengan sinar matahari hangat, serta kicauan burung-burung, membuat gadis yang masih bergelut dengan selimut merasa terganggu, namun tetap enggan untuk membuka mata. Sampai suara ketukan pintu terdengar.

TOK TOK TOK

"KAY BANGUN UDAH PAGI!" teriak Ranti didepan pintu kamar anaknya.

"Ih... apaan sih mah, aku masih ngantuk!" kesal Kay dengan suara serak khas bangun tidur.

"KAMU LUPA KALAU HARI INI MAU KEPESANTREN!" omel Ranti.

Kay refleks langsung duduk. Gara-gara terbangun tengah malam Kay jadi susah tidur lalu ia memutuskan nonton drakor kesukaannya sampai menjelang subuh.

"Lah iya, hari ini kan gue mau kepesantren," ucap Kay pelan.

"Tapi bodo amat, orang gue gak mau" ungkap Kay lalu kembali berbaring dan menutup mata.

"Kay ayok Cepet siap-siap! ini mama sama papa udah siap!" Kesal Ranti sedikit keras.

"Enggak, Aku gak mau!" tolak Kay masih memejamkan matanya.

"Ya udah, kalau gitu si udin mama jual!"ancam Ranti, sontak membuat Kay langsung membuka mata.

"Iya ini Aku mandi!" Jawab Kay cepat lalu turun dari kasur, dan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.

Selang hampir setengah jam akhirnya Kay turun, dengan memakai celana jeans sobek-sobek serta baju kaos putih polos dengan kemeja kotak-kotak yang diikat dipinggang, dan jangan lupa kerudung pasmina hitam yang dililit dileher. Sambil menyeret dua koper besar serta merangkul satu tas super jumbo menuju ruang makan.

"Ma! Pa! Aku udah siap nih!" seru Kay sambil menatap kedua orang tuanya yang sibuk menata meja makan.

"Ya udah sini du__," ucapan Ranti terhenti karena melihat penampilan anaknya.

"Astagfirullah Kay, kamu itu mau ke pesantren atau ngebegal orang sih? pakaian kok kayak preman," omel Ranti.

"Ma gak baik pagi-pagi ribut, Kay sana cepet kamu ganti baju!"peringat Abraham.

"Sama kurangin tuh bawaan kamu, cukup bawa yang penting aja!" lanjut Abraham sambil menunjuk barang bawaan Kay.

"Salah lagi!" kesal Kay sambil kembali menuju kamarnya.

ia lalu berganti baju dan mengurangi barang bawaan, sampai hanya tersisa satu koper dan tas selempang kecil saja. Setelah semua siap, kini mereka berangkat menuju Pesantren.

"Ma nanti bangunin aku kalau udah nyampe!" pinta Kay lalu memejamkan mata.

_♡_

Tak terasa mereka telah sampai dan hari juga sudah siang. Tapi sang tuan putri belum saja membuka matanya, entah faktor begadang atau memang kebiasaannya suka tidur kalau berpergian jauh.

"Papa duluan ya ke sana, kamu bangunin Kay!" pinta Abraham dan keluar dari mobil.

Terlihat ada beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan mereka diteras rumah.

"Assalamu'alaikum kiai, Nyai , Gus," salam Abraham sopan.

"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya.

"Ayok masuk," ajak kiai Jaya.

"Iya kiai," sahut Abraham lalu ikut masuk.

Di tempat lain, tepatnya didalam mobil, Ranti sedang berusaha membangunkan Anaknya.

"Kay cepet bangun udah nyampe," ucap Ranti sambil mengguncangkan badan Kay pelan.

"Iya bentar," sahut Kay masih memejamkan mata.

"Cepet Kay, kita udah ditungguin," ucap Ranti lagi.

"Ck iya iya," sahut Kay setengah sadar sambil turun dari mobil dengan mata tak sepenuhnya terbuka.

"Assalamu'alaikum," salam Ranti didepan pintu.

Sedangkan Kay posisinya seperti anak monyet, menempeli mamanya dengan mata terpejam, jadi jika mamanya berjalan dia hanya mengikuti.

"Wa'alaikumsalam," jawab semua.

Ranti pun masuk, dengan kesal ia menyeret Kay.

"Syukur anak kesayangan, kalau enggak, udah ku lempar ke kandang buaya nih anak," batin Ranti kesal.

"Jadi ini putri saya yang ingin mondok disini," jelas Abraham memberi tahu.

"Kay ayo salim dulu," sambung Abraham namun tak ada jawaban.

"Kay," panggil mamanya, sambil menepuk pundak Kay agak keras.

"Apa ma," jawab pelan Kay dengan membuka matanya sedikit.

"Salim dulu sama kiai dan Nyai," pinta Ranti.

Kay hanya menurut, dia pun berhenti menempeli mamanya dan berjalan dengan mata sedikit terbuka.

Bukannya menyalimi kiai Jaya atau istrinya, Kay malah mengulurkan tangannya ke arah tembok. Membuat kiai Jaya serta istrinya tertawa pelan.

"Kay kamu mau salim sama tembok?" geram Ranti geregetan dengan tingkah Kay.

"Hah?" cengo Kay, lalu membuka mata dengan sempurna.

"Hehehe," kekeh Kay lalu segera menyalimi kiai Jaya dan Nyai Roro.

"Malunya sampe bulu kaki," batin Kay malu.

"Lucu,"batin laki-laki disamping Nyai Roro.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang