9.Ndalem

867 29 5
                                        

      Sekarang mereka sudah berada di dapur Ndalem untuk memasak. Kay yang tidak pernah ikut andil di dapur pun hanya bisa diam saja, berbeda dengan Ayu dan Lili, mereka sudah lama disini dan sudah terbiasa dengan semua pekerjaan rumah.

"Masak apa kita hari ini?"tanya Ayu pada Lili.

"Kek biasa," jawab Lili singkat lalu mengambil beberapa jenis sayuran di dalam kulkas.

Dan Ayu sibuk menyiapkan panci untuk memasak sup Ayam.

"Kay tolong kamu cuci ayamnya ya!" Pinta Ayu sambil mengisi panci dengan air.

"Mana Ayamnya?" Tanya Kay.

"Itu di kulkas," sahut Ayu.

Setelah mengambil ayam, kay pun mulai mencucinya.

"Baru juga sekolah udah disuruh kayak ginian, apa lagi entar. Gue gak boleh pasrah gitu aja, pokoknya gue harus cari cara biar bisa keluar dari sini!" batin Kay dan tersenyum miring.

Setelah selesai mencuci Ayam, Kay membantu Lili menotong sayuran. Dia juga tidak tega untuk berleha-leha, sedangkan temannya sibuk memasak.

"Eh Li ini kayak gimana motongnya?" Tanya Kay saat ingin memotong wartel.

"Potong bulat-bulat aja," sahut Lili masih fokus memotong sayur kol.

Tak

"Kayak gini?" Tanya Kay dan menunjukkan hasil potongannya.

"Itu ketebalan," sanggah Lili, melihat wartel sepanjang dua ruas jari.

"Sini aku ajarin!" Ucap Lili dan mengambil wartel itu dari tangan Kay, lalu mulai memotongnya.

"Nah kayak gini," kata Lili menunjukkan hasil potongannya.

"Owh kayak gitu, btw makasih," ucap Kay tulus dan memotong wartel seperti potongan Lili.

"Emang kamu gak pernah masak sup ayam Kay?" tanya Ayu sambil menyiapkan bumbu sup.

"Yah, jangankan bikin sup ayam, megang pancinya aja gak pernah," ucap Kay lalu terkekeh pelan.

"Berarti kamu gak pernah masak?"

"Jangankan masak, masuk ruang dapur aja males."

"Trus kalau dirumah kamu ngapain aja?"

"Tidur, makan, sekolah, nonton, tidur, makan sekolah, nonton, gitu aja sih tiap harinya."

"Owh gitu."

Tidak lama akhirnya mereka telah selesai memasak, ya walau ada saja kelakuan Kay yang seperti orang hidup dalam goa. Bayangkan saja, dia tidak tahu cara menyalakan kompor.

Bukan hanya sup ayam, ternyata mereka juga memasak telur balado, prakedel, oseng tempe dan tahu, serta ikan gurame goreng.

"Udah selesai masaknya?" Tanya Nyai Roro yang baru saja masuk ke dapur.

"Sudah Nyai," jawab Ayu.

"Ya sudah, kalian boleh kembali keasrama," kata Nyai Roro.

"Lah gak makan dulu ini?" Tanya Kay tiba-tiba.

"Hahaha, itu masakkannya buat makan malam nak. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa datang kesini untuk makan malam," sahut Nyai Roro menawarkan.

"Rejeki emang gak kemana, nanti aku pasti datang kok Nyai!" Jawab Kay dengan senyum mengembang sempurna.

"Ih... kamu malu-maluin aja sih," bisik Ayu pada Kay.

"Namanya juga rejeki, gak boleh ditolak kan Nyai?" Kata Kay minta pendukungan.

"Iya," sahut Nyai Roro sambil tersenyum.

"Ya udah, kami pamit dulu Nyai, Assalamu'alaikum," ucap Ayu sopan.

Ayu menarik tangan Kay keluar dari dapur, diikuti Lili.

"Malu-maluin aja sih kamu," tutur Ayu setelah keluar dari dapur Ndalem.

"Ya kan gue gak tau, lo sih gak ngasih tau gue," sanggah Kay balik menyalahkan Ayu.

"Ya kan kamu gak nanya," sahut Ayu tidak mau kalah.

"Udah gak usah diperpanjang lagi," kata Lili menengahi.

Membuat Kay dan Ayu diam.

Saat asyik berjalan sambil melihat sekitar, tiba-tiba pandangan Kay terhenti pada pohon mangga besar, kebetulan terletak di dekat pagar tembok yang tak jauh dari kolam ikan. Seketika satu ide pun muncul di benak Kay.

"Eh kalian duluan aja, aku kebelet nih," ucap Kay berbohong sambil memegang perutnya.

"Mau kita temenin?" Tanya Ayu takut Kay kenapa-kenapa.

"Gak usah gue bisa sendiri kok, lagian cuma ke WC doang," jawab Kay sesantai mungkin.

"Ya udah kami duluan, hati-hati Kay," kata Ayu lalu kembali ke asrama bersama Lili.

Kay pun melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang akan melihat aksinya. Jangankan pohon mangga, pohon kelapa pun bakal dia panjat asal bisa mengeluarkannya dari tempat ini.

"Aman," guman Kay dan segera berjalan mengendap-endap ke arah pohon mangga itu.

"Lumayan tinggi juga nih pohon," monolog Kay sambil melihat pohon mangga itu dari bawah sampai atas.

"Gue harus cari tangga nih,"batin Kay dan mulai mencari tangga.

Setelah lumayan lama mencari, akhirnya Kay melihat tangga kayu, yang bersandar di tembok dinding gudang.

Kay segera mengambilnya dan menaruh di batang pohon mangga. Sambil sesekali meliat sekitar saat dia mulai menaiki tangga

"Semoga masih kuat ini tangga," ucap Kay.

"Mati gak yah kalau gue loncat dari atas sini," pikir Kay setelah sampai di atas pohon mangga.

"Kalau mati nanti bonyok gue sedih, trus ada berita 'dikabarkan seorang santri wati tewas karena loncat dari atas pohon mangga, ia berniat kabur dari pesantren, tapi malah berunjuk kematian' kan gak elit plus malu-maluin," gumam Kay pelan.

"Mana perut gue laper lagi, atau gue kaburnya setelah makan malam aja kali ya? gue makan malem dulu di Ndalem trus baru deh kabur, apa lagikan sup ayamnya menggiur kan banget," monolog Kay sambil memegang perutnya dan membayangkan sup ayam buatannya tadi.

"Eh kalau nunggu makan malem keburu gelap, apa lagi ini udah senja, takutnya ada mbak kunti lagi di sini. Bisa-bisa gue gak jadi kabur," kata Kay lagi.

"Dah lah mending sekarang aja," putus Kay dan akan segera melompat.

"Kamu ngapai disitu?" Tanya seseorang, membuat aksi Kay terhenti.

"Mampus ketahuan lo Kay, harusnya tadi langsung loncat, gak mikir segala" batin Kay merutuki aksinya.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang