3

654 245 65
                                        

Deru mesin motor satu per satu mereda, meninggalkan bunyi knalpot yang masih panas dan tarikan napas terengah-engah. Asap tipis mengepul pelan dari tiga motor yang berhenti nyaris bersamaan tepat di depan gerbang utama sekolah, seolah mereka sengaja menandai kedatangan dengan sedikit drama.

Pagi itu sekolah sudah ramai, tapi gerbang justru tertutup rapat. Gembok besar menggantung dingin di besinya. Di sampingnya, pak satpam berdiri dengan tangan menyilang di dada, postur waspada, tatapan curiga langsung mengarah ke sumber kebisingan. Alisnya berkerut begitu mengenali siapa saja yang datang dari arah barat dengan gaya khas mereka—terlambat, berisik, dan tanpa rasa bersalah.

Arka turun lebih dulu. Jaket hitamnya dikibaskan asal dari pundak, rambutnya sedikit berantakan, tapi ekspresinya tetap datar. Tatapannya tajam, malas, dan sama sekali tidak memancarkan penyesalan. Seolah telat adalah rutinitas yang sudah terlalu biasa untuk dipermasalahkan.

Di belakangnya, Sandi dan Harsa justru masih tertawa lepas. Helm sudah dilepas, jaket setengah terbuka, dan obrolan mereka masih berkutat pada balapan kecil yang baru saja mereka lakukan di jalan.

“Parah sih,” Sandi mendecak sambil melirik gembok gerbang. “Telat dikit doang, langsung digembok. Baru juga niat mau jadi murid teladan hari ini.”

Harsa terkekeh, lalu menoyor bahu Sandi ringan. “Sejak kapan lo punya niat jadi murid teladan, San?”

“Eh, jangan salah! Setiap orang itu bisa berubah,” balas Sandi sok serius, meski ujung bibirnya tetap naik. “Minimal ya berubah niat dulu.”

Arka hanya melirik sekilas ke arah mereka, lalu memalingkan wajah. Tidak ikut tertawa, tidak juga menegur. Ia berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku jaket, menunggu dengan ekspresi bosan.

Tawa Sandi dan Harsa terputus ketika langkah berat mendekat. Pak satpam menghampiri mereka dengan wajah yang jelas tidak ramah.

“Kalian lagi, kalian lagi,” gumamnya, geleng-geleng kepala. “Serius ini tiap pagi rasanya saya ketemu muka kalian terus?”

Ia mengangkat tangan, menunjuk jam di pergelangan. “Lihat udah pukul berapa? Udah lewat jam masuk. Ini tuh gerbang sekolah, bukan pintu kafe yang open close sesuka hati.”

Sandi nyengir, mencoba meredam situasi. “Ya maaf, Pak. Jalanan tadi rame banget. Lampu merah juga kayak ada dendam sama kita.”

Pak satpam mendengus. “Alasan kamu udah gak mempan buat saya, Sandi. Kalo masih niat sekolah, besok datang lebih pagi. Jangan nunggu gerbang digembok dulu baru nongol.”

Arka melangkah maju setengah langkah. Ia tidak suka dipojokkan, tapi juga malas memperpanjang debat. Tatapannya lurus ke arah satpam, suaranya rendah dan datar.

“Kami cuma telat, Pak. Masih mau masuk kok.”

Nada bicaranya tenang, tapi ada ketegasan dingin yang sulit diabaikan. Pak satpam hendak membalas, ketika dari arah dalam halaman sekolah terdengar langkah kaki mendekat—teratur, tenang, dan kontras dengan suasana di gerbang.

Seorang siswa berseragam rapi muncul. Dasi terpasang sempurna, kemeja disetrika halus, dan lencana OSIS berkilau di dada kiri.

Chandra.

Langkahnya mantap, posturnya tegap. Matanya menyapu cepat situasi di depan gerbang—gembok, pak satpam yang bersungut-sungut, dan tiga sahabatnya yang berdiri santai seolah ini bukan masalah besar. Ia tidak terlihat terkejut. Justru ekspresinya menunjukkan kelelahan tipis yang familiar, seperti seseorang yang sudah sering menghadapi adegan serupa.

Ada rasa canggung yang menyelinap di dadanya. Setiap kali melihat Arka dan yang lain datang terlambat, perasaan itu selalu muncul—antara ingin menegur dan ingin melindungi.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang