39

3 1 0
                                        

Arsha dan Reska akhirnya melangkah menjauh dari keramaian anak-anak basket. Suasana di area stan terasa berbeda—lebih padat, lebih berwarna, dan dipenuhi suara tawar-menawar yang bercampur tawa pengunjung lain. Lampu-lampu kecil menggantung di tiap sudut, memantul di permukaan barang-barang pajangan yang berjejer rapi.

Reska langsung melambatkan langkahnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, matanya berbinar melihat deretan stan dengan berbagai gantungan tas, aksesoris, boneka kecil, hingga pernak-pernik lucu yang tersusun rapat.

“EH, LIAT ITU!” Reska spontan menarik lengan Arsha. “Itu yang gue incer!”

Arsha nyaris terseret satu langkah sebelum tertawa kecil. “Sabar, Res. Stannya gak bakal kabur kok,”

Reska mendekat ke salah satu stan.

Arsha berdiri di sampingnya, membiarkan Reska sibuk sendiri. Pandangannya sesekali menyapu sekitar—keramaian, suara orang-orang, lalu kembali ke Reska yang tampak begitu menikmati momen kecil itu.

Reska menunjuk beberapa gantungan tas berbentuk karakter, nyaris melompat kecil di tempat. “EH—OH MY GOD!” serunya heboh. “LUCU BANGET IH! BENTUK SHINCAN LAGI!”

Arsha yang tadinya berdiri setengah langkah di belakang ikut mendekat, melirik ke arah yang ditunjuk Reska. “Lo mau yang mana?” tanyanya akhirnya, nadanya santai. “Ambil aja. Vouchernya masih banyak.”

Reska menoleh cepat, matanya membesar. “Beneran?”

Tanpa nunggu jawaban, ia langsung kembali menunduk ke pajangan, tangannya sibuk memilah satu per satu. “Aduh, susah banget gue milih!” keluhnya dramatis. “Semuanya tipe gue banget lagi!”

Melihat Reska yang makin kalap, Arsha akhirnya angkat suara dengan nada tetap tenang. “Yaudah, borong aja semua.”

Reska langsung menoleh cepat, refleks. “Gila lo!” katanya spontan. “Mau gue apain sebanyak ini?”

Arsha terkekeh kecil, lalu kembali menatap gantungan-gantungan itu seolah sedang menilai barang serius. “Tadi lo bilang susah milih,” katanya lebih pelan. “Yaudah, ambil semua aja. Biar gak ribet.”

Reska melirik gantungan di tangannya, lalu ke stan, lalu balik lagi ke Arsha dengan ekspresi nggak habis pikir.
“Enteng banget itu mulut,” lanjutnya. “Gue tau duit lo banyak. Tapi gak buat beli gantungan semua juga kali.”

Ia menunjuk ke arah stan lain yang lebih ramai. “Tuh, masih banyak gebrakan yang belum gue liat!"

Arsha mengangkat bahu, ekspresinya tetap santai. “Ya kalo lo suka, gue sih gak masalah.”

Reska mendengus pelan, setengah kesal, setengah geli.
“Iya deh,” katanya sambil menggeleng. “Yang sultan mah beda.”

Pandangan Arsha lalu tertarik pada satu gantungan berbentuk karakter kecil bermata besar dengan ekspresi galak. Ia menunjuknya. “Ini mirip lo.”

Reska langsung menoleh. “Hah?”

“Bentuk Jadoo,” lanjut Arsha. “Kartun yang hobinya marah-marah itu.”

Reska menyipitkan mata, tatapannya tajam.
“Lo ngatain gue?” Ia mengambil gantungan itu, mengamatinya. “Selera lo parah.”

“Kan gue cuma bilang mirip sifatnya,” balas Arsha enteng. “Bukan orangnya.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan tanpa banyak ekspresi, “Lo lebih cantik.”

Reska membeku satu detik. Ia menoleh cepat. “Lo ngomong apa barusan?”

Arsha menatapnya sekilas. “Lo budeg.”

Reska refleks nyengir, lalu langsung nyolot. “Sialan lo! Nyebelin banget jadi orang.”

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang