Musim hujan datang tanpa banyak peringatan. Awan menggantung rendah hampir setiap pagi, dan angin dingin membawa aroma tanah basah yang akrab. Di parkiran sekolah, deretan motor siswa tak jarang tumbang tertiup angin. Beberapa siswa mulai mengikat kendaraan mereka dengan tali seadanya—usaha percuma, tapi setidaknya terlihat niat.
Udara dingin menyelinap ke sela-sela seragam siswa yang belum kering sepenuhnya sejak perjalanan pagi. Langit mendung bergelayut berat, seakan menahan hujan yang lebih besar. Tapi perhatian semua orang bukan tertuju ke atas langit, melainkan ke bawah, ke arah lapangan basket sekolah mereka—tempat yang dulunya hidup dan kini porak-poranda.
Batang pohon besar yang tercabut dari akarnya akibat badai semalam menimpa lapangan basket utama. Dahan dan ranting-ranting yang tak kalah besar berserakan hingga ke tribun penonton. Beberapa bagian tribun tampak retak parah, bahkan tiang penyangganya mulai miring. Daun dan serpihan kayu memenuhi jalur lintasan siswa. Sungguh pemandangan yang asing dan memilukan bagi mereka yang menjadikan lapangan itu rumah kedua.
Di tengah barisan kecil yang berdiri di bawah gerimis, Chandra dan Arsha berdiri paling depan—keduanya mengenakan seragam OSIS lengkap, rapi seperti biasa, meskipun ujung celana mereka basah karena air menggenang. Di tangan mereka masing-masing, payung hitam terbuka tegak, menjaga tubuh mereka dari gerimis yang belum berhenti. Wajah mereka tak menunjukkan kaget, melainkan serius dan penuh pertimbangan. Seperti biasa, keduanya selalu tampil profesional, bahkan di tengah situasi darurat.
Beberapa guru laki-laki ikut berdiri bersama mereka, berdiskusi cepat tentang langkah yang harus diambil. Suara arus air hujan mengalir di saluran got, berpadu dengan suara berat salah satu guru yang bicara sambil menatap dahan pohon yang melintang di atas garis tiga poin.
"Ini memakan waktu cukup lama," gumam Chandra sambil menatap batang pohon yang setebal pelukan manusia dewasa. “Kayaknya kita butuh pemadam atau tim dari pusat.”
Arsha mengangguk. "Pohonnya patah sampe akar. Tribun juga bisa ambruk kalau dipaksa pake.”
Chandra menatap ke arah tribun dengan ekspresi serius. Matanya menyapu kondisi sekitar dengan cermat, seperti mencoba menghitung berapa kerusakan yang harus segera ditangani.
"Sayang banget,” gumam salah satu anggota OSIS lainnya dari belakang. “Padahal sekolah kita mau lomba basket antar kelas bulan depan.”
Chandra akhirnya berbicara, suaranya datar tapi terdengar jelas. “Kalo gak cepet diberesin, tribun bisa ambruk kapan aja. Itu lebih bahaya.”
Chandra mengangguk pelan, lalu melirik ke Arsha yang sudah lebih dulu memotret kondisi lapangan dengan ponselnya.
“Gue akan share ini ke Kepala Sekolah. Kita butuh penanganan dari luar. Ini di luar kapasitas siswa dan guru,” kata Arsha dengan nada tenang namun tegas.
Dari kejauhan, dari balik lobi lantai bawah gedung utama, berdiri Amara, Reska, dan beberapa guru perempuan lainnya. Mereka menatap situasi dari jauh, aman di bawah atap beton lobi, tapi ekspresi mereka tak kalah cemas.
Reska, seperti biasa, sudah bawel sejak sampai ke sekolah.
“Lapangan kita hancur total! Kayak habis kejatohan meteor, kasian banget.” katanya sambil memeluk map OSIS yang basah setengah.
Amara, yang berdiri di sampingnya, mengangguk pelan. “Padahal bentar lagi sekolah kita mau ngadain tanding basket. Gimana anak tim basket kita bisa latihan kalo udah begini,"”
Sementara Reska memperhatikan dua sosok tegap di bawah gerimis.
“Gila sih. Gua salut juga. Chandra sama Arsha bener-bener partner yang siap pasang badan kapan aja,” gumam Reska, kali ini lebih tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Novela JuvenilArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
