HALTE TUA DI PINGGIR JALAN RAYA -
Langit runtuh dalam hujan. Derasnya membuat suara kendaraan yang lewat terdengar seperti mimpi yang tergesa. Genangan mulai mengalir pelan di tepi jalan, menciptakan sungai kecil yang memantulkan warna lampu-lampu kota. Di tengah semua itu, hanya dua orang yang diam-seperti potrbet bisu yang disematkan dalam frame waktu yang tak berjalan.
Arka duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Bahunya sedikit membungkuk, bukan karena lelah, tapi seperti sedang menahan sesuatu yang berat di dalam dada. Jaket jeans yang dikenakannya sudah basah dan menggelap warnanya, ujung celana panjang warna ivory-nya ternodai lumpur tipis. Air menetes dari rambutnya, jatuh satu per satu ke lantai halte. Namun ia tak bergeser.
Ia membiarkan dingin menempel, meresap perlahan-seolah tubuhnya sedang menyerapnya, membiarkannya menembus kulit hingga ke tulang.
Beberapa meter darinya, Amara duduk lebih dulu. Awalnya ia tak menyadari apa pun. Suara hujan terlalu riuh, suara mesin motor yang mendekat terdengar seperti bagian dari kebisingan biasa.
Sampai suara itu berhenti. Sampai langkah kaki berat terdengar, lalu terhenti tepat di dekatnya.
Amara tersentak kecil. Bahunya menegang, lalu ia menoleh.
Dan seketika matanya membelalak.
"Arka?"
Arka tidak langsung merespons. Pandangannya masih lurus ke depan, seakan memerlukan waktu untuk memastikan bahwa suara itu nyata. Tiga detik berlalu-cukup lama untuk membuat Amara ragu pada apa yang ia lihat-sebelum akhirnya Arka memalingkan wajahnya sedikit.
"Hm," jawabnya pelan. Suaranya rendah, hampir tak terdengar di antara deru hujan.
Amara menunduk cepat, menyembunyikan keterkejutannya dalam senyum kecil yang canggung. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia tak pernah membayangkan akan bertemu Arka di halte ini-di tempat yang seharusnya netral, di waktu ketika pikirannya sedang kosong, dan hujan turun seolah ikut berdiam bersamanya.
Ia melirik ke samping. Arka duduk sekitar tiga jengkal darinya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menangkap napasnya yang pelan dan teratur, cukup dekat untuk menyadari bahwa ia sama basahnya.
Hening kembali jatuh di antara mereka.
Bukan hening yang nyaman, melainkan jeda yang sarat oleh hal-hal yang tak diucapkan.
Amara menggenggam tali tas kecilnya, jari-jarinya sedikit bergetar. Ia menarik napas, lalu bicara lebih dulu.
"Kamu kehujanan juga?" Nada suaranya lembut, ada getar tipis yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan.
Arka mengangguk pelan, masih tanpa menoleh. "Iya."
Satu kata. Datar. Tapi cukup.
Amara mengangguk kecil, seolah jawabannya memang sudah ia duga. Ia tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan agar suasana tidak runtuh sepenuhnya.
"Kirain cuma aku," katanya lirih. "Hujannya tiba-tiba banget."
Arka tidak menanggapi. Ia hanya menggeser sedikit posisi duduknya, air menetes dari ujung jaketnya ke lantai.
Amara kembali meliriknya, ragu sejenak sebelum melanjutkan.
"Kok bisa sampai sini?" tanyanya pelan. "Seinget aku, ini bukan jalur pulang kamu biasanya."
"Cuma kebetulan lewat," jawab Arka singkat. Nada suaranya tetap rata, nyaris tanpa emosi.
Amara mengangguk lagi, meski ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak sepenuhnya percaya pada kata kebetulan. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar kikuk di telinganya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Fiksi RemajaArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
