Setelah cukup lama mengendarai motor, akhirnya Kay telah sampai di depan pagar rumah. Bagaimana tidak lama dia melaju dengan kecepatan 30an saja, katanya sih sambil menikmati suasana sore.
"Yuhuuu Mang Didin tolong bukain pagarnya dong!" teriak Kay memanggil satpam yang berkerja dirumahnya.
"Mang Diiidiiiin!" teriak Kay lagi dan membunyikan klakson.
Tit tittttt
"Iya neng, iya sebentar!" sahut Mang Didin baru keluar dari pos jaga.
"Makasih Mang," ucap Kay setelah Mang Didin membukakan pagar untuknya dan langsung menancap gas menuju garasi.
_♡_
"Assalamu'alaikum, mama... anakmu yang cantik jelita paripurna datang!" Seru Kay nyaring setelah membuka pintu rumah.
"Aduh..., bisa gak sih Kay gak usah teriak sehari... aja!" Kesal Mama Kay yang sedang duduk di ruang tamu sambil menatap anaknya.
"Hehehehe..., udah kebiasaan ma," sahut kay mulai berjalan ke arah Mamanya.
"Ma, yang diomongin papa tadi gak benerankan?" Tanya Kay seraya menghempaskan badan ke sofa.
"Gak benerankan ma," ulang Kay menggoyangkan lengan Ranti.
"Kay, ini tuh demi kebaikkan kamu. papa juga udah daftarin ke pesantren milik kiai Jaya, dan besok kamu akan langsung mondok disana," jelas Mama Kay.
"Besok? cepet banget," protes Kay tidak terima.
Kay perlu istirahat! sudah mau di pondokan, masa tidak ada waktu leha-leha sebentar untuk menyiapkan mentalnya. Menurutnya ini tidak adil.
"Gak ada protes-protesan! lebih baik sekarang kamu ke kamar terus mandi, lalu beresin barang-barang buat pergi besok!" Titah Mama Kay.
"Iya deh...,Tapi... ma boleh gak kalau malam ini dateng ke party temen aku?" Tanya kay sedikit takut.
"Jam berapa acaranya?" Tanya Mama Kay balik.
"Sekitar setelah isyaan sih ma," jelas Kay.
"Mama gak izinin!" Balas Mama Kay.
"Tapi ma...," sedih Kay.
"Itu kemaleman Kay, gak baik anak gadis keluyuran malem-malem," tutur Mama Kay menasehati dengan lembut.
"Ya udah deh aku ke kamar dulu," sahut Kay Lesu dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
_♡_
"Ngeselin banget sih, udah dimasukkin ke pesatren, sekarang gak dibolehin ke party Kak Reno," oceh Kay seraya melempar tasnya ke kasur.
" huh...,Mandi dulu aja deh," monolog Kay dan pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit, akhirnya Kay selesai dengan ritual mandinya, ia keluar dengan pakaian santai tapi tidak mengenakan hijab lagi. Dia memakainya jika di luar rumah saja, atau saat ada tamu yang berkunjung. Beda dengan sang Mama, beliau selalu memakai hijab kapan pun. Kadang Kay mengira Mamanya itu ubanan jadi menutupinya.
"Huh segernya," monolog Kay dengen senyuman.
"Eh, gue harus ngabarin Bella nih kalau gak bisa dateng, nanti tuh anak malah nungguin gue jemput lagi, sekalian ngabarin Kak Reno" ucap Kay lalu mengambil ponsel yang ada dinakas dekat kasur dan berjalan menuju balkon kamar.
Setelah memberitahu dan sedikit berbincang-bincang sebentar dengan Bella dan Reno, Kay memilih duduk di kursi yang ada di balkon sambil menatap langit sore yang mulai menggelap.
"Udah mau maghrib aja," tutur Kay dan masuk ke kamar.
_♡_
"KAY AYOK TURUN KITA MAKAN MALAM!" teriak Mama Kay dari lantai bawah.
"IYA MA SEBENTAR!" Sahut Kay tidak kalah nyaring.
Setelah membereskan mukena dan sajadah, Kay pun segeran turun ke bawah untuk makan malam.
"Wihhh mantep nih ada ayam bakar," senang Kay lalu duduk di kursi meja makan.
"Papa mana ma?" Tanya Kay karna tidak melihat batang hidung sang papa.
"Lagi mandi, baru aja dateng dari kantor," jawab Mama Kay sambil menata meja.
"Owh," sahut Kay dan menyendok nasi lalu menaruhnya kedalam piring, begitu pun mamanya.
"Sini pa duduk, papa mau lauk apa?" Ucap Mama Kay melihat sang suami yang sudah datang, membuat Kay yang lagi menyendok ayam panggang juga ikut menatap papanya sebentar.
"Tumis kangkung sama telur balado aja ma," jawab Papa Kay seraya duduk di antara istri dan anaknya dengan posisi saling berhadapan.
"Yuk berdoa dulu!" Seru papa Kay dan memimpin do'a.
Tidak ada yang bicara saat makan, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu, sampai acara makan malam selesai. Karna tidak sopan saat makan malah mengobrol, katanya tidak menghormati makanan.
"Aku duluan mau tidur pa, ma," ucap Kay setelah selesai meminum susu hangatnya.
"Gak nunggu waktu sholat isya dulu?" Tanya papa Kay yang masih makan.
"Gak deh udah ngantuk soalnya," sahut Kay santai dan pergi meninggalkan ruang makan.
Yah itu lah Kay, dia sangat jarang Sholat, tapi kalau sholat maghrib dia tidak pernah absen. Kadang papanya harus ceramah panjang lebar supaya dia mau rutin sholat lima waktu, tapi namanya juga kay, bebal orangnya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, sampai-sampai Mamanya ingin merukiah, takutnya ada setannya.
"Anak Mama itu!" Ucap Papa Kay.
"Sory ya, anak Papa juga!" Balas Mama Kay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
