Keesokan paginya, langit terlihat cerah, burung berkicau dan tiga motor sport meluncur dengan kecepatan konstan menuju sekolah. Suara mesin motor meraung pelan di parkiran siswa. Tiga kendaraan sport berhenti bersisian, dan turunlah tiga pemuda dengan gaya khas mereka—bad boy tapi bukan penjahat, rebel tapi tetap lulus.
Arka berjalan paling depan, jaket terbuka menampakkan seragam yang setengah dikancing. Di belakangnya, Sandi sudah sibuk mengunyah biskuit, dan Harsa menggulung lengan bajunya sambil bersenandung kecil.
“Suasana sekolah tiap abis bel masuk sepuluh menit tuh seger banget.” celetuk Harsa.
“Betul! Kayak ada manis-manisnya gitu loh,” timpal Sandi sambil duduk santai di tembok kecil dekat lorong belakang sekolah—jalur rahasia para siswa berdosa waktu.
Arka menambahkan dengan nada datar tapi tajam, “Manis kalo lo pinter ngelak dari guru piket.”
"Kan ada lo!” sahut Sandi sambil mengangkat biskuitnya ke udara. “Arka the Great.”
Jam sudah menunjukkan pukul 07:10 pagi. Di saat siswa lain sibuk berjajar rapi di kelas dengan buku pelajaran di atas meja, tiga siswa legendaris justru baru selesai menyeruput teh botol dan makan roti isi di balik pagar sekolah.
Arka duduk bersandar santai di kursi plastik reyot, menatap ke arah pohon besar yang menjulang di ujung halaman kantin. Pandangannya tenang, tapi matanya tahu arah.
Sandi masih mengunyah roti sambil membuka ponsel.
Harsa, dengan gaya setengah rebah di meja, menguap keras.
“Hidup cuma sekali,” gumam Harsa, “Gak menantang kalo gak langgar aturan."
Sandi tertawa. “Kan aturan dibuat buat dilanggar.”
Arka berdiri, menarik lengan jaketnya sedikit ke atas, lalu melangkah santai menuju pohon besar di belakang kantin.
Di balik batang pohon itu—tertutup semak dan sengaja dilapisi papan triplek lusuh—tersembunyi tangga besi tua, agak berkarat, tapi masih kokoh. Tangga itu mengarah ke pagar beton belakang sekolah, tempat anak-anak underground biasanya menyusup masuk ke dalam area tanpa ketahuan.
“Sekarang banget nih, Ar?” tanya Sandi sambil menyelipkan roti ke saku seragam.
Arka menoleh sekilas. "Gue sekarang, lo terserah.”
Harsa merapat sambil meregangkan bahu. “Oke, operasi ‘Masuk Tanpa Deteksi’ dimulai!”
Arka naik tangga duluan, lalu dengan satu lompatan ringan dan presisi, ia mendarat di balik pagar sekolah, tepat di dekat taman kecil belakang gedung.
“Landing bersih. Zero suara. Point seratus!" celetuk Sandi yang menyusul naik dan nyaris terpeleset. Tapi tetap sukses mendarat meski dengan gerakan seperti mau split.
“YA AMPUN JANTUNG GUE—” teriaknya lirih sambil berdiri sempoyongan. “Gue lupa tadi sepatu gue solnya aus.”
Harsa menyusul terakhir, tapi bukannya lompat langsung, ia malah duduk di atas tembok dan memantau situasi.
“Gue kayaknya bakal jatoh deh ini,” katanya. “Lo berdua kalau gue benjol, pura-pura gak kenal aja, ya.”
“Deal,” jawab Arka dan Sandi bersamaan.
Akhirnya, Harsa juga mendarat. Agak goyah. Tapi sukses.
Mereka bertiga langsung menyusup di balik semak dan menyusuri jalur belakang menuju tangga darurat dekat lab Biologi. Tak ada satu guru pun terlihat—semua sedang fokus ke ruang guru atau halaman depan.
Sandi tersenyum puas. “Misi sukses. Bersih. Gak ada saksi. Kita emang profesional!"
Tapi tepat saat Sandi menutup kata-katanya dari balik lorong yang mengarah ke gedung B, muncul sosok legendaris berkacamata tebal dengan clipboard di tangan dan senyum mematikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
