36

322 55 14
                                        

Malam harinya, Arka keluar dari kamarnya di lantai dua dengan pakaian santai. Hanya celana hitam pendek di atas lutut dan kaos putih polos yang pas di badannya, memperlihatkan bahu dan lengan yang terbiasa latihan. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah ia baru saja selesai mandi. Ponsel tergenggam di tangan kanannya.

Langkah kaki Arka memecah keheningan di lantai bawah. Suasana ruang keluarga terasa lengang, hanya diterangi lampu utama yang temaram.

Di meja depan sofa, Chandra duduk dengan posisi sedikit membungkuk. Di hadapannya berserakan banyak lembar kertas, map OSIS berwarna cokelat, dan beberapa catatan kecil yang tampak sudah dicoret-coret. Tidak akan pernah selesai rasanya.

Di sofa sebelah, Sandi terlihat fokus bermain game di ponselnya. Jempolnya bergerak cepat, sesekali diiringi gumaman kesal dan umpatan kecil yang ditahan. Berbeda dengan mereka, Harsa tidak ikut ribut. Lelaki itu duduk santai, satu kaki disilangkan, senyum kecil tak lepas dari wajahnya saat menatap layar ponsel.

Arka menghampiri mereka dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping Chandra.

“Ar,” panggil Chandra sambil mendorong satu lembar kertas ke arahnya tepat saat Arka duduk. “Tadi Bu Raisa nitip lembar jawaban kuis kimia lo ke gue.”

Arka tidak langsung mengambil kertas itu. Ia hanya meliriknya sekilas, lalu menatap Chandra dengan ekspresi serius—datar seperti biasa.

Belum sempat Arka bereaksi lebih jauh, rasa kepo Sandi langsung menang. Ia mematikan ponselnya, bergerak cepat, lalu merebut lembar jawaban itu dari meja.

“Eh, San—” Chandra belum sempat menegur.

Mata Sandi membulat begitu melihat angka yang ditulis dengan pulpen merah di sudut kertas.

“What—whatan ini?!” Sandi refleks berdiri setengah. “Serius lo, Ar? Di antara dua puluh soal, lo cuma salah dua biji doang?”

Harsa yang sejak tadi setengah mendengarkan langsung menoleh. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia meraih kertas itu dari tangan Sandi, mendekatkannya ke wajah seolah ingin memastikan tidak salah lihat.

“Oh my God,” gumamnya. “Pelajaran kimia lo dapet nilai segini? Nyontek sama siapa lo, hah?”

Chandra tertawa kecil sambil menggeleng. “Come on, San, Har,” katanya santai. “Kulkas kayak dia nyontek ke orang? Jelas itu nilai murni Arka. Bu Raisa tadi juga muji kemampuan lo, Ar. Dia kaget pastinya.”

Arka akhirnya mengangguk kecil. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya—tapi cukup untuk menunjukkan rasa bangga yang tidak ia pamerkan.

Sandi menghela napas frustasi, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. “Ah, shibal,” keluhnya. “Gue lupa lagi kalo Arka itu tuan muda Dmitriev yang lagi mode vakum. Hidup ini gak adil, sumpah!"

Harsa menimpali sambil terkekeh, masih memegang kertas itu. “Lo pasti udah sadar kapasitas otak lo itu turunan dari seorang CEO kelas atas. Curang ah, genetiknya kebangetan.”

Chandra kembali tertawa, geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar selalu bisa menemukan celah untuk menggoda Arka—apa pun situasinya.

Arka hanya mendengus pelan.

“Gila ya,” katanya sambil mendongak ke langit-langit. “Hidup gue tuh selalu di zona abu-abu. Nilai kimia gue? Pas pasan. KKM tujuh lima, ya dapetnya tujuh lima.”

Harsa tertawa pendek, tapi senyumnya cepat berubah masam. Ia ikut menyandarkan kepala ke sandaran sofa.
“Lo mending,” sahutnya. “Gue tuh kadang tujuh enam, kadang balik tujuh lima.”

Sandi menoleh cepat. “Nah itu! Setuju banget. Kita ini pejuang KKM, Har. Terlalu pinter buat remedial, terlalu bego buat dibanggain.”

Chandra melirik mereka sambil masih merapikan map. “Kalian tuh harusnya bersyukur masih lolos kan,” katanya sambil tertawa kecil. “Coba bayangin yang remedial.”

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang