Keesokan harinya, sudut kantin sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Meja panjang di dekat jendela—yang sudah seperti wilayah khusus anak basket—kembali dipenuhi suara tawa dan obrolan tak penting tapi selalu menghibur. Beberapa piring kosong, gelas es teh yang tinggal separuh, serta sisa jajanan pagi tergeletak di atas meja tanpa aturan. Ada aroma gorengan yang masih hangat bercampur dengan bau khas kantin yang tak pernah benar-benar hilang.
Sesuai dengan janji mereka kemarin, tidak ada lagi istilah telat. Tidak satu pun bangku yang kosong. Bahkan sebelum bel masuk berbunyi, mereka sudah berkumpul lengkap, memanfaatkan waktu istirahat ini sepenuh hati—seolah kantin adalah ruang bebas sebelum dunia kembali menuntut disiplin.
Niko berdiri di ujung meja, satu kaki naik ke bangku, tubuhnya condong ke depan seperti sedang tampil di atas panggung kecil. "Gue ulangi kronologinya!” katanya lantang, penuh semangat. “Pas dia dorong gue, gue tuh udah siap jatoh dengan elegan—EH MALAH KEPLESET!”
Harsa langsung menyambar tanpa ampun. “Elegan dari mana? Lo jatoh kayak karung beras dilempar dari truk!”
“TAPI KARUNG BERAS GUE MAHAL!” balas Niko tidak terima, wajahnya setengah kesal setengah malu.
Meja langsung berguncang karena tawa. Untungnya kantin masih relatif sepi—hanya beberapa siswa yang lalu-lalang membeli sarapan, sesekali melirik ke arah mereka dengan senyum geli.
Gilbert sampai menepuk-nepuk meja. “Seumur hidup gue main basket, baru kali ini gue liat pemainnya keguling kayak babi masuk oven panggangan!”
“Bukan keguling, gila!” Wajah Niko memerah padam. “Itu refleksi kecil karena serangan yang gak terduga!”
Harsa menyandarkan dagu di tangan, menatap Niko dengan ekspresi sok bijak. “Makanya siaga. Badan lo tuh bukan aset negara!"
“Lah, bukannya kemarin lo yang paling pengen berantem?” Niko menyipitkan mata.
“Itu demi harga diri tim!” Harsa menunjuk dadanya sendiri. “Beda cerita!”
Di tengah kekacauan itu, Arka duduk menyandar di bangku, kedua lengannya terlipat di dada. Wajahnya tetap datar, tatapannya dingin seperti biasa. Seragam yang biasanya tampak asal hari ini terlihat lebih rapi, meski masih tanpa atribut lengkap. Ia tidak banyak bergerak, tidak ikut berdiri, tidak ikut ribut—namun matanya mengikuti tiap candaan, tiap gerak berlebihan yang dilakukan teman-temannya.
Ia tidak tertawa terbahak. Hanya sudut bibirnya yang sesekali terangkat tipis—cukup untuk menunjukkan bahwa ia menikmati momen itu, walau tidak menunjukkannya terang-terangan.
Chandra duduk di samping Arka, minumannya sudah hampir habis. “Masih pagi,” katanya tenang, “tapi energi kalian kayak udah siap buat tawuran.”
“Lo semua kalau ketawa, volumenya gak inget tempat,” Arka akhirnya angkat suara. Nadanya pelan, datar, tapi jelas terdengar.
Sandi langsung menunjuk Arka. “Tuh kan! Kapten ngomel dikit berarti kita keterlaluan.”
“Gue bukan ngomel,” Arka melirik sekilas. “Ngasih peringatan.”
“Nadanya aja kayak mau briefing militer,” Harsa terkekeh.
Chandra tersenyum kecil. “Tapi jujur,” katanya sambil menoleh ke Arka, “lo kelihatan lebih santai hari ini.”
Arka tidak langsung menjawab. Pandangannya melayang ke luar jendela kantin, ke arah lapangan yang terlihat samar dari kejauhan—kosong, tenang, kontras dengan riuh di dalam kantin. “Mungkin,” katanya singkat.
Sandi menyeringai, jelas sudah menyiapkan topik baru di kepalanya. “Pasti ada hubungannya sama ibu bendahara nih.”
Darren langsung ikut-ikutan. “Wih, topik seru!”
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Novela JuvenilArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
