8.Mesjid

892 27 2
                                        

Hari mulai sore, banyak santri wati yang bersiap-siap ke mesjid, untuk menunaikan sholat ashar. Kay yang memang kategori orang pemalas pun merasa acuh dengan semua peraturan yang ada. Bukannya ikut bersiap-siap, dia malah masih asyik tidur.

"Kay bangun!" kata Ayu sambil menggoyangkan tubuh Kay pelan.

"Kay!" panggil Ayu lagi.

"Ih... lima menit lagi!" sahut Kay serak khas bangun tidur, namun dengan mata masih terpejam.

"KAY BANGUN SHOLAT ASHAR!!"teriak Ayu di dekat telinga Kay.

Sontak Kay langsung duduk dan menatap tajam sang pelaku.

"Berasa budek nih telinga gue gara-gara lo! Syukur gue gak jantungan!" marah Kay seraya menggosok telinganya pelan.

"Ya maaf, abisnya kamu dibangunin dari tadi gak bangun-bangun," tutur Ayu cemberut.

"Makin jelek muka lo kalau kayak gitu," ucap Kay dan turun dari kasur.

"Eh kamu mau kemana?" Tanya Ayu membuat langkah Kay terhenti.

"Katanya mau sholat Ashar, ini gue mau siap-siap," sahut Kay santai.

Ia lalu melanjutkan jalannya menuju koper untuk mengambil setelan baju santai yang akan dikenakan.

"Ya udah yuk!" ajak Kay setelah keluar dari kamar mandi dengan kaos lengan panjang, celana agak longgar dan hijab yang biasa dia pakai.

"Kamu yakin ke mesjidnya pakai celana itu?" Tanya Ayu seraya menunjuk kearah celana Kay.

"Emang gak boleh?" Tanya Kay mengangkat sebelah alisnya.

"Y-ya g_," ucapan Ayu terpotong oleh perkataan Lili yang sedari tadi diam.

"Udah lah, ayo cepet!" kesal Lili dan keluar lebih dulu.

"Eh Li tunggu...," pinta Ayu lalu berlari menyusul Lili.

"Woy tungguin gue juga dong!" Ucap Kay lalu dengan cepat mengambil mukena dan sajadah lalu menyusul.

_♡_

"Hampir aja kita telat," lega Ayu setelah sampai di depan mesjid.

"Hm," jawab Kay dan Lili serentak.

"Hm mulu perasaan jawabannya," ucap Ayu cemberut dan masuk lebih dulu.

Kay dan Lili hanya diam, mengangkat bahu mereka acuh sambil saling menatap satu sama lain, lalu menyusul Ayu.

Saat akan menggelar Sajadah tiba-tiba Ayu berbicara.

"Kay, kamu di shaf depan aja," usul Ayu dan menunjuk shaf kosong didepan mereka. Kebetulan sekali mereka berada di barisan ke dua.

"Kok gue sih, lo aja," sahut Kay.

"Kamu gak liat apa, itu mana muat buat aku, kan badan kamu lebih kecil," kata Ayu sebagai alasan, sebenarnya bukan itu alasan kenapa dia tidak mau di depan.

"Ya udah deh iya," sahut Kay pasrah.

Setelah menggelar sajadah dan akan memakai mukenanya tiba-tiba Kay terlihat bingung sendiri.

"Lah ini kok mukena gue cuma ada atasannya sih?bawahannya mana?"batin Kay dengan ekspresi panik dan bertanya-tanya.

"Kamu kenapa nak? ayo cepat pakai mukenanya ini sudah mau iqomah," Kata seseorang yang berada di sebelahnya.

Sontak Kay langsung menatap orang tersebut, betapa terkejutnya dia, ternyata yang disampingnya adalah istri pemilik pondok pesantren ini.

"Pantes aja si putu ayu gak mau di shaf depan,"batin Kay lalu menatap Ayu tajam.

Dan dibalas Ayu dengan senyum pepsodent.

"Nak Kay," panggil Nyai Roro.

"Eh em i-ini mukena Aku gak ada bawahannya, kayaknya ketinggalan diasrama deh Nyai," sahut Kay agak canggung.

"Ya udah kamu pakai mukena Umi aja, kebetulan Umi bawa dua, Ini!" Ucap Nyai Roro sambil menyerahkan mukenanya.

"Gak apa-apa nih Nyai?" Tanya Kay meyakinkan.

"Iya pakai aja," sahut Nyai Roro sambil tersenyum.

"Makasih ya Nyai, jadi enak," sahut Kay tersipu.

Nyai Roro terkekeh pelan mendengar sahutan Kay. Kay memang bisa dibilang cewek blak-blakan dan terkesan kasar.

_♡_

Setelah selesai sholat dan tadarusan, kini Kay beserta teman sekamarnya sedang berjalan menuju asrama putri.

"Eh Li, bukannya hari ini ya giliran kita masak di ndalem?" Tanya Ayu memecah keheningan antara mereka bertiga.

"Hm," jawab Lili.

Huhhhh

Ayu menghembuskan nafasnya pelan, padahal mereka sudah berteman lama, tapi sikap temannya itu masih saja seperti dulu saat mereka pertama bertemu.

"Ndalem? apa tuh?" Tanya Kay bingung.

"Ndalem itu Rumahnya pemilik Pesantren," jelas Ayu.

"Kenapa kita yang harus masakin? Emang gak ada pembantunya apa?" Tanya Kay.

Ia merasa aneh dengan hal seperti ini, kenapa harus santri yang memasak? kenapa bukan Nyai Roro? atau pembantunya gitu?.

"Itu tanda terima kasih kita kepada mereka, mereka memang tidak menyuruhnya, tapi kita yang suka rela," jelas Ayu dengan hati-hati, takutnya Kay salah tanggap.

"Tapi kata Nyai dulu, kalau beliau sudah punya menantu, kita gak perlu lagi bantu-bantu urus Ndalem," tambah Ayu.

"Moga aja deh tuh cowok ngeselin cepet dapet jodoh, kalau sampe beneran dapet, gue bakal kasih dua jempol sih buat tu cewek," ucap Kay lalu tertawa.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang