10

354 127 18
                                        

Langkah Harsa masih terdengar tergesa saat ia menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor yang biasanya ramai kini mulai lengang-jam pulang hampir tiba, menyisakan suara sepatu yang sesekali beradu dengan lantai dan gema napasnya sendiri. Di ujung lorong, dekat aula dan deretan ruang musik, langkahnya melambat.

Matanya langsung tertuju pada satu loker.

Kunci itu menggantung manis di pintu loker miliknya.

Harsa berhenti mendadak, lalu menunduk sambil menghela napas panjang. "Akhirnya, untung aja gak ilang," gumamnya lirih, seperti baru lolos dari hukuman seumur hidup.

Ia menyentuh kunci itu sejenak, memastikan ini nyata, lalu memutarnya dengan hati-hati. Pintu loker terbuka.

Jersey basket kesayangannya terlipat rapi di dalam. Harsa mengambilnya, menepuk-nepuk kainnya seolah memastikan benda itu baik-baik saja. Baru saat itulah dadanya terasa benar-benar lega.

Namun ketika ia hendak menutup pintu loker-

Terdengar alunan musik.

Bukan keras. Bukan juga mengagetkan. Sebuah lagu diputar dari ponsel dengan volume rendah, lembut, nyaris menyatu dengan udara sore yang tenang. Denting nadanya mengalir pelan, diiringi suara seseorang yang bernyanyi mengikuti melodi.

Suara itu halus. Tenang. Hangat.

Harsa terdiam.

Tangannya masih menggenggam pintu loker yang setengah tertutup. Kakinya membeku di tempat. Ia menoleh pelan ke arah sumber suara-dari balik pintu aula musik yang sedikit terbuka.

Nyanyian itu tidak berusaha pamer teknik. Tidak juga berlebihan. Justru terdengar jujur, seperti seseorang yang bernyanyi untuk dirinya sendiri. Nada-nadanya mengalun ringan, membuat koridor yang sepi terasa hidup.

Ada sesuatu di suara itu yang membuat dada Harsa menghangat tanpa alasan jelas. Seperti sore yang tiba-tiba jadi lebih teduh. Seperti napas panjang setelah hari yang melelahkan.

Harsa menelan ludah, lalu menutup pintu lokernya perlahan-hampir tanpa suara. Ia melangkah mendekat, pelan, seolah takut jika langkahnya terlalu keras akan merusak momen itu.

Di depan aula musik, ia berhenti.

Nyanyian itu masih berlanjut, lembut dan konsisten, mengisi ruang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya hari itu, Harsa tidak terburu-buru.

Ia berdiri di sana, mendengarkan.

"Wow,"

Dan tanpa ia sadari, senyum kecil terbit di sudut bibirnya-hangat, ringan, dan sama sekali tidak panik seperti beberapa menit lalu.

Seorang gadis bertubuh kecil duduk di salah satu kursi paling depan. Wajahnya dari samping terlihat begitu manis. Ia tidak menyadari jika seseorang tengah menatapnya dan menunggu hingga alunan lagu terakhir.

Setelah itu, suara tepuk tangan menggema ke seluruh ruangan. Itu harsa dengan wajah bangga dan terpesona.

"Keren, suara lo bagus banget!"

Gadis kecil itu menoleh terkejut, sedetik kemudian ia membuang wajahnya dan merapikan perlengkapan ke dalam tas tanpa memperdulikan harsa yang kini duduk di atas meja, di dekat posisinya.

"Eh, tapi," lanjutnya, santai. "Lagu yang lo nyanyi barusan tuh kayak gak asing. Gue ngerasa pernah denger, tapi lupa. Itu lagu judulnya apa sih?"

Tidak ada jawaban.

Gadis itu menutup tasnya dengan ritsleting keras, menyampirkannya ke pundak, lalu berdiri.

"Oke, berarti jawabannya rahasia negara," gumam Harsa terkekeh kecil.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang