Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang tertinggal usai gerimis senja. Langit menggantung kelabu, dihiasi bintang yang malu-malu menembus celah awan. Suasana sepi merayap perlahan, hanya sesekali dipecah oleh suara hewan kecil dari semak-semak.
Di ambang pintu bangunan tua yang penuh debu dan cat yang sudah usang, seorang lelaki berdiri diam. Tubuhnya dibalut jaket kulit berwarna hitam, tangan dimasukkan ke dalam saku seolah mencoba mengusir dingin yang menyusup lewat pori-pori. Tatapannya kosong, namun dalam. Menembus pekat malam seolah mencari sesuatu yang telah lama hilang.
Sorot mata tajamnya sesekali memejam, bukan karena kantuk, melainkan karena kenangan. Udara malam ini terlalu akrab, terlalu mirip dengan malam-malam yang dulu—malam yang menyimpan janji, sekaligus kehilangan. Di balik sunyi, hatinya bergemuruh oleh suara-suara masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Di bawah cahaya lampu temaram dari pintu bangunan tua itu, bayangannya jatuh ke tanah seperti beban yang tak bisa diangkat. Lelaki itu masih berdiri, tak bergeming. Entah menanti sesuatu atau mungkin hanya mencoba berdamai dengan waktu.
Arkana Dmitriev Cakrawala. Pemilik sepasang mata elang berwarna biru tua, sedingin laut dalam, namun sesekali berkedip seperti menyimpan badai di balik ketenangan. Pandangannya tajam, menembus, seolah tahu lebih banyak dari yang seharusnya.
Tubuhnya menjulang tinggi, dengan bahu lebar dan tegap, seolah ia telah terbentuk dari batu yang diukir oleh waktu dan pengalaman. Rahangnya tegas, dengan garis wajah yang bersih dan terukir tajam, mempertegas kesan dingin yang memancar dari rautnya. Hidungnya mancung, berdiri kokoh di tengah wajah seolah menandai kekuatan karakter yang tak mudah digoyahkan.
Rambutnya hitam gelap dan dibiarkan acak-acakan, seperti tak sempat atau memang tak peduli untuk merapikannya. Ujung-ujungnya menggantung liar di dahi dan pelipis, memberi kesan pemberontak yang tak bisa dijinakkan.
Sudah hampir satu jam Arka itu berdiri di sana, namun ia belum juga beranjak. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, seorang lelaki lainnya menatap punggung Arka dengan sorot yang sulit diartikan.
Perlahan lelaki itu bangkit dan mensejajarkan posisinya dengan Arka.
Chandra Putra Aksara. Pemilik wajah tenang dan bibir yang senantiasa membentuk senyuman tipis, matanya mempunyai sorot hangat yang membuat orang lain merasa aman saat menatapnya.
Arka dan Chandra berdiri berdampingan di ambang pintu, membiarkan keheningan menekan berat di antara mereka. Udara dingin menyusup lewat celah-celah dinding yang sudah usang, seolah ikut mengiringi ketegangan yang tak terucap.
Chandra memecah diam dengan suara pelan, penuh kehati-hatian. “Gue denger dari guru-guru tadi kalo lo, Sandi sama Harsa tadi ribut lagi di belakang sekolah. Apa itu bener, Ar?”
Arka hanya mengangguk. “Masalah sekutu tim baske, gue rasa lo tau itu.”
Masalah tim basket adalah permasalahan yang tidak pernah terselesaikan karena kedengkian anak-anak tim basket dari tim lain yang tidak masuk dalam list persatuan tim basket besar sekolah kepada tim Arka yang masih menjadi tuan rumah di SMA Cempaka Putih.
Tapi Chandra tahu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perebutan tim basket sekolah. Ia menatap wajah Arka yang keras, mencoba menangkap retakan-retakan yang tersembunyi di balik sikap dinginnya.
Dan memang benar—Chandra mempunyai kepekaan yang jarang dimiliki orang lain. Ia bisa menangkap perubahan ekspresi kecil dan mendengar hal-hal yang tidak diucapkan.
"Kenapa gue ngerasa ada hal lain yang ganggu pikiran lo?” tanya Chandra, suaranya tetap tenang dengan rasa ingin tahu tapi tanpa tekanan.
"Cuman perasaan lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Dla nastolatkówArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
