29

224 64 68
                                        

Minggu pagi menyapa SMA Cempaka Putih dengan udara yang sejuk dan matahari yang menggantung malu-malu di langit biru pucat. Hawa hangat menembus pelan dedaunan yang menari tertiup angin, memberikan sentuhan lembut pada lapangan basket yang terletak di sisi timur sekolah. Di dekat taman yang mulai ramai oleh anak-anak ekskul yang bersiap latihan, sekelompok siswa OSIS berkumpul dalam lingkaran santai namun penuh semangat.

Tak ada satupun dari mereka yang mengenakan seragam sekolah. Hari itu, pakaian mereka beragam, menunjukkan sisi personal yang biasanya tersembunyi di balik jas OSIS.

Amara mengenakan blouse putih longgar dengan celana kain krem, rambutnya diikat separuh ke belakang dengan jepitan kupu-kupu mungil yang jadi ciri khasnya. Chandra tampil rapi seperti biasa dengan kaos abu muda polos dan celana hitam bersih. Arsha, si wakil ketua yang tenang, mengenakan hoodie biru dongker dan jeans biru gelap, duduk dengan kaki menyilang, tetap terlihat sopan meski kasual.

Sementara itu, Reska-dengan hoodie oversized bertuliskan Not Today dan celana training robek di lutut-tengah selonjoran di pinggir lapangan sambil menyesap cup es teh jumbo dari kantin. Sandalnya terlempar entah ke mana, dan dia terlihat seperti sedang liburan ketimbang ikut rapat OSIS.

Beberapa map warna-warni terbuka di atas bangku panjang yang mereka jadikan meja darurat. Kertas-kertas bertumpuk, ada yang sudah ditandai stabilo, ada pula yang masih kosong menanti pemeriksaan.

Arsha bangkit dari duduknya dengan gerakan tenang lalu berjalan ke arah Amara. Langkahnya tidak tergesa, khas gaya santai anak minggu pagi yang belum sepenuhnya melepaskan rasa ngantuk.

"Ra," panggilnya pelan, "Gue kurang paham aturan ballet. Tukerin aja sama daftar ekskul lain."

Amara menoleh sambil mengangguk, wajahnya tetap kalem. "Kalo badminton?"

Arsha meneliti daftar baru yang disodorkan. Matanya menyapu baris nama-nama yang lebih familiar, kemudian ia mengangguk. "Boleh."

Setelah menyerahkan daftar itu, Amara menggeser pandangannya ke Reska yang tengah berusaha menyeimbangkan cup es tehnya di lutut sambil mengutak-atik ponsel.

"Res, nanti kamu urus peserta ballet, ya," ucapnya.

Reska menoleh setengah, mengangkat dua jari dalam pose peace sambil tetap selonjoran. "Aman itu."

Chandra, yang sedari tadi berdiri memeriksa daftar pemain basket, meletakkan map itu dan mengambil berkas peserta club band. "Ekskul musik gak ada yang daftar?" tanyanya sambil mengangkat alis.

Amara menggeleng lemah. "Kalo itu tiap semester emang sepi peminat, Chan. Padahal ruang musik sekolah kita udah lengkap dan keren banget sekarang."

Chandra menghela napas dan duduk di bangku taman, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kayu yang mulai hangat terkena sinar matahari. "Tapi gue yakin pasti ada yang berbakat disini, cuma belum muncul sekarang."

Arsha mengangguk setuju, jarinya masih menelusuri nama-nama peserta ekskul. "Mungkin kita perlu bikin showcase ke depannya. Siapa tau bisa narik minat. Jangan sampe ruang musik yang udah direnovasi malah gak kepake."

Reska, tanpa dosa, mengangkat tangan sambil berkata santai, "Kayaknya gue cocok deh masuk kelas musik. Suara gue tuh bagus, merdu, lembut-lembut gimana gitu."

Ketiganya serempak menoleh. Sunyi. Lalu Arsha berkata datar tanpa mengangkat wajah, "Jangan kamu, Res. Yang ada detik itu juga kelas musik ditutup sama kepala sekolah."

Amara tak bisa menahan tawa, sementara Chandra menoleh ke arah lain dan tertawa dalam diam. Reska memutar bola matanya, menatap langit, lalu menatap Arsha dengan lirikan menyebalkan.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang