Arsha menancap gas motornya dengan kencang, suara mesin menggeram sepanjang jalan seperti menggambarkan isi kepalanya yang juga tak karuan. Angin malam menghantam wajahnya, tapi tidak cukup dingin untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak.
Bayangan Arka tak mau pergi dari pikirannya-lengan yang terbalut perban, dahi yang diplester, langkah kaki yang agak tertatih seperti menahan nyeri. Semuanya menyisakan tancapan yang tajam dan menyakitkan di dalam hati Arsha. Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Tapi karena perasaan bersalah yang lama ia kubur kini mulai menggeliat dan menyerang balik.
"Apa aja yang udah gue lakuin buat dia selama ini," bisiknya sendiri, hampir tak terdengar di balik deru angin.
Waktu berjalan begitu cepat. Seolah baru kemarin Arsha masih menggandeng tangan kecil Arka yang polos, yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi. Adik kecil yang selalu bertanya ini-itu dengan mata berbinar, yang bangga memakai jaket olahraga kakaknya yang kebesaran, dan yang tertawa paling keras setiap Arsha menceritakan cerita fiktif tentang monster baik hati yang tinggal di kamar mereka.
Tapi sekarang, semua itu terasa seperti mimpi yang jauh. Adik kecil itu sudah tumbuh menjadi sosok yang dingin, penuh jarak, dan terlanjur tajam. Sosok yang menolak semua bentuk kasih sayang darinya. Sosok yang tidak hanya kehilangan arah-tapi seperti sudah membuang peta, dan memilih berjalan sendirian.
Arsha menahan napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Tapi kenangan lama terus menghantui. Terutama satu hal yang selalu membuatnya diam tak berkutik: Arka tumbuh tanpa ibu.
Dan ia tahu betul bagaimana hancurnya dunia Arka saat ibu mereka pergi terlalu cepat-saat Arka bahkan belum sempat menghafal wajahnya dengan utuh. Sejak saat itu, semuanya berubah. Ayah mereka yang makin sibuk dan keras, rumah yang makin sunyi, dan Arka yang pelan-pelan kehilangan arah, sendirian.
"Dia kehilangan ibu, kehilangan peran ayah, sekarang bahkan kehilangan diri dia sendiri," gumamnya dengan suara tercekat.
Arsha menggertakkan rahangnya. Bukan karena marah pada Arka. Tapi pada dirinya sendiri. Pada semua waktu yang tak bisa ia ulang. Pada kesalahan-kesalahan yang dulu terasa kecil, tapi kini menggunung menjadi jurang yang memisahkan mereka.
Ia tak pernah bermaksud meninggalkan Arka. Tapi dalam usahanya untuk menjadi yang dibanggakan oleh sang ayah, tanpa sadar ia malah pergi terlalu jauh. Dan saat ia menoleh, Arka sudah tumbuh jadi seseorang yang tak bisa lagi ia dekati dengan mudah.
Motor Arsha perlahan menepi di pinggir jalan, di bawah lampu jalan yang redup. Ia mematikan mesin dan melepas helmnya perlahan. Kedua tangannya menutup wajah, mengusap pelan.
"Apa gue masih bisa perbaiki semuanya?" tanyanya lirih pada udara malam. Tidak ada jawaban, hanya suara angin dan kesunyian.
Tapi jauh di dalam hatinya, Arsha tahu: ia tidak akan menyerah. Karena bagaimana pun dinginnya Arka, sekeras apapun adiknya menolak, ia adalah darah dagingnya. Adik kecil yang dulu selalu mengejarnya dengan tawa, yang sekarang hanya butuh satu hal-dipeluk kembali.
Malam baru saja turun ketika Arsha menghentikan laju motornya di depan gerbang besar rumah keluarga Dmitriev. Angin dingin menyapu pelan, tapi hawa dalam dadanya jauh lebih berat dan menusuk. Di balik kaca helm yang belum ia lepas, matanya menatap lurus ke arah tembok tinggi yang mengelilingi rumah megah itu. Rumah tempat ia tumbuh. Tempat ia belajar menjadi sempurna. Tapi malam ini, rumah itu terasa asing. Seolah-olah tak pernah menjadi tempat pulang.
Gerbang besi hitam perlahan terbuka otomatis setelah kamera sensor mengenali plat motornya, tapi seorang satpam paruh baya yang berjaga di pos kecil tak jauh dari situ masih sempat melirik keluar. Pak Darto-orang lama di rumah itu yang sudah mengenal Arsha sejak kecil-melangkah keluar sedikit dengan raut wajah khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
