Di depan ruang UKS, suasananya sudah nyaris seperti kerumunan penonton pertandingan final basket. Ramai, padat, penuh desakan ingin tahu, dan sesekali terdengar bisik-bisik tegang antar murid.
Beberapa anak dari tim basket berdiri di sisi kiri pintu, masih mengenakan jersey untuk bersiap latihan -mereka bahkan belum sempat memegang bola tapi langsung berlari begitu kabar tersebar soal Arka yang kecelakaan.
Amara berdiri di sisi kanan pintu UKS. Jemarinya sudah merah karena terus-menerus ia gigit pelan, kebiasaan lamanya yang muncul saat kecemasan menguasai.
Reska mencoba menenangkan Amara yang begitu gelisah. Ini membingungkannya. Amara terlihat sangat khawatir. Sangat. Tapi tidak ingin bertanya karena keadaan sekarang tidak cocok untuk melemparkan pertanyaan seperti itu.
"Ra, tenangin diri lo, okey?" Ucap Reska.
Pandangan Amara tidak lepas dari pintu putih yang setengah terbuka itu. Beberapa guru piket lalu-lalang, membuat suasana semakin tak menentu.
Di samping pintu, Arsha berdiri tegap seperti pengawal istana. Lengannya disilangkan, wajahnya masih tegang tapi tenang, menunjukkan sisi dewasa dan dominan yang jarang ia tunjukkan. Sesekali ia melirik ke dalam, memastikan adiknya mendapat penanganan yang tepat.
Tak jauh dari situ, Sandi terlihat sibuk menopang Harsa, yang tubuhnya seperti mulai oleng.
"Har, lo kenapa sih? Yang kecelakaan si Arka tapi gaya lo kayak orang lebih sekarat," celetuk Sandi sambil menahan lengan Harsa agar tetap berdiri tegak.
"Gue takut, panik, pusing, haus, campur semua," Harsa bergumam lemas sambil menempelkan satu tangan ke kening.
"Yaelah. Duduk dulu!" Sandi buru-buru menarik Harsa ke salah satu bangku panjang dekat pot besar.
"Kalo kayak gini terus, besok yang masuk UKS bukan cuma Arka."
Arsha mendengar dan hanya mendengus. Tapi sorot matanya tak pernah lepas dari dalam ruangan.
Amara akhirnya tak tahan lagi. Ia melangkah pelan mendekat ke pintu, lalu menoleh pada Arsha.
"Arsha, aku boleh izin masuk?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik.
Saat Amara berdiri di ambang pintu ruang UKS dan dengan suara pelan meminta izin untuk masuk, semua pasang mata yang tadi masih penuh cemas kini bergeser padanya. Terutama Reska, mata gadis itu membulat sempurna.
"What the hell?"
Tak hanya Reska, semuanya menatap heran, ada yang terkejut, bahkan ada yang mulai saling melirik seolah menyusun kepingan teka-teki dalam kepala masing-masing.
Arsha, yang berdiri seperti penjaga pribadi adiknya, hanya mengangguk sekali. Wajahnya datar, tapi matanya tampak menyetujui. Amara tak menyia-nyiakan waktu, ia langsung melangkah masuk.
Tapi detik berikutnya, keheningan kecil itu pecah oleh suara Sandi.
"Ehem! ibu bendahara OSIS kita khawatir banget sama kapten kayaknya."
"Iya tuh, gue gak salah liat?" sahut Harsa, duduk lemas di bangku, tapi mata langsung menyipit penasaran.
Sandi bersandar ke dinding, matanya mengarah ke pintu UKS. "Gue gak yakin, khawatirnya tu agak laen."
"Setuju." Harsa mengangguk. "Kayak- ada hubungan aja."
Beberapa anak tim basket yang berkumpul di pojok langsung ikut bergumam. Hal itu menarik perhatian Reska untuk melemparkan tatapan mengintimidasi.
"Gue juga ngerasa gitu. Kalian inget gak pas gotong royong lapangan kemaren?" Farel.
"Waktu dia anterin baju baru buat kapten, matanya kayak berbinar gitu, kan?" Gillbert.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
